Pengorbanan Adalah Bukti Kamu Cinta

by admin aluyeah
Pengorbanan Adalah Bukti Kamu Cinta
Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang halim (cerdik dan bijaksana). 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ 

Ia menjawab: ‘Hai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). 

Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. 

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 100-109)

Penjelasan beberapa mufradat ayat

Seorang anak yang cerdik dan bijaksana.

Yang dimaksud adalah di saat dia dewasa, dia memiliki sifat ini. Para ulama berbeda pendapat tentang siapa dari anak Ibrahim 'Alaihisalam yang dimaksud dalam ayat tersebut. Sebagian mengatakan yang dimaksud adalah Ishaq. Pendapat ini diriwayatkan dari sebagian salaf seperti Ikrimah dan Qatadah. Ada juga yang menukil dari beberapa sahabat, di antaranya ‘Abbas bin Abdil Muththalib, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud, Umar bin Al-Khaththab, Jabir, dan yang lainnya radiyallahu'anhum.

Sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah Isma’il 'Alaihisalam, dan ini pendapat yang dinukilkan dari Abu Hurairah dan Abu Thufail Amir bin Watsilah. Juga diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas radiyallahu'anhum. Dan ini pendapat Sa’id bin Musayyab, Asy-Sya’bi, Yusuf bin Mihran, dan yang lainnya. Dan pendapat ini dikuatkan oleh para ahli tahqiq seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir, Abdurrahman As-Sa’di, Asy-Syinqithi, dan yang lainnya rahimahumullah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, Taisir Al-Karim Arrahman, Adhwa`ul Bayan, dan Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 4/331-336)

Pendapat yang terkuat adalah yang kedua. Kuatnya pendapat ini ditinjau dari beberapa sisi:
Pertama: bahwa Allah Ta'ala mengabarkan berita gembira kepada Ibrahim 'Alaihisalam tentang anak yang akan disembelih. Kemudian setelah menyebut kisahnya secara sempurna, Allah Ta'ala menjelaskan setelahnya berita gembira tentang lahirnya Ishaq 'Alaihisalam:

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq.” (Ash-Shaffat: 112-113)

Maka ini menunjukkan bahwa ada dua berita gembira, berita tentang anak yang akan disembelih serta anak yang bernama Ishaq.

Kedua: bahwa Allah Ta'ala tidak menyebut tentang kisah penyembelihan kecuali pada surat Ash-Shaffat saja, sedangkan pada ayat-ayat yang lain hanya disebutkan berita gembira tentang lahirnya Ishaq secara khusus.

Ketiga: Allah l berfirman:
Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (Hud: 71)

Kalau sekiranya yang disembelih itu Ishaq, tentu Ibrahim 'Alaihisalam akan menganggap terjadinya penyalahan janji tentang munculnya Ya’qub dari keturunan Ishaq 'Alaihisalam.

Keempat: bahwa yang disifati dengan sifat sabar adalah Isma’il 'Alaihisalam, seperti dalam firman-Nya:

Dan (ingatlah kisah) Isma’il, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar.” (Al-Anbiya`: 85)

Dan masih ada lagi sisi penguat yang menunjukkan bahwa yang akan disembelih adalah Isma’il 'Alaihisalam, bukan Ishaq 'Alaihisalam.

Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan: “Yang wajib diyakini bahwa yang dimaksud (ayat ini) adalah Isma’il. Dan inilah yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-sunnah, serta penguat-penguat yang masyhur. Ini pula yang disebutkan dalam Kitab Taurat yang ada di tangan ahli kitab, di mana disebutkan padanya bahwa (Allah Ta'ala) berfirman kepada Ibrahim:

“Sembelihlah anakmu yang satu-satunya.”
Dalam naskah yang lain: بَكْرَكَ (anak semata wayang dari ibu yang satu).

Dan Isma’il adalah anak satu-satunya yang dari satu ibu (pada masa itu) berdasarkan kesepakatan kaum muslimin dan ahli kitab. Namun ahli kitab mengubah lalu menambah kata ‘Ishaq’, lantas dkutip oleh sebagian orang dan menyebar di sebagian kaum muslimin bahwa yang dimaksud adalah Ishaq, padahal asalnya adalah dari perubahan ahli kitab.” (Majmu’ Fatawa, 4/331-332)

Penjelasan Ayat

As-Sa’di rahimahullah ketika menjelaskan ayat-ayat ini mengatakan: “(Ibrahim berkata): ‘Wahai Rabb-ku, berikanlah aku seorang anak yang termasuk dari kalangan orang-orang yang shalih’. Beliau mengucapkan itu tatkala ia telah putus asa dari kaumnya di mana beliau tidak melihat kebaikan pada mereka.

Beliau pun berdoa kepada Allah Ta'ala agar memberikan karunia kepadanya seorang anak yang shalih, yang Allah Ta'ala memberi manfaat baginya dalam kehidupan dan setelah kematiannya. Maka Allah Ta'ala pun mengabulkannya dan berfirman: ‘Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan lahirnya seorang anak yang cerdik dan bijaksana’, dan tidak ada keraguan bahwa dialah Isma’il 'Alaihisalam.

Karena Allah Ta'ala menyebutkan berita gembira setelahnya dengan lahirnya Ishaq 'Alaihisalam dan karena Allah Ta'ala menyebutkan tentang berita gembira lahirnya Ishaq 'Alaihisalam dengan firman-Nya:

Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub.” (Hud: 71)

Sehingga ini menunjukkan bahwa Ishaq bukanlah yang akan disembelih. Dan Allah Ta'ala memberi sifat Isma’il dengan kebijaksanaan, yang mengandung kesabaran, akhlak yang baik, lapang dada, serta memaafkan orang yang bersalah. Tatkala anak tersebut telah mencapai waktu untuk bisa bekerja bersama ayahnya dan biasanya hal itu di saat mencapai usia baligh, dia pun senang untuk melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, telah hilang kesulitannya dan telah terasa manfaatnya. Maka Ibrahim 'Alaihisalam berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu,’ yaitu Allah Ta'ala memerintahkanku untuk menyembelihmu. Karena mimpi para nabi adalah wahyu, maka perhatikanlah apa pendapatmu, sesungguhnya perintah Allah Ta'ala harus dijalankan.

Maka Isma’il 'Alaihisalam yang senantiasa bersabar dan mengharap keridhaan Rabb-nya serta berbakti kepada ayahnya berkata: ‘Wahai ayahandaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatiku –insya Allah- termasuk di antara orang-orang yang bersabar.’

Dia mengabarkan kepada ayahnya bahwa dia telah menetapkan dirinya di atas kesabaran dan menggandengkan hal tersebut dengan kehendak Allah Ta'ala. Sebab tidaklah terjadi sesuatu tanpa kehendak-Nya.

Tatkala keduanya telah berserah diri, yaitu Ibrahim dan Isma’il anaknya, dalam keadaan dia telah menetapkan untuk membunuh anak sekaligus buah hatinya, sebagai wujud menaati perintah Rabbnya dan takut dari siksaan-Nya, sedangkan sang anak telah menetapkan dirinya di atas kesabaran, dan Ibrahim telah meletakkan Isma’il dengan membelakangi wajahnya dan tengkuknya berada di atas, ia menidurkannya dan akan menyembelihnya, wajahnya dibalik agar dia tidak melihat ke wajahnya di saat penyembelihan.

Kamipun memanggilnya dalam kondisi yang menegangkan dan keadaan yang sangat mencekam itu: ‘Wahai Ibrahim,’ engkau telah membenarkan dan melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Sesungguhnya engkau telah menetapkan dirimu di atas hal tersebut, dan engkau telah melakukan semua sebab, serta tidak ada yang tersisa kecuali melewatkan pisau di atas tenggorokannya. Sesungguhnya Kami dengan itu membalas orang-orang yang berbuat kebaikan dalam beribadah kepada Kami, yang lebih mengutamakan keridhaan Kami daripada hawa nafsunya.

Sesungguhnya ujian yang kami berikan kepada Ibrahim ini benar-benar merupakan ujian yang nyata, yang menjelaskan ketulusan Ibrahim, dan kesempurnaan cintanya kepada Rabb-nya serta menjadi khalil-Nya. Karena tatkala Allah Ta'ala memberikan karunia Isma’il 'Alaihisalam kepada Ibrahim 'Alaihisalam, dia pun sangat mencintainya. Padahal beliau adalah Khalilullah di mana khalil merupakan tingkatan kecintaan yang tertinggi, dan itu harus murni dan tidak menerima adanya penyetaraan, serta menghendaki agar seluruh unsur kecintaan tersebut benar-benar terpaut kepada yang dicintai.

Tatkala ada satu unsur dari hati Ibrahim yang melekat pada diri Isma’il, Allah Ta'ala hendak memurnikan kecintaan Ibrahim kepada-Nya dan menguji khalil-Nya. Maka Dia memerintahkan untuk menyembelih orang yang kecintaannya telah mengusik kecintaan kepada Rabb-nya. Tatkala Ibrahim lebih mengutamakan kecintaan Allah Ta'ala dan lebih mendahulukannya di atas hawa nafsunya, serta bertekad untuk menyembelihnya, hilanglah sesuatu yang mengusik dalam hatinya tersebut, sehingga penyembelihan pun tidak berfaedah lagi.

Oleh karenanya Allah l berfirman: ‘Sesungguhnya benar-benar ini merupakan ujian yang nyata, dan Kami menebusnya dengan sembelihan yang agung,’ yaitu diganti dengan sembelihan berupa kambing yang agung yang disembelih Ibrahim. Keagungan kambing tersebut dari sisi bahwa itu adalah tebusan dari Isma’il 'Alaihisalam di mana itu termasuk di antara ibadah yang agung. Dan dari sisi bahwa hal itu menjadi ibadah qurban dan sunnah hingga hari kiamat. Dan kami meninggalkan untuknya pujian yang benar pada orang-orang belakangan sebagaimana orang-orang terdahulu. Sehingga setiap yang datang setelah Ibrahim 'Alaihisalam, senantiasa mencintai, mengagungkan, dan memuji, ‘keselamatan atas Ibrahim’ yaitu penghormatan atasnya. Seperti firman-Nya:

Katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?’.” (An-Naml: 59) [lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman]

Telah diriwayatkan oleh Abu Thufail dari Ibnu Abbas radiyallahu'anhu, dia berkata: “Tatkala Ibrahim 'Alaihisalam diperintah untuk menyembelih anaknya, setan pun berusaha menggodanya ketika berada di tempat sa’i, lalu berusaha mendahului Ibrahim. Namun Ibrahim berhasil mendahuluinya. Jibril lantas membawa Ibrahim menuju jamratul ‘aqabah. Setan pun kembali menggodanya. Beliau pun melemparnya dengan tujuh kerikil, hingga setan itu pergi lalu menggodanya kembali di jamratul wustha. Ibrahim pun melemparnya dengan tujuh kerikil. Dan di sanalah Isma’il dibaringkan, dalam keadaan Isma’il memakai gamis berwarna putih.

Lalu ia (Ismail) berkata: ‘Wahai ayahku, aku tidak memiliki baju yang mengafaniku selain ini, maka lepaslah agar ia menjadi kain kafanku.’ Ketika beliau hendak melepasnya, terdengarlah panggilan dari belakangnya: ‘Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah menjalankan mimpimu.’ Ibrahim pun berbalik, ternyata ada seekor domba putih, bertanduk, dan bermata lebar. Ibnu Abbas radiyallahu'anhu berkata: ‘Sungguh kami pernah menjual jenis domba seperti ini’.” (HR. Ahmad, 1/297, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1/638, Al-Baihaqi, 5/153, At-Thabari dalam Tafsir-nya, 23/80. Al-Hakim menyatakan: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Al-Bukhari dan Muslim; dan keduanya tidak mengeluarkannya.” Dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib Wat-Tarhib: 2, no. 1156)

Berqurban, Sebagai Bukti Pengorbanan

Ayat yang mulia ini menjelaskan betapa beratnya cobaan yang Allah Ta'ala berikan kepada Ibrahim 'Alaihisalam serta betapa besarnya pengorbanannya sebagai bentuk pembuktian dirinya sebagai hamba Allah Ta'ala yang berserah diri sepenuhnya, dan sebagai khalilullah yang memurnikan kecintaannya hanya untuk-Nya. Dan ini menunjukkan bahwa Allah Ta'ala senantiasa memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya dengan berbagai jenis cobaan, untuk membuktikan keimanan hamba tersebut. Allah l berfirman:

Tidaklah datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur`an pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai. Dan mereka yang dzalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: ‘Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya?’.” (Al-Anbiya`: 2-3)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

Ibrahim 'Alaihisalam akhirnya memang tidak melaksanakan penyembelihan terhadap anaknya, sebab Allah Ta'ala memberikan ujian tersebut bukan dalam rangka mewujudkan penyembelihan terhadap anaknya tersebut, namun semata-mata untuk membuktikan kecintaan Ibrahim 'Alaihisalam yang murni hanya untuk Allah Ta'ala. Hal ini mirip dengan kisah yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam tentang tiga orang dari kalangan Bani Israil: orang yang berpenyakit sopak, si botak, dan si buta.

Allah Ta'ala hendak menguji mereka dengan mengutus seorang malaikat, lalu mendatangi orang yang berpenyakit sopak, lalu bertanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Warna kulit yang indah, kulit yang bagus, dan hilang penyakit yang karenanya manusia merasa jijik dariku.” Maka malaikat itu pun mengusapnya, hingga hilanglah penyakit tersebut dan ia diberi warna kulit yang indah. Lalu dikatakan kepadanya: “Harta apa yang paling engkau sukai?” ia menjawab: “Unta.” Maka ia pun diberi unta betina yang sedang bunting, dan dikatakan kepadanya: “Semoga Allah Ta'ala memberi berkah untukmu.”

Lalu malaikat itu mendatangi si botak dan bertanya: “Apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Rambut yang indah dan hilangnya apa yang membuat manusia merasa jijik dariku.” Malaikat itu pun mengusapnya sehingga hilanglah botaknya dan dia diberi rambut yang indah. Lalu dia ditanya: “Harta apa yang paling engkau sukai?” Ia menjawab: “Sapi.” Maka ia pun diberi sapi betina yang hamil. Lalu dikatakan kepadanya: “Semoga Allah Ta'ala memberi berkah untukmu.”

Lalu malaikat itu mendatangi si buta, dan berkata seperti yang diucapkan kepada yang sebelumnya, maka Allah Ta'ala mengembalikan penglihatannya dan diberi seekor kambing yang hamil.

Tidak lama kemudian harta mereka berkembang biak. Sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Lalu datanglah malaikat tersebut kepada orang yang pernah berpenyakit sopak, dalam bentuk dan keadaannya yang dulu lalu berkata: “Aku orang miskin. Aku sudah tidak punya bekal dalam perjalananku. Tidak ada yang dapat melanjutkan perjalananku kecuali karena Allah Ta'ala kemudian karena engkau. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah memberikan kepadamu warna kulit yang indah, kulit yang bagus, dan harta, agar engkau berikan aku seekor unta sehingga aku dapat melanjutkan perjalananku.” Ia menjawab: “Banyak hak-hak manusia yang harus ditunaikan.” Si miskin berkata: “Sepertinya aku mengenalmu, bukankah dahulu engkau berpenyakit sopak dan manusia merasa jijik darimu, miskin, lalu Allah Ta'ala memberikan ini semua kepadamu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya aku mewarisi harta ini dari nenek moyangku yang mulia secara turun-temurun.” Maka si miskin berkata: “Jika engkau berdusta, semoga Allah Ta'ala mengembalikanmu seperti dulu. ”

Lalu ia (malaikat) mendatangi si botak dan berkata kepadanya seperti yang dikatakan kepada sebelumnya, dan si botak pun menjawab seperti jawaban orang sebelumnya (yang berpenyakit sopak). Maka ia (malaikat) berkata: “Jika engkau berdusta, semoga Allah Ta'ala mengembalikan engkau seperti dulu.”

Lalu ia (malaikat) mendatangi si buta dalam bentuk dan keadaannya (yang dahulu), kemudian berkata: “Aku orang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalananku. Tidak ada yang menyampaikanku hari ini kecuali dengan bantuan Allah Ta'ala kemudian bantuanmu. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu agar engkau berikan aku seekor kambing yang dapat menyampaikanku dalam perjalananku.” Maka ia menjawab: “Dahulu aku buta, lalu Allah Ta'ala mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah harta mana yang engkau inginkan dan tinggalkan yang mana yang engkau mau. Demi Allah, aku tidak merasa berat padamu pada hari ini dengan sesuatu yang engkau mengambilnya karena Allah Ta'ala.” Maka malaikat itu menjawab: “Jagalah hartamu, sesungguhnya kalian hanyalah diuji. Sungguh Allah Ta'ala telah meridhaimu, dan murka terhadap dua temanmu.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah radiyallahu'anhu)

Hadits ini menunjukkan bahwa malaikat tersebut tidak berkeinginan untuk mengambil harta si buta, namun hanya sekedar memberi ujian terhadap kebenaran imannya. Dan hal tersebut telah terbukti. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah pengorbanan Ibrahim 'Alaihisalam ini.
Wabillahit taufiq.

"Berkurban Sebagai Cara untuk Berkurban"
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
AsySyariah.com

Kisah Nabi Ibrahim

by admin aluyeah
Kisah Nabi Ibrahim | al-uyeah.blogspot.com
Sebagai umat muslim sudah seharusnya kita memperhatikan kisah-kisah manusia teladan di muka bumi ini. Salah satunya adalah beliau Nabi Ibrahim 'alaihisalam. Yang dalam kisah beliau, mengajarkan kepada kita pentingnya pengorbanan untuk sebuah cinta. Dan merupakan perkara aneh, ketika mengaku cinta tetapi tidak mau melakukan pengorbanan. Bukti cinta adalah pengorbanan.

Luangkan waktu untuk membaca kisah yang agung ini, Read men!

Bertahun-tahun sudah, suara tangis bayi belum juga memenuhi rumah tangga Khalil Allah, Ibrahim. Sarah, istri beliau juga sudah semakin renta. Menurut kita, keadaan seperti ini mustahil akan beroleh anak. Tapi apakah demikian keyakinan seorang yang menyandang kedudukan tertinggi dalam berhubungan dengan Sang Khaliq Yang Maha Kuasa?

Tentu tidak.

Seorang yang bertauhid, senantiasa bersegera dalam kebaikan, selalu waspada, tidak berputus asa dan tetap membersihkan hatinya dari berbagai kotoran, terlebih lagi Nabiyullah Khalilur Rahman Ibrahim  yang selalu berdoa, meminta kepada Allah  agar diberi karunia seorang anak.

Allah  berfirman tentang Ibrahim:

Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ 

Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). 

Dan Kami panggillah dia: ‘Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Ash-Shaffat: 100-108)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah  menceritakan tentang Khalil-Nya Ibrahim  setelah meninggalkan kaumnya. Ibrahim meminta kepada Rabbnya agar diberi anugerah berupa seorang anak yang shalih. Kemudian Allah  memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang penyabar, yaitu Isma’il .

Inilah putra pertama beliau, yang lahir di saat Nabi Ibrahim  berusia 86 tahun, sebagaimana disepakati oleh seluruh agama. Usia yang cukup renta dan mustahil menurut kita masih akan beroleh anak.

Tapi, siapa yang ragu dengan kekuasaan Allah , kalau bukan orang-orang yang tidak beriman? Atau sangat tipis imannya?

Kemudian, perhatikan pula doa yang dipanjatkan Ibrahim, bukan semata-mata naluri kerinduan seorang ayah, tapi lebih dari itu. Harapan utama, agar anak itu adalah anak yang shalih, berguna bagi sesama.

Seorang anak, jika dia tidak bermanfaat, tentu akan merugikan orang lain, bahkan dapat menjadi azab bagi siapa saja terlebih kedua orangtuanya. Nas’alullaha as-salamah.

Allah  berfirman:

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 55)

Oleh karena itu pula, ketika seorang mukmin berdoa, mengharapkan kehadiran anak, tetapi belum terkabul, janganlah terburu-buru dan ingin disegerakan terwujud harapannya. Lihatlah bagaimana Nabi dan Khalil Allah, Ibrahim . Selama berpuluh tahun, beliau tetap meminta dan berdoa kepada Allah  agar diberi anugerah berupa seorang anak yang shalih.

Simaklah apa yang difirmankan Allah:

Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: ‘Salam.’ Berkata Ibrahim: ‘Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.’ Mereka berkata: ‘Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.’ 

Berkata Ibrahim: ‘Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.’ Ibrahim berkata: ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 51-56)

Orang-orang sesat, yaitu orang-orang yang mendustakan dan jauh dari kebenaran.

Maksudnya, beliau merasa tidak mungkin beroleh anak karena sudah rentanya, bukan karena putus asa dari rahmat Allah

Ingatlah pula bahwa Rasulullah  bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Akan dikabulkan untuk kalian (doa kalian) selama tidak terburu-buru, (dengan mengatakan): ‘Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan untukku’.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Ad-Da’awat dan Muslim Kitab Adz-Dzikri wa Ad-Da’awat)

Karena itu janganlah berputus asa. Teladanilah Al-Khalil . Terlebih lagi pertolongan dan kelapangan itu selalu datang di saat kesulitan dan kesempitan memuncak. Rasulullah  mengingatkan kita dalam sabdanya:

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dan ketahuilah bahwa dalam kesabaran terhadap apa yang tidak engkau senangi terdapat kebaikan yang sangat banyak. Ketahuilah pula, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar, kelapangan ada bersama kesempitan/kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (HR. Ahmad)

Kelahiran Isma’il

Dengan hadirnya Isma’il, serasa lengkap kehidupan rumah tangga Ibrahim Al-Khalil. Hari-hari begitu manis. Setiap ada kesempatan, Ibrahim bermain-main mesra dengan Isma’il hingga suatu ketika terlihat oleh Sarah.

Allah  Maha Tahu.

Ketika melihat rasa cinta kepada sang putra mulai mengambil tempat dalam relung hati Ibrahim, Sang Kekasih cemburu kepada Khalil-Nya bila ada di dalam hatinya tempat untuk ‘kekasih’ lain selain Dia. Maka Allah perintahkan Ibrahim menyembelih putranya, tempat curahan cinta dan kasih sayangnya saat itu. Namun maksud sebenarnya bukanlah menyembelih anak itu, bukan pula sebagai siksaan. Perintah itu tidak lain adalah agar membersihkan relung-relung hati Ibrahim hanya untuk-Nya, tidak untuk ditempati yang lain dan agar (cinta itu) semakin murni hanya untuk Allah.

Di saat seperti itu, Ibrahim  melihat dalam mimpi bahwa dia diperintah untuk menyembelih putranya ini. Perintah melalui mimpi ini pun memiliki suatu hikmah tertentu, yakni agar pelaksanaan perintah itu lebih besar terasa sebagai ujian dan cobaan.

Kita maklumi, ketika itu beliau begitu mengharap kehadiran seorang anak yang akan mewarisinya. Setelah Allah menyenangkannya dengan mengabulkan doanya, anak itupun lahir, tumbuh pesat, Allah  perintahkan dia menyembelih putranya. Dengan perintah ini, kalau dia jalankan, lenyaplah keturunannya, buyarlah harapannya. 

Sungguh, ini ujian yang sangat berat dan sangat manusiawi. Seorang manusia, seusia Nabi Ibrahim , baru dikaruniai Allah  seorang putra setelah bertahun-tahun mendambakannya, kemudian harus menerima kenyataan anak itu lenyap dari pandangannya. Entah meninggal dunia atau hilang dan sebagainya.

Kita ingat, betapa sedihnya Rasulullah , ketika putra beliau Ibrahim dari Maria Al-Qibthiyah meninggal dunia dalam pelukan beliau. Air mata beliau menitik, hatipun berduka.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik , dia menceritakan:

دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ n عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا ِلإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ n تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ z: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ؛ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى. فَقَالَ: إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Kami masuk kepada Abu Saif Al-Qain -suami ibu susu Ibrahim-, lalu Rasulullah  mengambil Ibrahim kemudian menciumnya. Setelah itu kami masuk pula beberapa waktu kemudian, sementara Ibrahim sedang tersengal-sengal nafasnya. Mulailah air mata Rasulullah  menitik. Berkatalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf : “Dan engkau, Wahai Rasulullah (menangis)?” Beliaupun berkata: “Wahai Ibnu Auf, ini adalah rahmat.” Kemudian menyusul yang berikutnya. Lalu Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya mata ini menangis, hati ini berduka, dan kami tidak mengucapkan apa-apa kecuali yang diridhai Rabb kami. Sungguh, kami sangat berduka berpisah denganmu, wahai Ibrahim.

Tapi mimpi tersebut adalah wahyu. Sang Khalil pun menyambut perintah itu dan siap menjalankannya. Akhirnya tampaklah hikmah Allah dengan menguji beliau.

Inilah tafsir firman Allah :

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Ash-Shaffat: 106)2

Allah  berfirman:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (Ash-Shaffat: 102)

Demikianlah keimanan seorang ayah yang mulia, yang mengerti betul dia telah bertindak benar dalam mendidik putranya, dan tahu sejauh mana keikhlasan putranya yang berbakti. Maka diapun ingin mengajak putranya bergabung dalam pahala, lalu dia pun bertanya dalam keadaan percaya penuh jawaban sang putra.

Di sini, keduanya menyodorkan kepada kita ujian agung ini dalam beribadah kepada Allah , tunduk kepada perintah-Nya hingga Allah mengabadikan nama mereka berdua serta memuji keduanya dengan ayat-ayat yang terus dibaca selama-lamanya.

Tidak ada ujian yang lebih besar daripada ujian yang dipersaksikan oleh Allah  bahwa itu adalah ujian yang nyata. Yaitu membebani seorang manusia dengan perintah menyembelih putranya sendiri dan membebani yang akan disembelih, agar keduanya beriman dan bersabar, tunduk serta mengharap pahala.

Ketika keduanya siap menjalankan perintah tersebut, dan Allah  mengetahui kejujuran iman keduanya, kesabaran serta ketundukan mereka, Allah ganti sang putra dengan sembelihan agung. Tak sampai di situ, Allah  juga memberi ganjaran kepada sang ayah dengan menganugerahkan kepadanya seorang putra yang lain karena kesabaran dan keridhaannya menyembelih putra satu-satunya, Isma’il .

Allah  berfirman:

Dan Kami sampaikan berita gembira kepadanya dengan (akan lahirnya) Ishaq sebagai Nabi di antara orang-orang shalih.”

Allah  lepaskan mereka berdua karena kesabaran dan ketundukan mereka menghadapi cobaan berat itu.

Huruf fa’ pada ayat:

Maka pikirkanlah apa pendapatmu!

Adalah fa’ al-fashihah, artinya, jika engkau mengetahui hal ini, maka perhatikanlah bagaimana pandanganmu. Adapun pandangan di sini adalah pandangan dengan akal (pendapat), bukan dengan penglihatan (mata).

Maknanya di sini, perhatikanlah sesuatu yang dengannya engkau hadapi perintah ini. Sebab perintah ini, ketika berkaitan dengan pribadi sang anak, maka dia punya bagian dalam pelaksanaan. Sehingga tawaran Ibrahim kepada putranya ini adalah ujian, seberapa jauh ketaatannya menyambut perintah Allah  pada dirinya, sehingga terwujudlah keridhaan dan kesiapan untuk menjalankan perintah. Ibrahim sendiri juga dalam keadaan tidak mengharapkan dari putranya selain menerima. Karena beliau tahu keshalihan putranya.

Artinya di sini, perintah tersebut tergantung kepada dua hal: wahyu dan penyampaian Rasul. Sehingga andaikata Isma’il mendurhakai, tentulah keadaannya seperti putra Nuh yang enggan naik ke dalam kapal ketika diajak oleh ayahandanya Nuh . Jadi, dianggap kafir.

Mimpi sendiri adalah awal permulaan wahyu. Kebenarannya sesuai dengan kebenaran/kejujuran si pemimpi. Orang yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya. Sejalan dengan semakin dekatnya waktu, hampir-hampir mimpi itu tidak pernah meleset. Sebagaimana sabda Nabi . Hal itu karena jauhnya masa dari kenabian dan bekas-bekasnya. Sehingga untuk orang-orang beriman diganti dengan mimpi. Seperti ini juga adalah apa yang muncul sesudah masa sahabat. Sedangkan tidak muncul pada sahabat karena mereka tidak membutuhkan hal itu, disebabkan kekuatan iman mereka.

Mimpi para Nabi adalah wahyu, karena terjaga dari setan. Hal ini berdasarkan kesepakatan umat. Sebab itulah Al-Khalil (Ibrahim ) menyembelih putranya Isma’il , berdasarkan mimpi.

Siapa yang ingin mimpinya benar, hendaklah dia senantiasa berusaha jujur dan bersikap benar, memakan yang halal, dan memerhatikan perintah dan larangan, tidur dengan kesucian sempurna, sambil menghadap kiblat, dan menyebut nama Allah  sampai dikalahkan oleh kantuknya. Kalau sudah demikian, Insya Allah mimpinya tidak akan berdusta.

Dengan ayat dan kisah ini, sebagian ulama ushul fiqih menjadikannya dalil sahnya nasikh (hukum yang menghapus) sebelum terlaksananya perbuatan (yakni hukum yang terhapus). Berbeda dengan sekelompok kaum Mu’tazilah.

Adapun tujuan disyariatkannya mula-mula, adalah meneguhkan Al-Khalil  di atas kesabaran untuk menyembelih anaknya dan tekadnya melakukan hal tersebut. Sebab itulah Allah  berfirman:

Sesungguhnya ini betul-betul ujian yang nyata.

Yakni ujian yang jelas gamblang, di mana Allah  memerintahkannya menyembelih putranya, lalu dia bersegera dalam keadaan tunduk menerima perintah Allah  tersebut dan menaatinya. Sebab itu pula Allah  menyatakan:

Dan Ibrahim yang menepati janji.” (An-Najm: 37)

Tatkala Allah mengetahui tekad dan keyakinan serta kesungguhan Ibrahim menjalankan perintah melalui mimpinya, Allah Yang Maha Pengasih menebus Isma’il  dengan sembelihan yang agung. Nabi Ibrahim  pun sukses dengan gemilang melewati ujian berat ini. Beliau betul-betul mampu mengejawantahkan derajat khullah, rasa cinta yang tidak lagi menerima saingan sekecil apapun. Maka Allah pun menginginkan khullah itu murni hanya untuk Allah , tidak disaingi oleh rasa cinta kasih kepada sang putra ataupun sesuatu yang lainnya.

Maka, jelaslah bahwa di antara sebab paling utama untuk meraih derajat khullah ini adalah senantiasa datang menghadap kepada Allah , menjaga kesucian hati, niat yang lurus, kekuatan kesabaran dan keyakinan.

Lihatlah betapa Allah  mengabulkan doa Ibrahim , dengan menganugerahkan seorang putra untuk beliau. Demikianlah doa yang muncul dari jiwa yang penuh dengan keimanan, ketakwaan, dan hati yang bersih dari hawa nafsu, sangat pantas dikabulkan. Wallahu a’lam.

Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

It's Time To Change

by admin aluyeah
It's Time To Change | al-uyeah.blogspot.com
Usaha, Bagian dari Takdir. Usaha adalah bagian dari takdir. Tidak ada kontradiksi antara usaha dan takdir. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata,

“Jika pengejar akhirat mengetahui bahwa akhirat tidak akan digapai melainkan dengan keimanan, amal saleh, dan meninggalkan lawannya (amal buruk), ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh merealisasikan keimanan dan memperbanyak wujud-wujud keimanan yang terperinci. Ia akan bersungguh-sungguh melakukan amalan saleh yang akan mengantarkan dirinya menuju akhirat. Sisi yang lain, ia akan meninggalkan kekufuran dan kemaksiatan. Ia akan segera bertaubat jika terjatuh dalam dosa.

Jika pemilik ladang mengetahui bahwa hasil kerjanya tidak akan berhasil melainkan dengan menanam dan mengairinya disertai dengan pengawasan ketat, ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan segala cara untuk menumbuhkan tanamannya, memaksimalkannya, dan mencegah hama penyakit.

Jika pelaku produksi mengetahui bahwa hasil-hasil produksi, dengan berbagai ragam jenis dan manfaatnya, tidak akan berhasil didapatnya melainkan dengan mempelajari disiplin ilmu produksi dan menguasainya, lalu mempraktikkannya, ia akan berusaha dan bersungguh-sungguh.

Barang siapa mengharapkan keturunan atau membiakkan hewan ternaknya, tentu ia akan bekerja dan berusaha. Demikianlah pada seluruh urusan.” (ar-Riyadh an-Nadhirah, as-Sa’di, hlm. 125—126)

Adapun dalil yang menjelaskan wajibnya si hamba berusaha sangat banyak. Antara lain:

1. Hadits Abu Hurairah radiyallahu'anhu, riwayat Muslim (4/2025).
Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan dari Allah dan jangan merasa lemah. Jika ada sesuatu menimpa dirimu, jangan ucapkan, ‘Andai saja saya melakukan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Namun ucapkanlah, ‘Telah ditakdirkan Allah, apa yang Allah Ta'ala kehendaki, Dia pasti melakukannya.’ Sesungguhnya ucapan ‘andai saja’, akan membuka amalan setan.”

2. Hadits Ibnu Abbas radiyallahu'anhu, riwayat al-Bukhari (10/179) dan Muslim (4/1740).

Umar bin Khaththab radiyallahu'anhu pernah berangkat menuju Syam. Setibanya di wilayah Sargh, beliau disambut oleh para panglima perang, Abu Ubaidah bin al-Jarrah beserta sahabat-sahabat lainnya. Mereka menyampaikan berita kepada Umar bahwa di negeri Syam sedang terjangkiti satu wabah. Umar lalu memerintahkan untuk mengundang para sahabat dalam rangka bermusyawarah. Mulai dari kalangan Muhajirin, lalu kalangan Anshar, kemudian kaum Quraisy. Dari musyawarah tersebut, Umar memutuskan untuk kembali pulang.

Lalu Umar radiyallahu'anhu mengumumkan, “Sesungguhnya aku akan kembali besok pagi, bersiap-siaplah besok.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah radiyallahu'anhu bertanya, “Apakah untuk lari dari takdir Allah?” Umar menjawab,

لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا، يَا أَبَا عُبَيْدَةَ نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلَى قَدَرِ اللهِ، أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالْأُخْرَى جَدْبَةٌ، أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ؟

“Andai saja bukan kamu yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari takdir Allah Ta'ala menuju takdir Allah Ta'ala yang lain. Apa pendapatmu, jika engkau mempunyai ternak unta lalu singgah di sebuah lembah yang memiliki dua sisi. Satu sisi yang subur, sisi yang lain gersang. Bukankah dengan takdir Allah juga jika engkau menggiringnya ke sisi yang subur? Bukankah dengan takdir Allah juga engkau menggiringnya ke sisi yang gersang?”

Setelah itu, datanglah Abdurrahman bin Auf radiyallahu'anhu yang sebelumnya tidak hadir karena ada keperluan. Ia berkata, “Sesungguhnya aku memiliki ilmu tentang masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda, ‘Jika kalian mendengar terjadi wabah di suatu daerah, janganlah mendatanginya. Jika kalian berada di suatu daerah yang sedang terjangkiti wabah, janganlah meninggalkannya untuk lari’.”

Umar pun memuji Allah Ta'ala, lalu bertolak (kembali ke Madinah).

Orang Cerdas

Orang yang benar-benar cerdas akan berusaha menghindari takdir dengan takdir juga, menghadapi takdir dengan takdir pula. Tidak akan mungkin kita menjalani kehidupan melainkan dengan cara ini. Rasa lapar dan haus, kedinginan, seluruh hal yang menakutkan dan membahayakan, adalah takdir. Seluruh makhluk berusaha untuk terhindar dari hal tersebut dengan takdir juga.

Demikianlah kondisi hamba yang memperoleh taufik dan petunjuk. Ia pasti berusaha untuk terhindar dari “takdir” siksa di akhirat dengan “takdir” taubat, iman, dan amal saleh. (ad-Da’u wad Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 27)

Perlu diingat, yang mengatakan, “Allah Ta'ala telah mencatat takdir makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi,” beliau juga yang mengatakan, “Beramallah, karena masing-masing akan dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.” Lalu:

Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (al-Baqarah: 85) (al-Iman bil Qadha, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 127—129)

Doa, Bagian dari Takdir

Soal: Sesuatu yang dimohon dalam doa, jika memang telah ditakdirkan untuk terjadi, pasti terjadi. Sama saja, apakah si hamba berdoa ataukah tidak. Jika memang sudah ditakdirkan untuk tidak terjadi, tidak akan mungkin akan terjadi, baik si hamba memohon maupun tidak.

Jawab:
Sekelompok orang memandang benar pernyataan di atas. Mereka kemudian tidak ingin berdoa dan mengatakan, “Tidak ada manfaatnya berdoa!”

Mereka sendiri, dengan kejahilan dan kesesatan, pasti akan mengalami kontradiksi. Menerima pendapat mereka sama saja menghilangkan seluruh bentuk sebab. Coba saja ditanyakan kepada salah seorang dari mereka, “Jika kenyang dan puas dari dahaga memang telah ditakdirkan untukmu, pasti terjadi, apakah engkau makan ataukah tidak? Jika memang sudah ditakdirkan untuk tidak kenyang, tidak akan mungkin terjadi, apakah engkau makan ataukah tidak?”

“Jika memang telah ditakdirkan engkau memiliki anak, pasti terjadi baik engkau berhubungan badan dengan istri maupun tidak. Jika memang sudah ditakdirkan engkau tidak memiliki anak, pasti tidak akan terjadi. Lalu, apa guna menikah?” Demikian juga hal-hal yang lain.

Pertanyaannya, “Apakah hal di atas akan diucapkan oleh seseorang yang berakal? Seorang manusia? Bahkan, hewan ternak sekalipun memiliki fitrah untuk melakukan ‘sebab’ untuk mempertahankan hidupnya. Dengan demikian, hewan lebih berakal dan lebih bisa memahami dibandingkan dengan kelompok ini. Mereka layaknya hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.”

Ada kelompok lain, sedikit lebih pandai daripada kelompok pertama. Mereka berpendapat, “Berdoa adalah ibadah murni. Allah Ta'ala akan memberikan pahala bagi hamba yang mau berdoa. Berdoa tidak memiliki pengaruh terhadap apa yang diminta, dari sisi mana pun.”\

Menurut mereka, berdoa atau tidak adalah sama saja, tidak akan memberikan pengaruh terhadap apa yang diminta. Hubungan doa dan terjadinya keinginan, menurut mereka, sama dengan hubungan diam dengan terjadinya keinginan.

Ada kelompok lain yang berpendapat, “Doa hanyalah murni pertanda, yang ditetapkan Allah Ta'ala sebagai tanda terpenuhinya keinginan. Barang siapa diberi taufik untuk berdoa, hal itu sebagai tanda bahwa keinginannya telah terpenuhi.” Sama halnya dengan awan hitam pekat di musim penghujan yang menjadi tanda bahwa hujan akan turun. Dengan demikian, ketaatan hanyalah pertanda adanya pahala, bukan sebab. Kekufuran dan maksiat hanyalah pertanda siksa, bukan sebab.

Masih menurut kelompok ini, tindakan memecahkan bukanlah “sebab” pecah, tindakan membakar bukan juga “sebab” kebakaran, dan melakukan perbuatan membunuh bukanlah “sebab” kematian. Hanya sebatas pertanda saja.

Pendapat semacam ini berseberangan dengan akal dan daya indra, bertentangan dengan syariat dan fitrah, serta berhadapan dengan segenap pemikir. Orang berakal juga menertawakan mereka.

Yang benar, sesuatu yang ditakdirkan Allah Ta'ala juga memiliki “sebab-sebab” yang juga ditakdirkan. Berdoa termasuk “sebab” sehingga segala sesuatu tidak hanya ditakdirkan tanpa adanya “sebab”. Akan tetapi, ia ditakdirkan beserta “sebabnya”. Pada saat si hamba melaksanakan “sebab”, apa yang ditakdirkan akan terjadi. Namun, jika ia tidak melaksanakan “sebab”, yang ditakdirkan pun tidak terjadi.

Hal ini sama dengan kenyang yang ditakdirkan terjadi dengan sebab makan, puas dari dahaga dengan sebab minum, memiliki anak dengan sebab berhubungan badan, menuai panen dengan sebab menanam benih, dan matinya hewan dengan sebab disembelih. Demikian juga, masuk ke dalam surga ditakdirkan dengan melakukan amalan saleh, dan masuk ke dalam neraka dengan sebab melakukan kejahatan.

Kesimpulannya, berdoa termasuk “sebab” terbesar. Jika sesuatu yang ditakdirkan dapat terjadi dengan “sebab” doa, tidaklah benar untuk dinyatakan, “Tidak ada manfaatnya berdoa!” Sebagaimana tidak dapat dibenarkan untuk mengatakan, “Tidak ada manfaatnya makan dan minum. Tidak ada gunanya seluruh aktivitas dan perbuatan.”

Tidak ada “sebab” lain yang melebihi manfaat doa. Tidak pula ada “sebab” lain yang melebihi doa dalam hal mewujudkan keinginan. Oleh karena itu, para sahabat—sebagai generasi yang paling mengenal Allah Ta'ala dan Rasul-Nya serta generasi yang paling mengerti tentang agama—sangat kuat mewujudkan doa sebagai “sebab”, syarat-syarat dan adabnya, jika dibandingkan dengan orang lain.

Umar bin al-Khaththab radiyallahu'anhu selalu memohon pertolongan dengan berdoa ketika menghadapi musuh. Doa merupakan bala tentaranya yang terbesar. Beliau radiyallahu'anhu sering mengingatkan pasukannya, “Sesungguhnya kalian tidak memperoleh kemenangan dengan jumlah yang banyak. Akan tetapi, kalian mendapat kemenangan hanyalah dengan pertolongan dari langit.”

Beliau juga sering menyampaikan, “Sesungguhnya aku tidak meragukan tentang dikabulkannya doa, namun aku khawatir hilangnya keinginan untuk berdoa. Apabila kalian mendapatkan kemudahan untuk berdoa, sesungguhnya dikabulkannya doa selalu mengiringi doa.”

Barang siapa memperoleh jalan untuk berdoa, doa itu akan dikabulkan. Allah Ta'ala berfirman:

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186) (ad-Da’u wad Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 22—24)

Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah doa memiliki pengaruh mengubah catatan takdir manusia yang telah ada sebelum ia diciptakan?”

Beliau menjawab, “Tidak diragukan lagi, doa dapat memberikan pengaruh untuk mengubah catatan takdirnya. Namun, perubahan itu pun telah tercatat juga sebagai takdir dengan sebab doa. Jangan mengira, jika Anda berdoa kepada Allah Ta'ala berarti Anda telah meminta sesuatu yang tidak tercatat sebagai takdir! Doa juga telah tercatat sebagai takdir. Demikian juga hasil dari doa tersebut telah tercatat sebagai takdir.

Oleh sebab itu, kita menyaksikan ada orang yang membacakan doa untuk orang sakit, kemudian sembuh. Kisah pasukan perang yang ditugaskan Nabi Shallallahu'alaihiwasalam adalah dalil akan hal ini. Mereka singgah untuk bertamu di sebuah kampung, namun mereka tidak dijamu sebagai tamu. Lalu, ditakdirkan kepala kampung tersebut digigit oleh ular berbisa. Kemudian mereka memohon orang yang dapat membacakan doa untuk si kepala kampung. Akan tetapi, para sahabat mengajukan syarat, yaitu upah untuk melakukannya. Mereka lalu menyerahkan sekawanan kambing. Salah seorang sahabat lantas berangkat untuk membacakan al-Fatihah. Setelah itu, si sakit langsung berdiri seolah-olah ia baru saja lepas dari ikatan. Maksudnya, seperti seekor unta yang terlepas tali kekangnya. Benar, bacaan sahabat tersebut memiliki pengaruh untuk kesembuhan si sakit.

Kesimpulannya, doa memang memiliki pengaruh, namun tidak mengubah takdir. Perubahan tersebut pun termasuk bagian dari takdir, yang terjadi dengan sebuah “sebab” yang juga telah ditakdirkan. Demikian juga seluruh “sebab”, ia memiliki pengaruh pada “akibat” dengan izin Allah Ta'ala. Maka dari itu, “sebab” adalah takdir yang tercatat, “akibat” pun takdir yang tercatat. (Fatawa Aqidah, Fahd bin Nashir, hlm. 234)

Keterikatan serta Keterkaitan Takdir dan Sebab

Takdir tidak berbenturan dengan sebab yang syar’i dan qadari. Hal ini karena “sebab” termasuk takdir Allah Ta'ala. Mengaitkan dan mengikatkan antara sebab dan akibat adalah konsekuensi dari hikmah-Nya, sebagai sifat Allah Ta'ala yang paling tinggi, yaitu sifat yang ditetapkan sendiri oleh Allah Ta'ala untuk diri-Nya pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an.

Contoh sebab qadari adalah firman-Nya:
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (ar-Rum: 48—50)

Contoh sebab syar’i adalah firman-Nya:
Wahai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Seluruh bentuk perbuatan yang ditentukan balasannya oleh Allah Ta'ala, baik pahala maupun siksa, termasuk sebab syar’i, jika dilihat dari sisi bahwa seorang hamba dituntut untuk melaksanakannya. Juga dapat dikatakan sebagai sebab qadari, jika dilihat dari aspek terjadinya berdasarkan takdir dan qadha dari Allah Ta'ala.

Cara Pandang Manusia Terhadap Sebab

Terkait dengan posisi “sebab”, ada tiga cara pandang yang muncul di permukaan.
1. Kelompok nufat (pengingkar).
Mereka mengingkari pengaruh dan peran “sebab”. Mereka menyatakan, “Sebab hanyalah sebatas tanda yang ada pada saat terjadinya sesuatu, bukan sebagai penyebabnya.” Mereka berpendapat, “Pecahnya kaca yang dilempar batu terjadi ketika batu mengenai kaca, bukan disebabkan oleh lemparan batu.”
Kelompok ini menyelisihi dalil dan menentang daya indra. Mereka telah mengingkari hikmah Allah Ta'alayang menghubungkan antara sebab dan akibat.

2. Kelompok ghulat (berlebihan).
Mereka menetapkan pengaruh dan peran “sebab”, namun meyakininya secara berlebihan. Mereka menyatakan, “sebab” dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya tanpa kehendak Allah.
Kelompok ini tergelincir dan terjatuh dalam dosa kesyirikan. Dengan keyakinan ini, mereka menetapkan adanya “pencipta” selain Allah Ta'ala. Pendapat ini juga berseberangan dengan dalil dan daya indra.

Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ menerangkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah Ta'ala.

Secara kenyataan, kita juga menyaksikan dengan jelas, kadang-kadang terjadi “sebab” namun tidak muncul “akibat”nya, seizin Allah Ta'ala tentunya. Contohnya, Nabi Ibrahim 'alaihisalam yang tidak terbakar ketika dilemparkan ke dalam kobaran api. Api pun menjadi dingin dan keselamatan, beliau tidak terbakar.

3. Kelompok wasath (berada pada kebenaran).
Mereka memperoleh petunjuk yang lurus kepada kebenaran. Mereka berada pada posisi di antara kedua kelompok sebelumnya. Mereka mengambil sisi kebenaran dari dua kelompok sebelumnya. Mereka menyatakan, “sebab” memang memiliki pengaruh dan peran pada “akibat”, namun tidak secara sendirinya. Hal itu terjadi dengan kekuatan dan kemampuan yang diberikan oleh Allah Ta'ala pada “sebab” tersebut.

Kelompok ini adalah kelompok yang adil. Mereka diberi taufik pada kebenaran dengan memadukan antara dalil, akal, dan daya indra. Sebagaimana halnya takdir tidak berbenturan dengan sebab syar’i dan qadari, demikian juga takdir tidak berbenturan dengan kehendak dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang hamba untuk melakukan perbuatan. Jadi, setiap makhluk memiliki kehendak dan kemampuan. Ia sendiri yang berbuat. Allah Ta'ala berfirman:

Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 152)

Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (an-Nisa’: 66)

Barang siapa mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya).” (Fushshilat: 46)

Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).” (al-Qalam: 25)

Akan tetapi, sebagai makhluk ia tidak dapat berdiri dan terpisah secara sendirian dalam kehendak, kemampuan, dan perbuatannya. Sama halnya, “sebab” tidak dapat berdiri sendiri dalam menghasilkan “akibat”. Allah Ta'ala berfirman:

(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) melainkan jika dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 28—29)

Kehendak, kemampuan, dan perbuatan adalah sifat yang melekat pada makhluk. Oleh karena itu, kehendak, kemampuan, dan perbuatannya pun adalah makhluk juga. Hal ini karena sifat mengikuti yang disifati. Maka dari itu, Dzat yang menciptakan makhluk, Dia pula yang menciptakan sifat makhluk. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 105—107)

Contoh Perpaduan Antara Takdir dan Kehendak Hamba

Penjelasannya demikian; jika seorang hamba menegakkan shalat, berpuasa, dan melakukan kebajikan, atau ia berbuat kemaksiatan, dialah pelaku kebajikan atau kemaksiatan tersebut. Perbuatannya, tanpa setitik keraguan, terjadi berdasarkan pilihan dan keinginannya sendiri. Secara pasti, ia merasakan dirinya tidak “dipaksa” untuk melakukan atau tidak melakukannya. Ia pun meyakini dengan pasti, jika mau, ia tidak akan melakukannya.

Sebagaimana penjelasan di atas merupakan kenyataan bahwa seperti itulah yang dinashkan oleh Allah Ta'ala dalam Al-Qur’an dan oleh Rasul-Nya dalam sunnahnya. Dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah, amalan kebaikan dan keburukan yang diperbuat oleh hamba dinisbahkan dan dilekatkan pada diri hamba itu sendiri. Allah Ta'ala dan Rasul-Nya juga memberitakan, merekalah pelaku perbuatan itu sesungguhnya. Mereka akan memperoleh pujian dan pahala jika yang diperbuat kebaikan. Sebaliknya, mereka akan mendapatkan celaan dan siksa jika yang diperbuat keburukan.

Maka dari itu, telah jelas dan terang, tanpa ada keraguan, seluruh perbuatan hamba dilakukan oleh mereka sendiri, dengan pilihan mereka sendiri. Jika mau, mereka lakukan. Jika mau, mereka tinggalkan. Hal ini dapat dibuktikan secara akal, daya indra, syariat, dan kenyataan. (Tanbihat al-Lathifah, as-Sa’di, hlm. 82—83)

Secara akal, tidaklah mungkin Allah Ta'ala menetapkan siksa atas si hamba karena perbuatan yang ia “dipaksa” melakukannya. Kalau bukan karena pilihan dan kehendak si hamba sendiri, tidak mungkin ia terbebani syariat.

Secara daya indra, si hamba merasakan sendiri pada dirinya secara pasti, ia tidak dalam keadaan “dipaksa” untuk berbuat atau tidak berbuat.

Secara syariat, banyak ayat dan hadits yang menyandarkan perbuatan itu kepada si hamba. Di antaranya adalah:

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) atas amalan mereka.” (az-Zalzalah: 6)

Secara kenyataan, kita menyaksikan sendiri bahwa orang yang mengerjakan shalat, puasa, dan lainnya adalah si hamba, bukan Rabb. Maka dari itu, hambalah yang secara hakiki langsung berbuat. (Ta’liqat Yasin ‘alal Wasithiyyah, hlm. 231)

"Usaha, Doa, Sebab, dan Takdir"
ditulis oleh: Al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai
AsySyariah.com

Puasa Arafah

by admin aluyeah
Puasa Arafah | al-uyeah.blogspot.com
Bagi jama’ah haji, hari Arafah adalah saat yang istimewa. Karena pada hari itulah puncak pelaksanaan manasik haji ditunaikan, yaitu wukuf di padang Arafah. Pada saat itulah Allah subhaanahu wa ta’aalaa memuji dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat-Nya. Dan pada hari itulah, banyak hamba-hamba Allah subhaanahu wa ta’aalaa yang dibebaskan dari an-naar (api neraka). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

Tidak ada hari yang Allah membebaskan hamba-hamba dari api neraka yang lebih banyak daripada hari Arafah, dan sesungguhnya Allah akan mendekat dan kemudian membanggakan mereka di hadapan para malaikat dan berfirman: apa yang mereka inginkan?” (HR. Muslim)

Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji pun, juga berkesempatan untuk mendapatkan keutamaan dan pahala yang besar di hari itu, yaitu dengan berpuasa (‘Arafah).

Walaupun hukumnya sunnah, namun amalan puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah ini memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

(Puasa Arafah) menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Diterangkan oleh an-Nawawi rahimahullaah bahwa puasa ‘Arafah itu bisa menggugurkan dosa-dosa pelakunya selama dua tahun. Dan yang dimaksud dosa di sini adalah dosa-dosa kecil. Kalau tidak memiliki dosa kecil, diharapkan bisa meringankan beban akibat dosa besarnya. Jika tidak, maka diharapkan akan mengangkat derajat orang yang berpuasa ‘Arafah tersebut. (Syarh Shahih Muslim)

Maka dari itu, seorang muslim hendaknya tidak terlewatkan dari kesempatan meraih keutamaan yang sangat besar ini.

Amalan lain yang juga dikerjakan pada hari Arafah adalah memulai mengumandangkan takbir muqayyad. Yaitu dimulai ketika selesai shalat shubuh sebagaimana telah disinggung di atas. Hanya saja para ulama berbeda pendapat, kapan lantunan kalimat yang mengandung pengagungan kepada Allah subhaanahu wa ta’aalaa ini diucapkan, apakah setelah istighfar (dalam bacaan dzikir setelah shalat), atau sebelumnya. Menurut Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullaah, yang benar adalah takbir muqayyad ini diucapkan setelah istighfar dan kalimat ‘Allahumma antassalam wa minkassalam…’ (Asy-Syarhul Mumti’)

dikutip dari "Amalan Mulia seputar Idul Adha"
Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Kediri
darussalaf.or.id

Tawasul Dengan Perantara Orang Shalih

by admin aluyeah
Tawasul Dengan Perantara Orang Shalih | al-uyeah.blogspot.com
“Sesungguhnya ‘Umar bin Al-Khaththab beristisqa` (minta turun hujan) melalui ‘Abbas bin Abdul Muththalib bila ditimpa musim kering (yang berakibat terjadinya paceklik). Beliau (‘Umar) berkata: “Ya Allah, sesungguhnya kami dulu bertawassul dengan Nabi Engkau dan Engkau menurunkan air hujan. Dan sekarang kami bertawassul dengan paman Nabi Engkau, maka turunkanlah atas kami hujan, beliau berkata: ‘Lalu turun hujan buat mereka’.”

Mereka (ahli kebatilan) mengatakan: “Dari hadits ini, ‘Umar bertawassul dengan jah (kedudukan), dan dia memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Dan tawassul ‘Umar hanya sebatas menyebut nama Al-‘Abbas di dalam doa beliau dan meminta kepada Allah untuk menurunkan hujan. Ditambah lagi, para shahabat menyetujui hal itu. Adapun sebab ‘Umar berpaling dari bertawassul dengan Rasulullah hanyalah sebatas ingin menjelaskan bolehnya bertawassul dengan “mafdhul” (orang yang lebih rendah kedudukannya) bersamaan dengan adanya yang lebih afdhal.”

Bantahannya: Pemahaman mereka tentang hadits di atas dengan maksud demikian sangatlah keliru dari banyak sisi:

1. Kaidah di dalam syariat mengatakan bahwa nash-nash itu saling menjelaskan sebagiannya atas sebagian yang lain. Tidak boleh memahami sebuah nash dengan melepaskan keterkaitannya dengan nash yang lain. 

Berdasarkan hal ini, hadits ‘Umar harus dipahami dengan riwayat-riwayat yang lain yang menjelaskan tentang tawassul. Dan keterangan riwayat-riwayat yang banyak tersebut menjelaskan, bahwa para shahabat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam ketika ditimpa oleh paceklik, mereka bertawassul dengan doa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam dengan cara mendatangi beliau ketika masih hidup dan meminta agar beliau berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan, dan bukan dengan kepribadian (zat) dan kedudukan beliau yang tinggi di sisi Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik radiyallahu'anhu yang shahih:

“Ketika Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba seseorang datang lalu berkata: ‘Ya Rasulullah, hujan tertahan (menyebabkan paceklik). Berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kami.’

Lalu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam berdoa dan hujan turun atas kami, hampir-hampir kami tidak bisa pulang ke rumah-rumah kami, dan hujan tersebut berlangsung sampai Jum’at berikutnya. (Anas) berkata: “Orang tersebut atau –yang selain dia– bangkit dan berkata: ‘Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Allah memalingkan hujan dari kami.’

Lalu Rasululah Shallallahu'alaihiwasalam berdoa: ‘Ya Allah, palingkan hujan itu dari kami dan jangan dijadikan sebagai bahaya bagi kami.’ Anas berkata: “Sungguh aku menyaksikan gumpalan awan terpisah-pisah ke arah kanan dan kiri lalu turun hujan untuk mereka (selain penduduk Madinah), dan hujan tidak turun bagi penduduk Madinah.”

Berarti ucapan ‘Umar:

“Sesungguhnya kami dulu bertawassul dengan Nabi Engkau dan Engkau menurunkan air hujan. Dan sekarang kami bertawassul dengan paman Nabi Engkau…”

Dalam ucapan tersebut ada sebuah kata yang terbuang yang dengannya akan sempurna dan sesuai dengan nash-nash lain yang shahih dan kata yang terbuang itu harus didatangkan. Dan kata yang terbuang itu ada dua kemungkinan, pertama: “Kami bertawassul kepada-Mu dengan jah(1) (kedudukan) Nabi-Mu dan jah (kedudukan) paman Nabi-Mu”, atau kedua: “Kami bertawassul kepada-Mu dengan doa(2) Nabi-Mu dan dengan doa paman Nabi-Mu”.

Untuk menghukumi mana yang benar dari dua kemungkinan ini, kita harus kembali kepada As Sunnah dan yang sesuai dengan riwayat-riwayat yang shahih. Dan yang benar dan sesuai dengan riwayat yang shahih adalah kemungkinan yang kedua.

2. Tawassul secara bahasa dan yang difahami oleh ‘urf (kebiasaan yang sudah berlangsung) melalui lisan-lisan orang Arab adalah seperti apa yang telah dipahami dan yang dilakukan oleh para shahabat kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam. 

Bentuknya adalah bila engkau memiliki hajat kepada seseorang dan orang ini memiliki kedudukan (misalnya) sebagai pimpinan, lalu engkau mendatangi seseorang yang lebih didengar suaranya oleh pimpinan tersebut, maka engkau mengutarakan hajatmu kepadanya untuk disampaikan kepada pimpinan. Demikianlah definisi tawassul di kalangan orang Arab sejak dahulu.

Dan bukan makna tawassul adalah bila kamu datang kepada pimpinan itu lalu mengatakan: ‘Hai pimpinan, karena jah (kedudukan) orang tersebut dan dekatnya posisinya di sisimu, maka tunaikanlah hajatku.’

3. Ucapan mereka (ahli kebatilan): “Bahwa para shahabat merestui perbuatan ‘Umar”

Mereka merestuinya karena memang perbuatan ‘Umar tidak menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam. Dan jika perbuatan ‘Umar menyelisihi Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam, niscaya mereka (para shahabat) akan menentang perbuatan ‘Umar.

Dan mustahil mereka akan sepakat di dalam kebatilan sedangkan mereka adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Dan perbuatan ‘Umar sesuai dengan riwayat-riwayat yang shahih di atas dimana beliau datang kepada Al-‘Abbas dan meminta agar beliau (Al-‘Abbas) berdoa kepada Allah agar Dia menurunkan hujan, sebagaimana permintaan yang terjadi di masa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam masih hidup.

Makna hadits ‘Umar di atas telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah di dalam kitab beliau Fathul Bari (2/571, cet. Darul Hadits, Mesir): “Telah dijelaskan oleh Az-Zubair bin Bakkar di dalam kitab Al-Ansab, tentang sifat doa Al-‘Abbas dalam peristiwa ini dan waktu terjadi hal itu. Beliau meriwayatkan dengan sanad beliau, di saat ‘Umar bertawassul dengan Al-’Abbas dalam istisqa`, Al-’Abbas berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya tidaklah turun bala` melainkan karena sebuah dosa dan tidak akan dihilangkan melainkan dengan bertaubat. Dan kaum itu telah mendatangiku untuk menyampaikan hajat mereka kepada-Mu karena kedudukan diriku di hadapan Nabi-Mu, dan ini tangan-tangan kami berlumuran dengan dosa dan ubun-ubun kami (mengiqrarkan) taubat. Turunkanlah kepada kami hujan. Kemudian turun hujan dari langit sehingga bumi menjadi subur dan manusia bisa hidup.”

4. Ucapan ahli kebatilan: “Ini bukti bahwa ‘Umar bertawassul dengan jah (kedudukan) Al-‘Abbas.”

Kalau benar ‘Umar bertawassul dengan jah (kedudukan) Al-‘Abbas niscaya beliau tidak akan meninggalkan bertawassul dengan jah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam walaupun beliau telah wafat. Karena bertawassul dengan jah beliau Shallallahu'alaihiwasalam bisa dilakukan sekalipun beliau Shallallahu'alaihiwasalam telah wafat. Dan tentu para shahabat yang lain akan menegur ‘Umar, kenapa meninggalkan bertawassul dengan jah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam lalu berpaling kepada Al-‘Abbas. Dan sungguh kita mengetahui semangat para shahabat untuk melakukan sesuatu yang lebih utama.

5. Mereka mengatakan: “Umar berpaling dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam dalam bertawassul kemudian menuju Al-‘Abbas, untuk menjelaskan tentang kebolehan bertawassul dengan yang mafdhul (kurang utama) bersamaan dengan adanya yang afdhal (lebih utama).”

Alasan ini adalah batil dari banyak sisi:

1. Tawassul yang benar/ syar’i kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam setelah wafat beliau merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Dan bagaimana mereka akan pergi ke makam Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam lalu menjelaskan keadaan mereka dan meminta kepada beliau, agar beliau berdoa kepada Allah supaya dibebaskan dari bala` yang menimpa, sementara Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam telah menghadap Allah?

Karena memang tidak diperbolehkan itulah, sehingga ‘Umar bertawassul dengan doa paman Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam, Al-‘Abbas. Bila hal itu diperbolehkan setelah wafat beliau dan ‘Umar meninggalkan hal demikian, berarti ‘Umar meninggalkan Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam. Dan tidak mungkin hal itu terjadi pada diri orang terbaik umat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam setelah Abu Bakr radiyallahu'anhu.

2. Manusia dengan fitrah yang ada pada diri mereka, ketika ditimpa oleh malapetaka yang dahsyat, tentu akan mencari sebab yang lebih kuat untuk segera terselesaikan darinya, dan akan mencari wasilah yang lebih besar dan afdhal agar segera terbebaskan dari malapetaka tersebut. Dan jika tawassul dengan jah Nabi Shallallahu'alaihiwasalam diperbolehkan, kenapa ‘Umar harus mencari yang mafdhul (kurang afdhal) dan meninggalkan yang afdhal?

3. Taruhlah bahwa terbetik pada diri ‘Umar untuk bertawassul kepada Allah melalui Al-‘Abbas dengan tujuan untuk menjelaskan hukum fiqih yang mereka duga yaitu: “Menjelaskan tentang kebolehan bertawassul dengan yang mafdhul bersamaan dengan adanya yang afdhal,” apakah hal itu juga akan terbetik pada diri Mu’awiyah dan Ad-Dhahhak bin Qais di saat keduanya bertawassul dengan doa seorang tabi’in yang memiliki kemuliaan, Yazid bin Al-Aswad Al-Jurasyi, dan tidak mencukupkan dengan apa yang dilakukan oleh ‘Umar? Tentu ini adalah alasan yang berlebihan.

4.  Di dalam kisah ‘Umar tersebut ada sebuah rahasia yang mungkin perlu diperhatikan yaitu:

“Sesungguhnya ‘Umar bila terjadi musim kemarau, beliau melakukan istisqa’ dengan meminta Al-‘Abbas untuk berdoa.”

Ucapan ini menjelaskan bahwa ‘Umar sering melakukan yang serupa setiap kali terjadi musim kemarau yang panjang. Dan kalau untuk menjelaskan hukum fiqih di atas, niscaya ‘Umar tidak akan melakukannya berulang-ulang dan cukup melakukannya satu kali.

Catatan Kaki

1 Taqdiran (kemungkinan kata yang terbuang) yang pertama

2 Taqdiran kedua

Dikutip dari "Tawassul, Syubhat dan Bantahannya"
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
AsySyariah.com

Ruju’ Kepada Kebenaran Adalah Ciri Ahlus Sunnah

by admin aluyeah
Ruju’ Kepada Kebenaran adalah Ciri Ahlus Sunnah | al-uyeah.blogspot.com
Dakwah Salafiyyah sejak dulu tidak pernah terikat dengan pribadi manapun kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Dakwah Salafiyyah juga tidak pernah terikat dengan organisasi apapun. Dakwah ini hanya terikat dengan Al Quran dan As Sunnah di atas pemahaman para shahabat radiyallahu ‘anhum dan seluruh Salafus Shalih yang dibawa para Ulama Ahlus Sunnah.

Pengikut dakwah Salaf Ahlussunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk mengkaji ilmu dan mengamalkannya di atas sumber-sumber tersebut. Karena itu, mereka senantiasa berjalan di atas ilmu dan bimbingan para ulama.

Namun para Salafiyyun (pengikut dakwah Salafiyah) bukanlah orang-orang yang ma’shum yang terbebas dari kesalahan. Mereka sangat mungkin untuk tergelincir dalam berbagai kesalahan dan penyimpangan Dan sebagai realisasi dari sikap tunduk mereka di hadapan kebenaran, setiap terjadi penyimpangan dari jalan yang lurus atau penentangan terhadap ulama, segeralah mereka saling mengingatkan dan meluruskannya. Sehingga kritik, koreksi, teguran, atau bantahan ilmiah adalah sesuatu yang sangat wajar dalam sejarah perjalanan dakwah ini. Sebaliknya sikap taqlid, membebek dan ikut-ikutan sama sekali tidak dikenal oleh Ahlussunnah dan Salafiyyun.

Hidupnya budaya kritik ilmiah akan memperlihatkan siapa yang benar-benar berdiri sebagai Ahlussunnah dan siapa yang hanya ikut-ikutan. Bagi mereka yang menolak kritik dan tidak mau rujuk pada kebenaran, maka mereka adalah pengikut hawa nafsu atau ahlul ahwa. Bagi Ahlus Sunnah, teguran dan kritik akan segera membawanya kembali kepada Al Haq. Sedangkan pengikut hawa nafsu, mereka akan menentang ilmu dan nasehat ulama dengan berbagai alasan. Mereka berani menarik-narik makna ayat dan hadits agar mencocoki hawa nafsu, bahkan berani mencela para ulama agar ditolak fatwanya.

Dengan prinsip ini, maka kami membuat pernyataan ruju kepada kebenaran dan kembali kepada prinsip dakwah Salafiyyah setelah kami mengalami berbagai ketergelinciran. Yakni saat kami menjalani jihad di Ambon (Maluku) dan Poso (Sulteng), karena dalam jihad tersebut kami banyak terjatuh pada penyimpangan-penyimpangan lain yang tidak sejalan dengan Manhaj Salaf.

Tanpa terasa kami terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan yang bermuara pada satu titik yaitu politik massa atau penggunaan potensi massa dalam perjuangan. Sungguh kesesatan seperti inilah yang terjadi pada Ahlul bid’ah dan hizbiyyun dari kalangan Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyin (pengikut Sayyid Quthb) dan Sururiyyin (pengikut Muhammad Surur) dan lain-lain. Dengan penyimpangan yang kami jalani saat itu, muncullah tindakan-tindakan persis seperti yang dilakukan Ikhwanul Muslimin, diantaranya :

1. Sistem komando yang meluas menjadi organisasi yang digerakkan dengan sistim imarah dan bai’at.
2. Lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas dalam organisasi.
3. Demonstrasi, unjuk rasa dan yang sejenisnya menjadi hal yang biasa.
4. Mencari dukungan politis dari berbagai kelompok dengan tidak memperhatikan apakah mereka Ahlus Sunnah, orang awam atau Ahlul Bid’ah.
5. Dari sinilah timbul ide untuk mengadakan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dengan mengundang tokoh-tokoh politik dan Ahlul Bid’ah.
6. Mulai menggampangkan dusta dengan dalih bahwa perang adalah tipu daya.
7. Bermudah-mudahan dalam maksiat seperti fotografi dan ikhtilath karena mengimbangi orang awam.
8. Mengingkari kemungkaran dengan menggunakan gerakan massa dan kekerasan dan seterusnya.

Kemudian datanglah teguran dari para ulama dengan harapan agar kami kembali kepada Manhaj Salaf dalam dakwah dan jihad serta membubarkan diri dari Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jama’ah (FKAWJ) dan Laskar Jihadnya (LJ). Maka karena kami memulai Jihad ini dengan bimbingan para ulama, maka bubarpun juga dengan bimbingan para ulama.

Tidak cukup hanya membubarkan diri dan meninggalkan penyimpangan-penyimpangan yang kami telah terjerumus padanya, namun kami mempunyai kewajiban untuk menerangkan kepada masyarakat bahwa apa yang kami lakukan dahulu bukanlah dari Manhaj Salaf. Karena ketika itu kita mengibarkan bendera Dakwah Salafiyyah dan Ahlus Sunnah, maka kami khawatir penyimpangan-penyimpangan tersebut dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Inilah sesungguhnya yang paling penting!

Untuk itulah saya (Muhammad Umar as Sewed) sebagai salah satu mantan dari Dewan Ustadz di FKAWJ yang membawahi LJ, menerjemahkan buku berjudul Al Wardul Maqtuf fi Wujubi Tha’ati Wulati Amril Muslimin Bil Ma’ruf, yang ditulis oleh Syaikh Abu Abdirrahman Fauzi al Atsari *), yang berisi tentang bagaimana seharusnya seorang Salafi Ahlussunnah bersikap kepada penguasanya.

Ini merupakan salah satu realisasi dari sikap rujuk kami.

Dalam buku ini dimuat prinsip-prinsip Ahlus Sunnah yang berkaitan dengan tatacara memberi nasihat dan beramar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa. Juga diterangkan tentang kewajiban taat kepada penguasa selama perintahnya bukan berupa kemaksiatan. Mudah-mudahan dengan ini kita telah melaksanakan kewajiban yang Allah perintahkan kepada orang yang terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan, sebagaimana firman Nya.

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS Al Baqarah: 160]

Dengan demikian apa yang telah kami lakukan, yang bertentangan dengan prinsip-prinsi Manhaj Salaf, kami bertaubat kepada Allah dan menyatakan dengan tegas bahwa itu bukan Manhaj Ahlus Sunnah, tetapi kekeliruan dan ketergelinciran kami. Hujjah tetap pada Al Quran dan As Sunnah, bukan pada apa yang dilakukan oleh FKAWJ atau LJ atau siapapun yang mengaku Ahlus Sunnah.

Akhirnya, kami – bersama segenap para ustadz yang dulu terlibat dalam FKAWJ/LJ – berharap kepada Allah agar mengampuni kita semua. menerima amal ibadah dan jihad kita dan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan dan Jannah. Juga kami memohon maaf kepada semua pihak dari kaum muslimin umumnya dan Salafiyyin khususnya atas kesalahan kami pada masa lalu itu.

Muhammad Umar As Sewed

(Dikutip dari terjemahan Al Ward Al Maqtuf fi Wujubi Tha’ati Wulati Amri Al Muslimina bi Al Ma’ruf, penulisan Abu Abdirrahman Fauzi al Atsari. Pengantar oleh Asy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan. Penerbit Maktabah Ahlul Hadtis 1419 H, Bahrain bekerjasama dengan Maktabah At Taubah, Riyadh. Edisi Indonesia Meredam Amarah terhadap Pemerintah, Menyikapi Kejahatan Penguasa Menurut Al Quran dan As Sunnah. Penerjemah Al Ustadz Abu Ibrahim Muhammad
Umar As Sewed. Penerbit Pustaka Sumayyah, Jl. Mangga Komplek Pasar Banjarsari Blok F Lantai 1 no 10-11 Pekalongan Tel (0285) 429410 HP/SMS 081 5872 1440. Email pustakasumayyah@plasa.com. Cetakan Pertama, Muharram 1427 H/Februari 2006)

*) Catatan Penting
Pernyataan taubat ini sesungguhnya telah lama saya tulis, namun sayang sekali karena satu dan lain hal buku yang memuat taubat tersebut tak kunjung diterbitkan oleh Maktabah Salafy Press, sampai dengan tutupnya penerbit Maktabah Salafy Press.

Alhamdulillah, buku tersebut akhirnya diterbitkan oleh Pustaka Sumayyah. Namun sangat disayangkan kembali terlambatnya penerbitan buku terjemah ini sampai pada waktu penulisnya (Syaikh Fauzi Al Atsary) mendapatkan teguran dari syaikh Rabi’ ibn Hadi al Madkhali, (dari Sahab.net).

Mengingat buku ini adalah buku yang bagus dan dipuji syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat kaum muslimin secara umum dan khususnya orang-orang yang sedang berupaya menelusuri jejak Sunnah, maka saya menerjemahkannya sebagai teguran dan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah kami lakukan di masa Laskar Jihad, bahkan kami memuat waktu itu pujian-pujian para ulama pada penulis buku tersebut. Maka dengan catatan ini saya menyatakan berlepas diri dari kesalahan dan penyimpangan Syaikh Fauzi Al Atsary yang terjadi kemudian.

Cirebon, 8 Mei 2006

Muhammad Umar As-Sewed

"Ruju’ Kepada Kebenaran adalah Ciri Ahlus Sunnah"
(Kata Pengantar Buku Meredam Amarah Terhadap Pemerintah)
Salafycirebon.com

Homoseksual

by admin aluyeah
Homoseksual | al-uyeah.blogspot.com
Kisah Nabi Luth 'Alaihisalam ini seiring dengan kisah Nabi Ibrahim 'Alaihisalam. Karena beliau adalah murid yang belajar kepada Nabi Ibrahim 'Alaihisalam dan kedudukannya seperti anak bagi Nabi Ibrahim 'Alaihisalam.

Allah mengangkatnya menjadi Nabi di masa Khalilullah Ibrahim 'Alaihisalam masih hidup, dan Allah mengutusnya ke negeri Saddom di Palestina. Masyarakat di sana, selain berbuat syirik kepada Allah juga melakukan perbuatan homoseks yang belum pernah ada seorang pun melakukan kekejian ini selain mereka.

Nabi Luth 'Alaihisalam menyeru mereka untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan melarang dari perbuatan keji tersebut (homoseks). Namun seruan itu tidak menambah kepada mereka kecuali penentangan dan kedurhakaan.

Dan ketika Allah hendak menghancurkan mereka, Allah mengutus beberapa malaikat kepada Nabi Ibrahim 'Alaihisalam dan menyampaikan hal ini kepadanya. Nabi Ibrahim 'Alaihisalam mendebat para malaikat itu, jangan sampai membinasakan kaum Luth 'Alaihisalam dan beliau memang seorang yang penyayang dan santun. Allah menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim 'Alaihisalam berkata:

“Sesungguhnya di negeri itu ada Luth.” Para malaikat itu berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya.” (Al-’Ankabut: 32)

Dan dikatakan kepada beliau:

“Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini, sesungguhnya telah datang keputusan Rabbmu, dan sesungguhnya mereka itu akan ditimpa adzab yang tidak dapat ditolak.” (Hud: 76)

Ketika para malaikat itu datang kepada Nabi Luth 'Alaihisalam dalam wujud pemuda yang gagah, beliau merasa gelisah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka. Beliau berkata:

“Ini adalah hari yang amat sulit.” (Hud: 77)

Perasaan gelisah Nabi Luth 'Alaihisalam ini muncul karena beliau tahu kejelekan yang ada pada masyarakatnya. Terjadilah apa yang dikhawatirkan. Kaumnya datang bergegas-gegas, ingin melakukan kekejian terhadap para tamu Nabi Luth 'Alaihisalam. Beliau berkata:

“Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagi kalian.” (Hud: 78)

Beliau ucapkan demikian karena tahu mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterinya. Seperti juga yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman 'Alaihisalam ketika menawarkan kepada dua orang wanita yang bersengketa masalah bayi, lalu beliau berkata: “Ambilkan sebilah pisau agar saya belah jadi dua bayi ini untuk kalian berdua.” Padahal tindakan itu sama sekali tidak terjadi. Dan ini juga demikian.

Oleh sebab itulah kaumnya mengatakan sebagaimana dikisahkan oleh Allah Ta'ala:

“Sesungguhnya kamu sudah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang kami kehendaki.”(Hud: 79)

Juga maksud beliau berkata demikian adalah untuk minta udzur dari para tamunya. Dengan takwil atau tafsir seperti ini, maka tidak perlu kita berpegang dengan pendapat sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa:

“Inilah puteri-puteriku.”

Maksudnya adalah isteri-isteri mereka sendiri. Yakni, karena sesungguhnya seorang Nabi adalah seperti seorang ayah bagi umatnya. Namun pendapat ini lemah dari dua sisi, yaitu:

1. Firman Allah yang mengisahkan perkataan Nabi Luth: “Inilah puteri-puteriku.” Isyarat yang terdapat di sini adalah isyarat yang menunjukkan kepada sesuatu yang hadir atau ada di tempat kejadian waktu itu.

2. Sedangkan memaknakan ungkapan puteri-puteri tersebut kepada arti isteri-isteri, sesungguhnya tidak ada qarinah (hal-hal yang mendukung) atau yang serupa dengan bentuk ini. Juga, kedudukan seorang Nabi seperti seorang ayah hanya berlaku bagi orang-orang mukmin semata, tidak meliputi orang-orang kafir. Sehingga apa yang dikhawatirkan oleh para mufassir (ahli tafsir) itu gugur dengan alasan ini. Apalagi sudah diketahui bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan terhadap jenis perempuan.

Juga yang beliau inginkan adalah berusaha membela tamu-tamunya dengan berbagai cara. Namun akhirnya posisi Nabi Luth 'Alaihisalam semakin sulit. Beliaupun berkata:

“Seandainya aku mempunyai kekuatan terhadap kalian atau kalau aku dapat berlindung kepada pihak yang sangat kuat (tentu aku lakukan).” (Hud: 80)

Yaitu kekuatan untuk menolak kalian. Maka tatkala beliau melihat tekad mereka sudah bulat untuk melaksanakan keinginan jahat, beliau bekata pula:

“Wahai kaumku, bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku  terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal?”  (Hud: 78)

Namun mereka tetap dalam kesesatan dan keadaan hilang akal. Ketika itu pula para malaikat Allah Yang Maha Pengasih menerangkan kepada Nabi Luth 'Alaihisalam siapa dan apa sesungguhnya kepentingan mereka. Bahwa mereka adalah malaikat yang diutus untuk menghancurkan negeri ini.

Maka Jibril atau malaikat yang lain menghadang mereka di depan pintu dan membutakan mata mereka. Jadilah hal itu sebagai adzab yang disegerakan bagi mereka dan sekaligus contoh bagi mereka yang mencoba memaksa Nabi Luth 'Alaihisalam untuk menyerahkan tamunya kepada mereka.

Kemudian para malaikat itu menganjurkan Nabi Luth 'Alaihisalam membawa pergi pengikutnya meninggalkan rumah-rumah di malam hari, agar selamat dari terpaan adzab.

Nabi Luth 'Alaihisalam dan kaumnya segera berangkat sebelum Subuh sampai jauh meninggalkan rumah-rumah mereka. Allah menjungkirbalikkan rumah-rumah tempat tinggal mereka sehingga negeri tersebut yang di atas akhirnya ke bawah, kemudian menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang telah diberi tanda oleh Allah dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang dzalim yang melakukan kekejian seperti mereka.

Di dalam kisah ini terdapat dalil yang sangat jelas bahwa dosa liwath (perbuatan homoseks) adalah perbuatan yang sangat buruk dan keji. Perbuatan ini berakibat adzab yang sangat mengerikan. Siapa saja yang diuji dengan perbuatan ini maka agama telah hilang dari dalam dirinya dan telah terbalik nilai-nilai keindahan dalam dirinya menjadi kejelekan. Akhirnya, dia akan menganggap baik sesuatu yang buruk dan lari menghindar dari sesuatu yang baik. Semua ini merupakan bukti telah terjadinya kemerosotan akhlak.

Dalam kisah ini dan kisah Nabi Ibrahim 'Alaihisalam disebutkan tentang bolehnya ta’ridh (sindiran). Dalam kisah Nabi Ibrahim 'Alaihisalam adalah:

“Lalu ia memandang sekilas ke arah bintang-bintang. Kemudian bekata: Sesungguhnya aku sakit.” (Ash-Shaffat: 88-89)1

Sedangkan dalam kisah Nabi Luth 'Alaihisalam:

“Hai kaumku, inilah puteri-puteriku mereka lebih suci bagi kalian.” (Hud: 78)

At-ta’ridh ini dapat terjadi dalam bentuk ucapan ada pula yang berupa perbuatan. Artinya, seorang pembicara atau pelaku menghendaki suatu urusan yang bukan dosa, tapi menimbulkan sangkaan pada yang mendengar atau yang melihatnya bahwa urusan itu adalah urusan yang lain, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atau menolak suatu mudharat.

Dari kisah ini juga disebutkan bahwa ciri-ciri seorang yang rasyid (berakal) adalah orang yang benar perkataan dan perbuatannya. Termasuk di antaranya menolong orang yang teraniaya, membantu orang yang dalam kesulitan, menganjurkan kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Inilah yang dikatakan rasyid yang sesungguhnya. Oleh karena itulah Nabi Luth 'Alaihisalam mengatakan:

“Tidak adakah di antara kalian seorang yang berakal?” (Hud: 78)

Yakni, kalau dia seorang yang berakal tentu dia akan memerintahkan orang lain untuk berbuat baik dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan dia akan menjauhkan orang-orang yang jahat dan keji (dari orang lain).

Dalam kisah ini juga, terdapat anjuran untuk bersegera memberi bantuan dalam masalah kebaikan dan melenyapkan kejahatan. Meskipun yang membantu adalah juga orang yang jahat. Karena sesungguhnya Allah juga menguatkan atau membela agama ini dengan seorang yang fajir (jahat) dan dengan suatu bangsa yang sama sekali tidak berakhlak di sisi Allah. Nabi Luth 'Alaihisalam mengatakan:

“Seandainya aku ada mempunyai kekuatan terhadap kalian atau aku dapat berlindung kepada pihak yang kuat (tentu aku lakukan).” (Hud: 80)

Kebanyakan para Nabi yang Allah utus berasal dari kalangan bangsawan di tengah-tengah kaumnya, sehingga dengan keadaan ini dapat terwujud pembelaan terhadap al-haq dan dihancurkannya kebatilan serta kekokohan dalam dakwah, yang belum tentu diperoleh jika tidak demikian. Perhatikanlah keadaan Nabi Syu’aib 'Alaihisalam dan ucapan kaumnya:

“Dan kalaulah tidak karena keluargamu tentulah kami sudah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.” (Hud: 91)

Demikian pula keadaan Nabi kita Muhammad Shallallahu'alaihiwasalm yang lahir di tengah-tengah keluarga yang paling terhormat dan mulia di kalangan masyarakat Quraisy. Beliaupun mendapatkan permusuhan hebat dari kaumnya. Bahkan mereka berkali-kali mengadakan majelis untuk menolak perkataan dan ajaran yang beliau bawa, juga bagaimana cara melenyapkannya. Di antara hal-hal yang menghalangi mereka adalah ketakutan mereka terhadap kabilah beliau.

Perhatikan ketika orang-orang Quraisy mengadakan pemboikotan terhadap Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam di sebuah lembah dan keikutsertaan kabilah beliau yang muslim maupun yang masih kafir siap menanggung resiko bersama beliau.

Tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang kafir Quraisy bahwa mereka akan sanggup melenyapkan pribadinya yang mulia sampai mereka merencanakan makar yang lebih besar lagi. Yakni, ketika mereka sudah bersatu padu untuk membunuhnya dengan mengirim seorang laki-laki dari setiap kabilah yang ada agar masing-masing kabilah bertanggung jawab atas darah beliau, sehingga keluarga beliaupun mau tidak mau harus menerima dan merelakan untuk menerima tebusan mereka. Akan tetapi biarpun mereka berbuat makar, Allah membalas makar atau tipu daya mereka itu. Dan Allah adalah sebaik-baik Yang membalas tipu daya.

Footnote :

(1) Bentuk ta’ridh dalam ayat ini adalah perkataan Nabi Ibrahim u: “Sesungguhnya aku sakit”, yang beliau maksud adalah “Aku akan sakit”. Atau menurut pendapat lain, beliau waktu itu memang sedang sakit demam… (Syarah Shahih Muslim, juz 15-16 hal. 123-124, cet. Darul Ma’rifah)

"Nabi Luth dan Kaum Homoseks"
ditulis oleh: Al-Ustadz  Abu Muhammad Harits
AsySyariah.com

Menggenggam Bara Api

by admin aluyeah
Ledakan Penduduk | al-uyeah.blogspot.com
Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.

Menggenggam Bara Api?

Sebagai bentuk kesempurnaan iblagh risalah (penjelasan tugas kerasulan), Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali menjelaskan sesuatu dengan contoh nyata yang disaksikan di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, maksud dari risalah dan nubuwah dapat dimengerti dan dipahami dengan baik.

Salah satu contohnya adalah hadits Anas bin Malik di atas. Beliaum memberitakan tentang kondisi pengikut setia beliau di akhir zaman, yang mesti berkorban besar demi berdiri kokoh di atas kebenaran. Masa-masa yang dipenuhi dengan godaan syahwat dan syubhat, kejahilan yang semakin merata, ilmu yang dicabut dengan wafatnya para ulama, dan semakin lemahnya semangat untuk mencari kebenaran hakiki.

Dalam kondisi semacam itu, seorang hamba yang bertekad menegakkan dinul islam secara utuh dan kaffah harus menjalani hari-hari sulit. Sulit dan beratnya menggenggam kebenaran diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sulit dan beratnya menggenggam bara api. Nas’alullahul i’anah.

Al-Imam al-Munawi rahimahumallah (Faidhul Qadir 6/590) menjelaskan hadits di atas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan tentang sesuatu yang abstrak dengan hal yang nyata. Artinya, seorang hamba yang bersikap sabar untuk melaksanakan hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, pasti akan merasakan permusuhan dan kebencian dari kalangan ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat.

Hal ini disamakan dengan seseorang yang menggenggam bara api dengan telapak tangannya, bahkan lebih dahsyat lagi. Hadits ini termasuk mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, beliau memberitakan tentang sesuatu yang bersifat gaib dan kemudian benar-benar terjadi.”

Ath-Thibi rahimahumallah (Marqatil Mafatih 15/307) menjelaskan, “Makna hadits di atas, sebagaimana halnya seseorang yang menggenggam bara api tidak mampu bersabar karena tangannya akan terbakar, demikianlah pula seorang hamba yang ingin menegakkan agama sepenuhnya. Ia akan merasa kesulitan untuk tetap tegar di atas agamanya. Sebab, maksiat lebih dominan dan mayoritas manusia adalah para pelaku maksiat. Demikian pula kefasikan telah menyebar, ditambah lagi dengan lemahnya keimanan.”

Bukan Sebatas Berita

Apakah hadits ini hanya sebatas berita saja? Tidak! Alangkah sayang dan cintanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat ini. Beliau mewariskan sebuah nasihat emas untuk umat agar mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dalam menghadapi kenyataan pahit ini. Jangan terkejut! Jangan kaget! Jangan bersedih! Melewati hari-hari di dunia dalam keterasingan demi menegakkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari.

Jika Anda dibenci, dimusuhi, dijauhi, dan dikucilkan hanya karena ingin menjalankan ibadah sesuai tuntunan al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, berbahagialah. Tidak perlu berkecil hati dan tidak usah bergundah gulana. Mengapa harus berkecil hati? Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Islam mulai dalam keadaan terasing. Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba untuk mereka yang terasing.” (HR. Muslim)

An-Nawawi rahimahumallah (dalam Syarah Shahih Muslim) menyebutkan beberapa penafsiran dari kata Thuba. Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan, surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain. Lalu an-Nawawi rahimahumallah menyimpulkan, “Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas. Wallahu a’lam.”

Berbahagialah Anda yang hidup dalam keterasingan karena memilih hidup di dunia sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan yang telah dijalani dan diteladankan pula oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka dengan baik.

Para Nabi Pun Merasakan

Seberat dan sesulit apapun cobaan dan ujian yang mesti dihadapi oleh seorang muslim demi menegakkan tauhid dan as-Sunnah, hakikatnya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang pernah dihadapi dan dirasakan oleh para nabi.

Ya, para nabi lebih berat cobaannya. Mereka didustakan oleh kaumnya, diusir, diancam, disakiti secara fisik, dituduhdengan keji, bahkan tidak sedikit dari mereka yang dibunuh. Oleh sebab itu, sering-seringlah membaca kisah para nabi dan rasul di dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Sungguh, membaca kisah-kisah mereka akan menyejukkan hati, terkhusus kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)

Jika Anda diancam untuk dipenjarakan, diusir, bahkan dibunuh hanya karena Anda ingin menegakkan agama Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, janganlah bersedih dan berkecil hati. Sungguh, Allah pasti membela hamba-Nya yang ingin membela agama-Nya!

Pandangan Manusia Umumnya Adalah Dunia, Jangan Terpukau!

Salah satu faktor yang dapat membantu seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran adalah tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di sekelilingnya. Biarlah “keindahan” duniawi mereka kejar dengan penuh ambisi dan nafsu angkara. Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik. Umar bin al-Khaththab (Shahih Muslim no. 1479) pernah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam ruang khusus beliau. Melihat kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Umar tentang sebab dia menangis. Umar lalu menyampaikan kepada Rasulullah tentang kehidupan Raja Persia dan Raja Romawi yang penuh dengan kesenangan dan kelezatan duniawi. Sementara itu, beliau adalah seorang hamba terpilih dan utusan Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الْآخِرَةُ

Apakah engkau tidak ridha? Dunia untuk mereka sementara kenikmatan di akhirat nanti untukmu?

Benar. Seorang muslim yang sungguh-sungguh ingin mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti merasakan kesempitan duniawi. Bukankah memang dunia adalah penjara bagi seorang mukmin? Namun, kesempitan duniawi itu tidaklah berarti setitik pun dibandingkan ketenteraman jiwa selama hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di surga Allah Subhanahu wata’ala kelak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan ayat di atas, “Allah lberfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Janganlah engkau terpukau dengan mereka, kaum yang berlebihan materi dan hidup dalam kemewahan, dan yang semisal mereka. Sebab, semua itu hanyalah bunga-bunga kehidupan yang akan sirna dan kenikmatan yang sementara. Kami hanya ingin menguji mereka, dan alangkah sedikitnya hamba- Ku yang pandai bersyukur’.”

Sikap Seorang Muslim

Ketika hati terasa sempit dan dada menjadi sesak karena menyaksikan pahitnya ujian dan cobaan di dunia. Ia ingin mengamalkan ajaran Islam seutuhnya, namun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sikap apa yang harus dipilih oleh seorang muslim dalam kenyataan semacam ini? Ia tidak boleh putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Ia harus yakin dan berprasangka baik bahwa Allah Subhanahu wata’ala pasti membalas dengan ganjaran terbaik. Ia harus tetap beribadah semaksimal mungkin dan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Demi Allah, Dia tidak akan menyelisihi janji Nya.

Sebagai khatimah, marilah kita resapi nasihat indah penyejuk jiwa dari asy- Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berikut ini. Setelah menerangkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas (dalam Bahjah Qulubil Abrar), beliau menutup kajian hadits dengan menyimpulkan, “Dalam kondisi semacam ini, seorang mukmin hanyalah bisa berdoa,

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ،عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا، اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَبِكَ الْمُسْتَغَاثُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم

“Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Dzat yang dipasrahi (urusan), kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Allah, milik-Mulah segala pujian, kepada-Mulah tempat mengadu, Engkaulah Dzat yang dimintai pertolongan, kepada-Mulah diminta kebebasan dari kesempitan. Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah, Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Kemudian, ia berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menegakkan keimanan, nasihat, dan dakwah. Ia berusaha untuk bersikap qanaah dengan hasil yang sedikit jika tidak memungkinkan hasil yang banyak. Ia juga berusaha untuk menghilangkan keburukan dan meminimalkannya, jika selain itu tidak memungkinkan.

Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar untuknya. Barang siapa bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala cukup untuknya. Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Allah Subhanahu wata’alaakan memudahkan seluruh urusannya.”

Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.

” Menggenggam Bara Kesabaran “
Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai
AsySyariah.com