Doa Agar Taqwa

by admin aluyeah
Doa Agar Dikaruniai Ketaatan | al-uyeah.blogspot.com
Pertanyaan:  Saya seorang pemuda, Allah telah memberi saya hidayah untuk meniti jalanNya yang lurus, saya memohon kepada Allah keteguhan hati. Akan tetapi saya masih memiliki sisa-sisa dosa yang saya belum mampu terbebas darinya. Hanya saja, saya bertaubat kepada Allah dari dosa-dosa ini, saya memohon ampun kepadaNya, akan tetapi saya mengulanginya dan saya terjatuh padanya. Setelah hal itu terjadi, saya menyesal dan bertaubat kepada Allah akan tetapi tanpa faedah. Maka saya mengharap bimbingan apa yang mesti saya lakukan agar saya bisa mendidik jiwaku untuk beribadah kepada Allah, dan mantaati-Nya, dan bermaksiat terhadap nafsuku yg sangat mengajak kepada kejelekkan. Apakah saya berdosa dengan taubatku dari suatu dosa kemudian kembali diriku mengulangi dosa tersebut?

Jawaban oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah:

Segala pujian kesempurnaan milik Allah yg telah memberimu petunjuk untuk bertaubat, dan mengkaruniakanmu untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’aala. Ketahuilah wahai akhy, bahwasanya taubat itu menghapus dosa yg lalu. Sebagaimana islam juga menghapus dosa yg lalu. Selama engkau -bihamdillah- setiap kali terjatuh pada sebuah dosa, engkau bersegera bertaubat dengan jujur, maka engkau di atas kebaikkan in syaa Allah.

Maka taubat itu menghapus dosa yg lalu, engkau tidak akan disiksa atas dosa yg engkau telah bertaubat darinya, karena sebab engkau mengulangi dosa tersebut sekali lagi. Engkau hanya akan disiksa dengan dosa yg engkau ulangi yg engkau lakukan. Kemudian jika engkau bertaubat dari hal itu, akan dihapus darimu dosa itu juga, dan demikian seterusnya. Ini adalah karunia dan kebaikanNya-jalla wa’ala.

Jika engkau jujur dalam bertaubat, dan engkau menyesali atas apa telah lalu, engkau bertekad dengan tekad yg jujur untuk tidak mengulangi dan engkau meninggalkan dosa itu. Kemudian ternyata engkau diuji lagi dengannya setelah itu, maka Allah memaafkan atas apa yg telah lewat dengan taubat yg telah lalu.

Dan engkau mesti melawan nafsumu untuk tidak terjatuh dalam dosa lagi, hal ini dengan beberapa cara, diantaranya :

Pertama : Berlindung diri kepada Allah dan memohon hidayah, taufik dan penjagaan padaNya. 

Agar Allah menolong dirimu menghadapi nafsumu dan melawannya. Agar Allah menolongmu menghadapi syaitanmu sampai engkau selamat darinya. Dan Allah Yang Maha Suci berfirman :

”Dan apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku ini dekat. Aku mengkabulkan doanya orang yang berdoa jika dia berdoa padaKu.” (QS. Al-Baqarah 186)

Dialah yang berfirman Yang Maha Suci :

”Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan kabulkan untuk kalian.” (QS. Al-Ghafir 60)

Yang kedua : Engkau harus menjauhi sebab-sebab yang bisa menyeretmu kepada maksiat. 

Jika engkau berteman dengan orang-orang yg melakukannya, maka mesti engkau jauhi mereka sehingga mereka tidak menyeretmu kepada maksiat. Jika engkau masuk rumah-rumah yg bisa menyeretmu kepada maksiat, maka jauhilah rumah-rumah tersebut berhati-hatilah darinya.

Demikian, lihatlah sebab-sebab (maksiat) dan jauhilah.

Perkara ketiga ‎: Melihat kepada akibat buruk maksiat, renungilah akibat-akibat tadi, bahwasanya akibatnya itu sangat buruk, akibatnya sangat buruk. 

Kadang engkau akan tertimpa tidak bisa bertaubat, maka engkau akan merugi, wal’iyadzu billah. Maka hati-hatilah engkau dari akibat buruk dosa-dosa.

Dan fikirkanlah sering-sering, bahwasanya engkau terkadang mendapat taufik untuk bisa taubat, kadang tidak mendapat taufik untuk bertaubat. Hati-hatilah dari maksiat dan jauhilah. Teruslah bertaubat dan jangan engkau tinggalkan. Maka ketika engkau diberi taufik untuk perkara-perkara ini, maka Allah akan menjagamu dari kejelekkan nafsumu, dari syaitanmu. Hanya Allahlah pemilik taufik.

"Perkara Yang Membantu Untuk Terus-Menerus Dalam Ketaatan"
Alih Bahasa: Ustadz Abu Hafs Umar al Atsary
Forumsalafy.net

Agar Doa Dikabulkan

by admin aluyeah
Agar Doa Dikabulkan | al-uyeah.blogspot.com
Dalam berdakwah kepada kaumnya, Nabi Yunus 'alaihisalam menghadapi penentangan yang demikian keras. Sekian lama beliau berdakwah namun tidak juga membawa hasil. Keadaan ini membuat Nabi Yunus 'alaihisalam marah dan meninggalkan kaumnya. Allah Ta'ala pun menegurnya. Bagaimana akhir dari dakwah Nabi Yunus 'alaihisalam?

Nabi Yunus 'alaihisalam termasuk nabi dari keturunan Bani Israil. Allah Ta'ala mengutusnya kepada penduduk negeri Ninawa di Mosul (Irak). Beliau menyeru kaumnya untuk kembali kepada Allah Ta'ala, namun mereka menolaknya. 

Nabi Yunus 'alaihisalam tidak berputus asa, selalu berusaha dan berusaha mendakwahi mereka, namun mereka tetap menolak. Kemudian Nabi Yunus 'alaihisalam mengancam dengan azab dan pergi meninggalkan mereka, tidak sabar sebagaimana mestinya. Beliau 'alaihisalam pergi dalam keadaan marah.

Sementara itu, sepeninggal Nabi Yunus 'alaihisalam, Allah mengilhamkan kepada kaum tersebut untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya. Itu terjadi setelah mereka menyaksikan sebagian dari pendahuluan azab yang diancamkan kepada mereka. Allah pun menyelamatkan mereka dari azab tersebut. Secara lahiriah, Nabi Yunus 'alaihisalam mengetahui mereka telah selamat dari azab itu, namun beliau tetap tidak mau kembali. Oleh karena itulah Allah Ta'ala berfirman:

“Ketika dia pergi dalam keadaan marah.” (Al-Anbiya: 87)

Dan firman Allah Ta'ala:

“ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan.” (Ash-Shaffat: 140)

Nabi Yunus 'alaihisalam naik ke kapal yang sudah penuh dengan penumpang dan barang. Sampai di tengah lautan, kapal tersebut mulai memperlihatkan tanda-tanda akan tenggelam. Saat itu hanya ada dua pilihan, mereka tetap bersama-sama di atas kapal tapi tenggelam semua, atau satu per satu dilemparkan ke laut sekedar meringankan muatan kapal dan menyelamatkan yang lain. Akhirnya diputuskan untuk memilih yang kedua. Mulailah diundi siapa yang akan dilemparkan ke laut. Termasuk dalam undian itu adalah Nabi Yunus 'alaihisalam. Allah Ta'ala mengatakan:

“Lalu dia termasuk orang-orang yang kalah.” (Ash-Shaffat: 141)

Yakni, Nabi Yunus 'alaihisalam kalah dalam undian tersebut. Merekapun melemparnya ke laut dan kemudian ditelan bulat-bulat oleh seekor ikan dari dalam laut. Di dalam kegelapan perut ikan itu, beliau berdoa:

“Tidak ada Ilah melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.” (Al-Anbiya: 87)

Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan ikan tersebut melemparkannya ke tanah yang tandus.  Nabi Yunus 'alaihisalam keluar dari perut ikan seperti anak burung yang keluar dari sebutir telur, betul-betul dalam keadaan sangat lemah. Allah Ta'ala mengasihani beliau dengan menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis labu, dan menaunginya hingga menjadi kuat.

Setelah itu Allah Ta'ala memberi perintah kepadanya untuk kembali ke tengah-tengah kaumnya, supaya mengajari dan mendakwahi mereka. Dan sekarang penduduk negeri yang berjumlah lebih 100.000 orang itu menyambut seruan beliau. Mereka beriman kepadanya dan mendapat kesenangan sampai waktu yang telah ditentukan.

Pelajaran

1. Dalam kisah ini, Allah menegur Nabi Yunus 'alaihisalam dengan cara yang halus. Dengan menahannya di dalam perut seekor ikan, sebagai kaffarah (tebusan atas kesalahan beliau) sekaligus tanda kekuasaan Allah yang sangat besar dan karamah (mukjizat) bagi Nabi Yunus 'alaihisalam.

2. Termasuk nikmat pula dari Allah kepada beliau adalah diterimanya dakwah beliau oleh penduduk negerinya yang berjumlah lebih dari 100.000 orang. Dan besarnya jumlah pengikut, termasuk sebagian keutamaan mereka.

3. Bolehnya melakukan undian ketika menghadapi persoalan yang musykil, mengenai siapa yang berhak atau tidak terhadap suatu perkara, apabila tidak ada yang menguatkan salah satunya. Apa yang dilakukan penumpang kapal tersebut menunjukkan kaidah yang sudah dikenal, yaitu mengambil kemudharatan yang lebih ringan untuk menolak kerusakan yang lebih besar. Tentunya sudah jelas, melempar salah seorang penumpang ke laut sangat berbahaya, namun malapetaka yang akan menimpa seluruh penumpang jauh lebih besar bahayanya.

4. Seorang hamba apabila dia memiliki hubungan yang baik dengan Rabb-nya, di mana dia selalu beramal shalih ketika dia dalam keadaan senang, Allah Ta'ala tentu mensyukuri amalnya dan mengingatnya pula ketika dia dalam keadaan kesulitan, yakni dengan melepaskannya dari kesulitan itu atau meringankan keadaannya. Oleh karena itulah Allah Ta'ala berfirman dalam kisah Nabi Yunus 'alaihisalam ini:

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaffat: 143-144)

Sabda Nabi Shallallahu'alaihiwasalam:

“Doa saudaraku Dzin Nun (Nabi Yunus). Tidaklah seorang yang dalam kesulitan, lalu berdoa dengan doa ini melainkan Allah akan lepaskan dia dari kesulitan itu, yaitu: ‘Tidak ada ilah melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim’.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai dari Sa’d bin Abi Waqqash radiyallahu'anhu)

5. Iman itu menyelamatkan pemiliknya dari ketakutan dan kesulitan sebagaimana Allah Ta'ala firmankan:

“Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya: 88)

"Kisah Nabi Yunus"
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
AsySyariah.com

Proses Pemberian Syafa'at Bagi Umat Islam

by admin aluyeah
Syafaat Rosulullah | al-uyeah.blgospot.com
Dalam rentang waktu yang lama sekali, mereka berdiri menanti di padang mahsyar. Padahal matahari sangat dekat jaraknya dengan mereka. Mereka dibanjiri keringatnya sendiri sesuai dengan amalannya. Mereka merasakan panas yang dahsyat, kesempitan hidup dan keletihan yang luar biasa akibat lamanya mereka menunggu keputusan, yakni selama 50 tahun.[1] 

Ketika hal ini terjadi, sebagian mereka –dengan hidayah Allah Ta'ala– membicarakan tentang sesuatu yang akan melepaskan mereka dari tempat mereka menunggu keputusan yang sangat lama waktunya dan sangat memberatkan mereka situasinya. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 202)

Allah Ta'ala berfirman:

“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (Al-Baqarah: 210)

Kisah terjadinya syafaat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam

Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu, dia berkata:

Dihidangkan untuk Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam masakan daging, lalu dipilihkan untuk beliau daging paha bagian depan, yang merupakan kesukaan beliau. Beliaupun menggigitnya lalu bersabda:

“Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat. Tahukah kalian, mengapa? Allah akan mengumpulkan seluruh umat manusia dari yang pertama hingga yang terakhir di suatu tempat, di mana seorang penyeru akan mampu memperdengarkan (seruan) kepada mereka semuanya. Pandangan mata akan mampu menembus mereka semuanya, sedangkan matahari dekat sekali. Maka kesedihan dan kesusahan meliputi mereka, sampai mereka tidak mampu menanggung dan merasakannya.

Maka orang-orang berkata: “Tidakkah kalian saksikan apa yang menimpa kalian? Tidakkah kalian tahu siapa yang mampu memberikan syafaat kepada kalian di hadapan Rabba kalian?” Sebagian mereka lalu berkata kepada sebagian yang lain: “Kalian harus datang kepada Adam 'alaihisalam.” Namun Adam 'alaihisalam mengajukan alasan.

Kemudian mereka menemui Nuh 'alaihisalam, namun dia juga mengajukan alasan. Kemudian mereka menemui Ibrahim 'alaihisalam, namun dia mengajukan alasan pula. Kemudian mereka menemui Musa 'alaihisalam, ternyata dia juga mengajukan alasan. Kemudian mereka menemui ‘Isa 'alaihisalam, namun dia juga mengajukan alasannya.

Akhirnya mereka menemui Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam dan mengatakan: “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang. Maka berikanlah syafaat kepada kami di hadapan Rabbmu. Tidakkah engkau lihat keadaan kami?”

Maka akupun berangkat sampai di bawah Arsy, lalu aku tersungkur sujud kepada Rabbku. Kemudian Allah Ta'ala membukakan untukku pujian-pujian dan sanjungan yang baik untuk-Nya, yang belum Dia bukakan kepada seorangpun sebelumku. Kemudian dikatakan (kepadaku): “Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, dan mintalah, niscaya kamu akan diberi. Berilah syafaat niscara akan diterima (syafaatmu).” Maka akupun mengangkat kepalaku kemudian aku katakan: “Umatku wahai Rabbku, umatku wahai Rabbku.

Kemudian datanglah Allah Ta'ala untuk menentukan keputusan hukum di antara hamba-Nya. Maknanya, Allah Ta'ala benar-benar datang dengan cara yang Dia kehendaki, sebagaimana firman-Nya:

“Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabbmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (Al-Fajr: 21-22)

Inilah syafaat agung yang khusus bagi Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam. (Syarh Lum’atul I’tiqad, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hal. 203)

Allah Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam:

“Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra': 79)

Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

“Barangsiapa yang berdoa setelah mendengar adzan: ‘Ya Allah, Rabb yang memiliki panggilan yang sempurna dan shalat yang akan ditegakkan ini, karuniakanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah baginya kedudukan yang terpuji yang Engkau telah janjikan untuknya,’ niscaya dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat (dengan izin-Nya).” (HR. Al-Bukhari no. 579, Kitabul Adzan, Bab Ad-Du’a ‘inda an-nida’, dari Jabir bin Abdillah radiyallahu'anhu)

[1] Beliau hafizhahullah mengisyaratkan kepada salah satu penafsiran friman Allah Ta'ala

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Al-Ma’arij: 4)

Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/357).

"Syafaat Rasulullah yang Agung"
AsySyariah.com

Dzikir 100x

by admin aluyeah
Dzikir 100x | al-uyeah.blogspot.com
Adapula dzikrullah seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, dalam hadits disebutkan:

“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah daripada dzikrullah.” (HR. Ahmad 5/239. Dishahihkan dalam Shahihul Jami’ no. 5644)

Sa’d bin Abi Waqqash radiyallahu'anhu berkata: “Kami berada di dekat Nabi Shallallahu'alaihiwasalam, maka beliau bersabda:

“Apakah salah seorang dari kalian merasa lemah untuk memperoleh setiap harinya seribu kebaikan?” Bertanyalah seseorang di antara mereka yang duduk-duduk bersama beliau: “Bagaimana salah seorang dari kami dapat memperoleh seribu kebaikan?” Beliau menjawab: “Dia bertasbih kepada Allah seratus tasbih maka akan dicatat baginya seratus kebaikan atau dihapus darinya seratus kesalahan.” (HR. Muslim no. 6792)

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam juga bersabda:

“Siapa yang mengucapkan ‘subhanallah wa bihamdihi’ dalam sehari 100 kali akan dihapuskan kesalahannya, walaupun kesalahan itu sebanyak buih lautan.” (HR. Muslim no. 6783)

Di hadapannya ada istighfar, permo-honan ampun dan taubat, di mana Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam telah memerintahkan:

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari 100 kali.” (HR. Muslim no. 6799)

dikutip dari "Wanita di Bulan Puasa"
ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
AsySyariah.com

Demi Allah Saja

by admin aluyeah
Demi Allah Saja | al-uyeah.blogspot.com
Beliau berkata (Syaikh Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin) : At tabarruk (meminta berkah) pada kuburan adalah haram, dan termasuk dari salah satu jenis kesyirikan, karena dengan demikian berarti menetapkan adanya pengaruh darinya, yang Allah tidak turunkan dari kekuasaannya. Dan juga tidak termasuk dari kebiasaan Salafus sholih melakukan tabarruk seperti ini.
Maka dari sisi ini termasuk perkara yang bid’ah. Apabila orang yang bertabarruk ini berkeyakinan bahwa si penghuni kubur memiliki pengaruh atau kemampuan untuk mencegah mudharat atau mendatangkan maslahat maka ini adalah syirik besar. 

Begitu pula menjadi syirik besar jika melakukan ibadah untuk si penghuni kubur dengan ruku’ atau sujud atau mengadakan sembelihan dalam rangka mendekatkan diri padanya dan pengagungan untuknya. Allah berfirman, 

“Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS Al Mu’minuun: 117). 

Dan Allah juga berfirman, 

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS Al Kahfi: 110).

Dan yang musyrik dengan kesyirikan yang besar adalah kafir kekal dalam neraka, dan diharamkan baginya surga. 

Berdasarkan firman Allah, 

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS Al Maidah: 72).

Adapun bersumpah dengan selain Allah, maka jika orang yang bersumpah berkeyakinan bahwa yang dijadikan sumpahnya itu memiliki kedudukan seperti kedudukan Allah Ta’ala maka ia musyrik dengan kesyirikan yang besar. 

Tetapi sebaliknya jika ia tidak berkeyakinan seperti itu, hanya ada pengagungan dalam hatinya yang menyebabkan ia bersumpah dengannya maka ia musyrik dengan kesyirikan yang kecil. Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassalam, “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka ia telah kafir atau musyrik.”

"Memohon Berkah Pada Kuburan Dan Bersumpah Dengan Selain Allah"
Salafy.or.id

Rindu Ramadhan

by admin aluyeah

Jiwa ini berlumur dosa. Setiap hari berlumur dosa dan kesia-siaan. Setiap amal yang selalu kita perbuat mungkin saja hanyalah amal yang sia-sia. Sudah berletih berpeluh keringat beribadah kepada Allah Azza wa  Jalla namun tidaklah ada artinya dihadapan Allah. Jiwa ini lemah, lemah dari beribadah kepada Allah dan lemah dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah. Jiwa ini lemah. Jiwa ini berharap kepadaMu ya Rabb. Sampaikan kami, pertemukan kami semua dengan RamadhanMu nan agung, dalam keadaan iman dan sehat. Sehingga dapat menjadi jalan kepada kami untuk melepas dosa-dosa ini, menjadi bekal ke kampung akhirat bagi kamu yaa Rabb. Kami rindu RamadhanMu yaa Rabb. 

Hanya Berharap Kepada Allah

by admin aluyeah
hanya berharap kepada Allah | al-uyeah.blogspot.com
Dalam berdakwah kepada kaumnya, Nabi Yunus 'Alaihisalam menghadapi penentangan yang demikian keras. Sekian lama beliau berdakwah namun tidak juga membawa hasil. Keadaan ini membuat Nabi Yunus 'Alaihisalam marah dan meninggalkan kaumnya. Allah pun menegurnya. 

Bagaimana akhir dari dakwah Nabi Yunus 'Alaihisalam?

Nabi Yunus 'Alaihisalam termasuk nabi dari keturunan Bani Israil. Allah Ta'ala mengutusnya kepada penduduk negeri Ninawa di Mosul (Irak). Beliau menyeru kaumnya untuk kembali kepada Allah Ta'ala, namun mereka menolaknya. 

Nabi Yunus 'Alaihisalam tidak berputus asa, selalu berusaha dan berusaha mendakwahi mereka, namun mereka tetap menolak. Kemudian Nabi Yunus 'Alaihisalam mengancam dengan azab dan pergi meninggalkan mereka, tidak sabar sebagaimana mestinya. Beliau 'Alaihisalam pergi dalam keadaan marah.

Sementara itu, sepeninggal Nabi Yunus 'Alaihisalam, Allah mengilhamkan kepada kaum tersebut untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya. Itu terjadi setelah mereka menyaksikan sebagian dari pendahuluan azab yang diancamkan kepada mereka. Allah pun menyelamatkan mereka dari azab tersebut. Secara lahiriah, Nabi Yunus 'Alaihisalam mengetahui mereka telah selamat dari azab itu, namun beliau tetap tidak mau kembali. Oleh karena itulah Allah Ta'ala berfirman:

Ketika dia pergi dalam keadaan marah.” (Al-Anbiya: 87)

Dan firman Allah Ta'ala:

ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan.” (Ash-Shaffat: 140)

Nabi Yunus 'Alaihisalam naik ke kapal yang sudah penuh dengan penumpang dan barang. Sampai di tengah lautan, kapal tersebut mulai memperlihatkan tanda-tanda akan tenggelam. Saat itu hanya ada dua pilihan, mereka tetap bersama-sama di atas kapal tapi tenggelam semua, atau satu per satu dilemparkan ke laut sekedar meringankan muatan kapal dan menyelamatkan yang lain. Akhirnya diputuskan untuk memilih yang kedua. Mulailah diundi siapa yang akan dilemparkan ke laut. Termasuk dalam undian itu adalah Nabi Yunus 'Alaihisalam. Allah Ta'ala mengatakan:

Lalu dia termasuk orang-orang yang kalah.” (Ash-Shaffat: 141)

Yakni, Nabi Yunus 'Alaihisalam kalah dalam undian tersebut. Merekapun melemparnya ke laut dan kemudian ditelan bulat-bulat oleh seekor ikan dari dalam laut. Di dalam kegelapan perut ikan itu, beliau berdoa:

Tidak ada Ilah melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim.” (Al-Anbiya: 87)

Kemudian Allah Ta'ala memerintahkan ikan tersebut melemparkannya ke tanah yang tandus.  Nabi Yunus 'Alaihisalam keluar dari perut ikan seperti anak burung yang keluar dari sebutir telur, betul-betul dalam keadaan sangat lemah. Allah Ta'ala mengasihani beliau dengan menumbuhkan untuknya sebuah pohon dari jenis labu, dan menaunginya hingga menjadi kuat.

Setelah itu Allah Ta'ala memberi perintah kepadanya untuk kembali ke tengah-tengah kaumnya, supaya mengajari dan mendakwahi mereka. Dan sekarang penduduk negeri yang berjumlah lebih 100.000 orang itu menyambut seruan beliau. Mereka beriman kepadanya dan mendapat kesenangan sampai waktu yang telah ditentukan.

Pelajaran

1. Dalam kisah ini, Allah menegur Nabi Yunus 'Alaihisalam dengan cara yang halus. Dengan menahannya di dalam perut seekor ikan, sebagai kaffarah (tebusan atas kesalahan beliau) sekaligus tanda kekuasaan Allah yang sangat besar dan karamah (mukjizat) bagi Nabi Yunus 'Alaihisalam.

2. Termasuk nikmat pula dari Allah kepada beliau adalah diterimanya dakwah beliau oleh penduduk negerinya yang berjumlah lebih dari 100.000 orang. Dan besarnya jumlah pengikut, termasuk sebagian keutamaan mereka.

3. Bolehnya melakukan undian ketika menghadapi persoalan yang musykil, mengenai siapa yang berhak atau tidak terhadap suatu perkara, apabila tidak ada yang menguatkan salah satunya. Apa yang dilakukan penumpang kapal tersebut menunjukkan kaidah yang sudah dikenal, yaitu mengambil kemudharatan yang lebih ringan untuk menolak kerusakan yang lebih besar. Tentunya sudah jelas, melempar salah seorang penumpang ke laut sangat berbahaya, namun malapetaka yang akan menimpa seluruh penumpang jauh lebih besar bahayanya.

4. Seorang hamba apabila dia memiliki hubungan yang baik dengan Rabb-nya, di mana dia selalu beramal shalih ketika dia dalam keadaan senang, Allah Ta'ala tentu mensyukuri amalnya dan mengingatnya pula ketika dia dalam keadaan kesulitan, yakni dengan melepaskannya dari kesulitan itu atau meringankan keadaannya. Oleh karena itulah Allah I berfirman dalam kisah Nabi Yunus 'Alaihisalam ini:

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (Ash-Shaffat: 143-144)

Sabda Nabi Shallallahu'alaihiwasala:

Doa saudaraku Dzin Nun (Nabi Yunus). Tidaklah seorang yang dalam kesulitan, lalu berdoa dengan doa ini melainkan Allah akan lepaskan dia dari kesulitan itu, yaitu: ‘Tidak ada ilah melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim’.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai dari Sa’d bin Abi Waqqash radiyallahu'anhu)

5. Iman itu menyelamatkan pemiliknya dari ketakutan dan kesulitan sebagaimana Allah Ta'ala firmankan:

Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiya: 88)

"Kisah Nabi Yunus"
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar)
AsySyariah.com

Peradaban Muslim

by admin aluyeah
Peradaban Muslim | al-uyeah.blogspot.com
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb(1), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ahaditsul Anbiya, bab Ma Dzukira ‘an Bani Israil (no. 3456) dan Kitab Al-I‘tisham bil Kitab was Sunnah, bab Qaulin Nabi Shallallahu'alaihiwasalam “Latattabi‘unna sanana man kana qablakum” (no. 7320) dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-‘Ilmi (no. 2669) dan diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi dalam kitab syarahnya terhadap Shahih Muslim, bab Ittiba‘u Sananil Yahudi wan Nashara.

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam juga bersabda yang senada dengan hadits di atas dalam hadits yang dibawakan oleh  Abu Hurairah radiyallahu'anhu:

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku mengambil jalan hidup umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Maka ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?”(2) Beliau menjawab: “Siapa lagi dari manusia kalau bukan  mereka?” (HR. Al-Bukhari no. 7319)

Pengabaran Nabi Shallallahu'alaihiwasalam dalam dua hadits yang mulia di atas merupakan tanda dan bukti tentang kebenaran nubuwwah beliau Shallallahu'alaihiwasalam, serta  merupakan mukjizat beliau yang dzahir karena telah tampak dan telah terjadi apa yang beliau beritakan tersebut. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Kitabut Tauhid, hal. 26, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

Terlebih khusus lagi bila kita menyaksikan keadaan kaum muslimin di zaman kita ini, kebiasaan menyerupai dan meniru orang Barat yang notabene mereka itu adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani, merupakan fenomena yang biasa namun menyakitkan dan menyedihkan.

Sehingga dengan budaya penjajah ini, kalangan muda maupun orang-orang tua dari kaum muslimin seakan merasa minder dan rendah derajatnya bila tidak sama dengan gaya hidup, model dan budaya orang-orang kafir (peradaban kuffar). Sebaliknya, mereka merasa bangga dan sangat percaya diri bila mana mereka dapat “tampil sama” atau paling tidak sekedar mirip dengan orang-orang kafir.

Budaya “yang penting dari Barat” dan “asal sama dengan Barat” ini telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin dari kalangan orang-orang metropolitan, merambah sampai ke pedesaan dan pedusunan yang terpencil bagaikan sebuah revolusi peradaban yang telah disiapkan oleh orang-orang kafir sehingga semua yang datang dari Barat mereka anggap baik dan diterima dengan penuh ketundukan. Ibaratnya mereka berkata sami’na wa atha’na  (kami mendengar dan kami taat), baik itu cara berpakaian, cara bergaul, cara makan, cara berbicara, gaya hidup dan sebagainya.

Budaya-budaya impor yang diobral orang-orang Barat lewat media massa baik di televisi yang merupakan da’i yang paling berhasil di sisi mereka ataupun lewat ekspos kehidupan artis-artis mereka yang laku keras diterima oleh kaum muslimin yang maghrur (tertipu) dan buta mata hatinya dari semua lapisan. Jangankan mereka yang dikatakan bodoh terhadap agamanya, orang yang dianggap tahu agama pun ikut jadi korban.

Berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah dan yang lainnya dari kalangan salaf: “Sungguh orang yang rusak dari kalangan ulama kita, karena penyerupaannya dengan Yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, karena penyerupaannya dengan Nashrani.” (Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim, hal. 23-23)

Gelombang badai yang besar ini menghantam segala apa yang ada di hadapannya dan membawa korban yang besar. Wallahu Al-Musta‘an wa ilallahi Al-Musytaka (Hanya kepada Allah kita meminta tolong dan mengadu).

Sungguh benar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam ketika menyatakan umat beliau akan meniru dan menyerupai umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Karena saking ingin sama dan serupanya dengan peradaban kafirin, bila diibaratkan umat terdahulu masuk ke lubang dhabb yang sedemikian sempit maka umat ini pun akan masuk pula ke dalamnya. Nas’alullah As-Salamah wal ‘Afiyah (hanya kepada Allah kita memohon keselamatan).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu'alaihiwasalam mengkhususkan penyebutan lubang dhabb karena lubangnya sangat sempit. Namun bersamaan dengan itu umat beliau akan mengambil jejak umat terdahulu dan mengikuti jalan mereka, walaupun seandainya mereka masuk ke lubang yang sesempit itu niscaya umat ini akan tetap mengikutinya.” (Fathul Bari, 6/602)

Yang dimaksud dengan sejengkal, sehasta dan penyebutan lubang dhabb dalam hadits ini adalah untuk menggambarkan betapa semangatnya umat ini mencocoki umat terdahulu dalam penyelisihan dan maksiat, mencontoh mereka dalam segala sesuatu yang dilarang dan dicela oleh syariat. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Fathul Bari, 13/313)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu'alaihiwasalam memberitahukan bahwa umat beliau akan mengikuti perkara-perkara baru (yang diada-adakan), bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelum mereka. Beliau Shallallahu'alaihiwasalam telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang banyak bahwasanya di akhir zaman akan ada kejelekan. Dan hari kiamat tidak akan datang kecuali pada sejelek-sejelek manusia dan agama ini hanya tetap tegak di sisi orang-orang yang khusus.”(3) (Fathul Bari, 13/314)

Dalam hadits Abu Said Al-Khudri radiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam menyebut Yahudi dan Nashrani, sedangkan dalam hadits Abu Hurairah radiyallahu'anhu, beliau Shallallahu'alaihiwasalam menyebut Persia dan Romawi. 

Karena memang Romawi identik dengan Nashrani, sementara di kalangan bangsa Persia ada orang Yahudi. Namun dimungkinkan pula Rasulullah memberikan jawaban sesuai dengan tempatnya, yakni dalam perkara yang berkaitan dengan hukum di antara manusia dan politik kemasyarakatan, umat ini akan mengikuti Persia dan Romawi. Sedangkan dalam perkara yang berkaitan dengan agama yang pokok maupun yang cabangnya, umat ini akan mencontoh Yahudi dan Nasrani. (Lihat Fathul Bari, 13/314)

1 Dhabb adalah hewan melata yang hidup di padang pasir, serupa dengan biawak.
2 Persia dengan raja mereka Kisra, dan Romawi dengan raja mereka Qaishar, merupakan dua bangsa yang terkenal (adi daya) di waktu itu. Dua negeri ini merupakan kerajaan terbesar di muka bumi, paling banyak penduduknya dan paling luas wilayahnya. (Fathul Bari, 13/313)
3 Mereka inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam dalam sabda beliau:

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al-haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang  menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta‘ala, sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhari no.7459 dan Muslim no.1920)-pen.

"Islam Diantara Hantaman Badai Peradaban Kuffar"
ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
AsySyariah.com