Let's Change The World By Holding Tauhid And Sunnah

Kami percaya dunia menjadi lebih baik ketika tegak tauhid dan sunnah di bumi ini

Artikel

Mamen bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan mamen lainnya di page facebook dan twitter untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Mengapa Kami Berlepas

Mengapa Kami Berlepas | al-uyeah.blogspot.com
Bismillah, sejak "terungkap"nya post "Kami Berlepas" muncul banyak pertanyaan kepada mimin apa sebenarnya maksud dari poster tersebut. Ada yang mencibir, menuduh, namun ada pula yang bertanya secara personal sekaligus menghormati keputusan mimin. Mungkin sebagian mamen merasa audio di post tersebut tentu tidak mencukupi untuk menunjukan mengapa mimin memutuskan untuk berlepas. Karena memang post tersebut bertujuan hanya untuk menunjukan sikap mimin dalam berlepas dari mereka. Dengan mengharap ridho Allah 'Azza wa Jalla mimin ingin bercerita bagaimana mimin akhirnya memutuskan berlepas dari mereka.

Informasi lokasi, nama, dan kejadian tidak akan dipaparkan secara mendetail. Terserah mamen mau percaya atau tidak. Tidak ada yang memaksa kalian untuk percaya. Hidayah hanya ditangan Allah 'Azza wa Jalla. Kami berharap Allah Ta'ala menunjukan haq adalah haq, bathil adalah bathil kepada kita semua. Dan mimin berharap apa yang akan mimin ceritakan ini cukup untuk menjawab keheranan mamen sekalian.

Pertama mimin hanyalah manusia yang tidak luput dari dosa. Jika dosa yang mimin lakukan menimbulkan bau, niscaya kalian akan jijik, sungguh kalian akan jijik. Merupakan suatu keberuntungan yang besar mimin dipertemukan dengan dakwah sunnah, manhaj salaf. Segala puji bagi Allah Ta'ala yang mengkaruniai seluruh kebaikan ini.

Mimin akui jika website yang kami sudah berlepas sekarang ini merupakan salah satu jalan mimin mengenal manhaj salaf. Manhaj yang memiliki hujjah, memiliki landasan dalil yang tak terbantahkan. Sangat berbeda dengan pemahaman yang selama ini mimin tahu. Manhaj salaf itu sangat kokoh. Selalu mengembalikan kepada Al Quran dan Sunnah. Hingga kebanyakan tulisan di blog ini dulunya juga diambil dari website yang kami sudah berlepas dari mereka karena memang waktu itu masih mimin anggap semua sama, sama-sama bermanhaj salaf.

Hingga akhirnya belakangan ini muncul peristiwa yang satu memperingatkan terhadap yang lain. Mulailah muncul banyak perdebatan, perselisihan, khususnya di media sosial mengenai hal itu. Mimin putuskan untuk tidak masuk ke wilayah tersebut, karena memang bukan kapasitas mimin, dan juga bukan tempatnya.

Alhamdulillah, ketika itu mimin memiliki teman dekat yang juga memperingatkan akan hal itu. Semoga Allah memberinya banyak banyak banyak kebaikan. Seperti halnya ketika menerima manhaj salaf, manhaj yang memiliki hujjah yang sangat kokoh. Dalam peristiwa ini mimin juga melihat siapa yang lebih kokoh hujjahnya. Dan saat itu pun mimin tidak cepat dalam memutuskan.

Mungkin saat itu terkena syubhat untuk tidak menyibukkan diri dengan tahdzir dan menyibukkan diri dengan menuntut ilmu. Bagi sebagian mamen yang membaca nasihat itu, you know who mamen. Hingga akhirnya banyak tulisan di blog ini pun bergeser mengangkat tulisan beliau. Hingga akhirnya mimin mendapatkan kabar jika ada yang memperingatkan untuk berlepas dari beliau. Kembali mimin melihat, hujjah siapa yang lebih kokoh. Pada titik ini akhirnya mimin memutuskan untuk vakum. Tidak lagi mengelola page, maupun blog Aluyeah.

Justru pada saat vakum itu, keluarga mimin sering berhubungan dengan mereka yang mimin berlepas dari mereka sekarang. Mamen, lihat betapa dekatnya keluarga mimin, sampai-sampai pernah 2 ustadz pimpinan ma'had di sekitar kota mimin datang ke rumah untuk membantu menyelesaikan masalah keluarga mimin. Hampir setiap minggu ada kajian khusus keluarga besar mimin yang diisi oleh staf pengajar dari ma'had mereka.

Hingga pada masa pilpres, mimin terkejut. Benar-benar terkejut, mengapa bisa menyarankan salah satu kandidat untuk dipilih. Malam hari sebelum pilpres, mimin baca sendiri sms forward dari ustadz pimpinan ma'had yang menyarankan untuk memilih salah satu kandidat capres. Kembali, mimin lihat hujjah siapa yang lebih kokoh, antara yang ikut dalam pilpres dengan yang berlepas dari pilpres. Dan akhirnya mimin putuskan untuk tidak datang dalam pilpres.

Setelah itu, mimin mulai melihat apa yang diperingatkan ulama akhirnya mimin lihat sendiri. Setelah itu, mulai tampak satu persatu sikap lembek mereka dalam bermanhaj. Mulai dari staff pengajar ma'had yang mengisi kajian keluarga besar mimin, saat itu sampai-sampai mengambil "hikmah" dari film holywood. Teman-teman facebook mimin yang berjalan bersama mereka mulai bermudah-mudahan dalam ikut meramaikan salah satu group dakwah dengan media visual yang diisi oleh orang-orang yang sangat beragam. Juga staff pengajar ma'had mereka yang mengagumi peruqyah "syar'i" yang terkenal di Youtube, yang cara meruqyahnya kebanyakan adalah inovasi mereka sendiri. Teman-teman facebook mimin mulai mengunggah foto wajah mereka, mulai menshare perkataan "ulama" yang tidak jelas manhajnya. Pernah mimin baca, salah satu ustadz mereka mengutip perkataan "ulama" terkenal di dunia, kemudian ustadz itu ditanya tentang manhaj "ulama" tersebut, dan dijawab, saya tidak tahu. Dan masih banyak sikap-sikap lembek dalam bermanhaj lainnya yang telah nampak. Silakan mamen perhatikan sendiri.

Kemudian mimin putuskan untuk berlepas dari mereka. Ada satu hal yang mengganjal, bagaimana dengan blog Aluyeah? Yang sebelumnya banyak mengambil dari mereka? Dan hal ini mimin tanyakan kepada beberapa ustadz, dan mimin mendapatkan nasihat yang sama, yaitu menyatakan diri untuk berlepas dari mereka. Kemudian barulah mimin aktif kembali di blog Aluyeah. One last mission nya adalah deklarasi untuk berlepas kepada mereka. Mimin pun mendapat nasihat untuk tidak berlebihan dalam menyatakan berlepas, semoga 2 post "Kami Berlepas" dan "Mengapa Kami Berlepas" cukup untuk menunjukan rujuknya kami kepada al haq, kembali kepada bimbingan para ulama, mengikuti manhaj salaf.

Mimin tidak ingin masuk dalam wilayah perdebatan, silakan untuk tidak berkomentar dalam artikel mimin ini. Tidak ada yang mengharuskan mamen semua untuk membenarkan apa yang mimin tulis ini. Namun saran mimin, jangan melihat mimin men, lihatlah yang mimin coba ikuti. Coba perhatikan, siapa yang lebih kokoh hujjahnya. Siapa yang lebih kokoh dalam bermanhaj. Siapa yang lebih kokoh dalam memegang perintah Allah dan RosulNya. 

Hukum Penyelundup dan Pengedar Narkoba

Hukum Penyelundup dan Pengedar Narkoba | al-uyeah.blogspot.com
Keputusan Hai’ah Kibar Ulama no. 138 tentang Hukum Penyelundup dan Pengedar Narkoba

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga balasan yang baik diperoleh oleh orang yang bertakwa. Shalawat dan salam tercurah kepada nabi dan rasul terbaik, nabi kita Muhammad, serta kepada para keluarganya, dan semua sahabatnya.

Amma ba’du : Majelis Kibar Ulama di pertemuan yang ke-29, yang diadakan di kota Riyadh, tanggal 9 Jumada Tsaniah 1407 H sampai tanggal 20 Jumadi Tsaniah 1407 H telah mempelajari telegram yang dikirim oleh Pengabdi Dua Tanah Suci, Raja Fahd bin ‘Abdul Aziz, dengan nomor S: 8033, tertanggal 11 Jumada Tsaniah 1407 H. Dalam surat itu dinyatakan:

“Melihat bahwa narkoba memberikan dampak yang sangat buruk, sementara kita perhatikan saat ini mulai banyak tersebar serta menimbang tuntutan kemaslahatan bagi umat, maka penting untuk diputuskan hukuman yang membuat jera bagi orang yang berusaha menyebarkan dan memasarkannya, baik ekspor atau impor. Karena itu, kami memohon kepada anda sekalian untuk membahas masalah ini di sidang Majelis Kibar Ulama dengan segera.Kami akan menyesuaikan dengan apa yang diputuskan.”

Majelis Kibar ulama telah mempelajari masalah ini, dan mendiskusikan dari berbagai macam sisi pada beberapa kali pertemuan. Setelah diskusi yang panjang tentang dampak buruk tersebarnya obat terlarang, maka Majelis Kibar Ulama menetapkan:

Pertama: Bagi penyelundup/bandar, hukumannya adalah dibunuh karena perbuatanya menjadi penyelundup/Bandar pengedaran narkoba, menyebarkanya obat terlarang ke dalam negara, menyebabkan kerusakan yang besar, tidak hanya bagi bandarnya, namun menjadi sebab masalah yang serius bagi seluruh umat.

Termasuk bandar narkoba adalah orang yang mendatangkan obat terlarang ini dari luar, kemudian ia distribusikan ke penjual secara langsung.

Kedua: Untuk pengedar obat terlarang, keputusan Majelis Kibar Ulama untuk pelaku telah diterbitkan pada keputusan no. 85, tertanggal 11 Dzulqa’dah 1401. Di sana dinyatakan:

“Orang yang mengedarkan narkoba, baik dengan membuat sendiri atau impor dari luar, baik dengan jual-beli, atau diberikan cuma-cuma, atau bentuk penyebaran lainnya, maka untuk pelanggaran yang dilakukan pertama, dia dihukum ta’zir yang keras, baik dipenjara, dihukum cambuk, atau disita hartanya, atau diberikan semua hukuman tersebut, sesuai keputusan Mahkamah. 

Kemudian jika mengedarkan lagi, dia diberi hukuman yang bisa menghindarkan masyarakat dari kejahatannya, meskipun harus dengan hukuman mati. Karena perbuatannya ini, dia termasuk orang yang merusak di muka bumi dan potensi berbuat maksiat telah melekat dalam dirinya. Para ulama menegaskan bahwa hukuman bunuh termasuk bentuk hukuman ta’zir yang dibolehkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:  “Manusia yang kerusakannya tidak bisa dihentikan kecuali dengan dibunuh boleh dihukum mati, sebagaimana hukum bunuh untuk pemberontak, menyimpang dari persatuan kaum muslimin, atau gembong perbuatan bid’ah dalam agama. 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan untuk membunuh orang yang sengaja berdusta atas nama beliau (dengan membuat hadis palsu)”. Ibnu Dailami pernah bertanya kepada beliau tentang orang yang tidak mau berhenti dari minum khamr. Beliau menjawab, “Siapa yang tidak mau berhenti dari minum khamr, bunuhlah.”

Dalam karya beliau yang lain, Syaikhul Islam mengatakan tentang alasan bolehnya ta’zir dengan membunuh, “Orang yang membuat kerusakan seperti ini seperti orang yang menyerang kita. Jika orang yang menyerang ini tidak bisa dihindarkan kecuali dengan dibunuh maka dia dibunuh.”

Ketiga: Majelis Kibar Ulama berpendapat bahwa sebelum menjatuhkan dua hukuman di atas, hendaknya dilakukan proses pengadilan yang sempurna, untuk membuktikan kebenaran kasus, sesuai dengan proses mahkamah syar’iyah dan badan kriminal, sebagai bentuk kehati-hatian dalam memberikan hukuman mati kepada seseorang.

Keempat: hendaknya hukuman ini diumumkan melalui media massa, sebelum diterapkan, sebagai bentuk peringatan bagi masyarakat.
Demikianlah, wabillah At Taufiq wa shallallahu ala nabiyina Muhammad alihi wa shohbihi wa sallam.

Hai’ah Kibarul Ulama
Ketua : Ibrohim bin Muhammad Alu Syaikh.

Alihbahasa: Ustadz Abu Sufyan al Musi
Forumsalafy.net

Mengobati Jiwa Dengan Menentang Keinginan Jeleknya

Mengobati Jiwa Dengan Menentang Keinginan Jeleknya | al-uyeah.blogspot.com
Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah bahwa di samping muhasabah, obat yang lain bagi jiwa yang ammarah bis-su’ adalah mukhalafah, yakni menentang hawa nafsu atau keinginan jeleknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (an-Nazi’at: 40—41)

Al-Qurthubi Rahimahullah menafsirkan, “Maksudnya, memperingatkan jiwanya dari perbuatan maksiat dan perbuatan yang haram.”

Sahl Rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan keinginan buruk jiwa adalah kunci surga, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)’.” (an-Nazi’at: 40—41)

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Kalian sekarang berada pada zaman yang kebenaran menuntun hawa nafsu. Akan datang nanti sebuah masa ketika hawa nafsu yang justru menuntun kebenaran. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari zaman tersebut.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

Al-Alusi Rahimahullah dalam tafsirnya juga menerangkan, “…. (Arti ayat di atas) adalah memperingatkan jiwanya dan menahannya dari kemauan-kemauan yang membinasakan, yaitu condong kepada syahwat, serta meluruskannya dengan kesabaran, membiasakannya untuk mengutamakan kebaikan, tidak membiasakannya dengan hiasan dunia dan kembang-kembangnya, tidak terkecoh oleh gemerlapnya dan hiasan-hiasannya karena mengetahui betapa jeleknya akibatnya. 

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dan Muqatil Rahimahullah mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah seseorang yang berkeinginan melakukan maksiat dan teringat kedudukannya saat dihisab di hadapan Rabbnya lalu takut serta meninggalkan maksiatnya.

Kata al-hawa (seperti dalam ayat) asalnya bermakna al-mail (kecondongan, kemauan, keinginan, hasrat). Namun, kata ini menjadi populer untuk menyatakan makna kecondongan atau keinginan kepada syahwat. 

Dengan demikian, segala keinginan kepada syahwat disebut al-hawa (Ind: nafsu syahwat), (kata kerja hawa juga bermakna terjun, sehingga nafsu syahwat dinamakan demikian) karena hal itu akan mengempaskannya kepada segala yang lemah di dunia dan kepada jurang yang dalam di akhirat.

Oleh karena itu, orang yang menentang hawa nafsunya menjadi terpuji. Sebagian ahli hikmah mengatakan, ‘Apabila engkau ingin kebenaran, lihatlah hawa nafsumu lalu selisihilah.’ Al-Fudhail Rahimahullah mengatakan, ‘Seutama-utama amalan adalah menentang hawa nafsu….’

Hampir-hampir keburukan mengikuti hawa nafsu dan kebaikan dalam hal menyelisihinya adalah dua hal yang mesti. Akan tetapi, orang yang tidak menurutinya hanya sedikit, selain para nabi dan beberapa ash-shiddiqin (yang sangat jujur dalam beriman). Beruntunglah orang yang selamat darinya.” (Ruhul Ma’ani)

Mengendalikan jiwa adalah sifat orang yang cerdas. Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan, “Orang yang cerdas akan menahan jiwanya dari sebuah kenikmatan yang menyisakan kepedihan dan syahwat yang mewariskan penyesalan. Cukuplah ukuran ini sebagai pujian bagi kecerdasan dan celaan bagi hawa nafsu.” (Dzammul Hawa)

Nabi Yusuf ‘alaihissalam adalah salah satu teladan dalam hal menentang hawa nafsu dan keinginan jiwa yang tidak baik.

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menerangkan, “Nabi Yusuf tergolong ‘orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya’.”

Sesungguhnya, Yusuf waktu itu adalah seorang yang muda dan bujang, tertawan di negeri musuh, tidak ada di sana kerabat dan teman yang ia merasa malu dari mereka apabila melakukan perbuatan keji. Karena, sebagian besar manusia akan terhalangi melakukan perbuatan-perbuatan jelek oleh rasa malunya dari orang yang dia kenal.

Jadi, apabila mengasingkan diri, seseorang akan melakukan apa saja yang diingini oleh hawa nafsunya. Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga saat itu hanya berdua sehingga tidak takut kepada siapa pun. Menurut hukum nafsu ammarah—apabila nafsu beliau demikian—mestinya beliaulah yang merayu-rayu (istri raja). 

Bahkan, mestinya beliaulah yang membuat tipu daya untuk meraihnya, sebagaimana kebiasaan mayoritas orang yang berhasrat kepada wanita-wanita bangsawan apabila tidak mampu secara langsung mengajaknya ‘berbuat’. Adapun apabila dia diajak atau diminta, walaupun yang meminta itu seorang wanita pembantu, tentu dia menyambutnya dengan segera. Lantas, bagaimana apabila yang memintanya adalah tuan yang menguasainya, yang dia takut menyelisihi perintahnya?

Ditambah lagi suaminya—yang seharusnya marah besar kepada istrinya—ternyata tidak menghukumnya, bahkan Yusuf lah yang diperintah untuk menyingkir, sebagaimana seorang dayyuts (yang tidak punya cemburu) berteriak. Apalagi, wanita tersebut meminta bantuan wanita-wanita lain dan memenjarakan Yusuf.

Namun, Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan sebagaimana firman Allah,

Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh’.” (Yusuf: 33)

Hendaknya seorang yang cerdas memerhatikan faktor-faktor yang mendorong wanita tersebut untuk mengajak Yusuf kepada apa yang dia ajak: terpenuhinya segala sarana dan kuatnya ajakan sang wanita, tiada yang memalingkannya apabila dia melakukannya, tidak ada pula makhluk yang menyelamatkannya dari perbuatan tersebut (namun Nabi Yusuf ‘alaihissalam tetap menolaknya –pen.). 

Ini semua untuk menjelaskan bahwa ujian yang diberikan kepada Yusuf ‘alaihissalam termasuk ujian yang sangat besar, dan bahwa ketakwaan dan kesabarannya menahan diri dari maksiat termasuk kebaikan dan ketaatan terbesar. Sungguh, jiwa Yusuf ‘alaihissalam termasuk jiwa yang paling bersih. Bagaimana dia mau mengatakan,

Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

Allah Mahatahu bahwa jiwanya bersih, bukan jiwa yang ammarah bis-su’ (suka menyuruh kepada kejelekan). Bahkan, jiwa beliau termasuk jiwa yang paling suci. Hasrat yang sempat ada pada beliau justru menambah kesucian jiwa dan ketakwaannya. Dengan sempat munculnya hasrat itu lantas beliau tinggalkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh menambah satu kebaikan yang termasuk kebaikan yang sangat besar yang menyucikan jiwa. (Majmu’ Fatawa bagian tafsir dengan sedikit diringkas)

Itulah salah satu gambaran indah dalam hal melawan keinginan jiwa. Dengan itu, jiwa semakin suci, kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pun semakin tinggi. Bahkan, untuk mencapai tingkatan yang lebih sempurna tidak cukup hanya melawan kemauan jeleknya, tetapi dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk membekali jiwa dengan amalan-amalan saleh. Itulah yang diistilahkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah dengan jihadun nafs.

Ibnul Qayyim Rahimahullah menerangkan bahwa jihadun-nafs melalui empat tingkatan:

Memacu jiwa untuk mempelajari petunjuk dan agama yang benar, yang tiada keberuntungan bagi jiwa dan tiada kebahagiaan baginya, baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat selain dengannya. Apabila jiwa tersebut terlewatkan darinya, ia akan sengsara di dunia dan akhirat.

Memacu jiwa untuk mengamalkan petunjuk tersebut setelah mengetahuinya. Apabila tidak demikian, sekadar ilmu tanpa amal, kalau tidak mencelakakannya, tentu tidak memberinya manfaat.

Memacu jiwa untuk mendakwahkan dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya. Apabila tidak demikian, ia tergolong orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ilmunya tidak memberinya manfaat dan tidak menyelamatkannya dari siksa Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mengusahakan jiwa untuk bersabar terhadap kesulitan-kesulitan dalam berdakwah dan dalam menghadapi gangguan makhluk serta menanggung beban itu semua karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Apabila seseorang menyempurnakan empat tingkatan ini, ia akan menjadi golongan rabbani, karena sesungguhnya salaf (para pendahulu) bersepakat bahwa seorang alim tidak berhak untuk disebut rabbani hingga dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Barang siapa mengetahui dan mengamalkannya, dia akan disebut sebagai orang besar di kerajaan langit. (Zadul Ma’ad, 3/9)

Jihadun nafs ini bukan hal sepele. Ini adalah awal dari semua langkahnya dalam segala amalan, termasuk amalan-amalan besar. Bahkan, jihad melawan musuh yang kafir yang merupakan puncak dari punuknya Islam adalah cabang dari jihadun nafs.

Ibnul Qayyim Rahimahullah juga menjelaskan, “Karena jihad melawan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala di luar adalah cabang dari jihadun nafs (usaha hamba menundukkan jiwa), Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Mujahid adalah orang yang mengusahakan dirinya untuk selalu taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.’ (HR. )

Maka dari itu, jihadun nafs lebih diutamakan daripada jihad melawan musuh yang di luar dirinya. Jihadun nafs adalah asal-usul dari jihad melawan musuh. Hal ini karena orang yang tidak melakukan jihadun nafs terlebih dahulu agar melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh-Nya lalu memerangi jiwanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak mungkin ia akan berjihad melawan musuh di luar dirinya….” (Zadul Ma’ad, 3/5—6)

Ibnul Jauzi Rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, jihadun nafs lebih besar daripada jihad melawan musuh, karena jiwa itu adalah sesuatu yang disukai dan ajakannya juga disukai. Sebab, jiwa tidak mengajak selain kepada sesuatu yang sesuai dengan nafsu (keinginan/syahwat). 

Sementara itu, menyesuaikan dengan sesuatu yang disukai dalam hal yang pada dasarnya tidak menyenangkan itu saja tetap disukai, lebih-lebih jika dia mengajak kepada sesuatu yang menyenangkan. Apabila keadaannya dibalik, dan jiwa yang disukai tadi ditentang ajakannya, jihad/perlawanan terhadapnya semakin berat dan masalah semakin sulit.

Berbeda halnya dengan jihad melawan orang-orang kafir karena tabiat dan watak manusia (pada dasarnya) adalah memusuhi lawan.

Ibnul Mubarak Rahimahullah mengatakan ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.’ (al-Ankabut: 69)

Maksudnya adalah jihad untuk menundukkan jiwa dan hawa nafsu.”

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk menuju jiwa yang suci.

"Mengobati Jiwa Dengan Menentang Keinginan Jeleknya"
Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc hafizhahullah
Sumber: Majalah Asy Syariah

Wasiat dalam Menetapi Manhaj Salaf

Wasiat dalam Menetapi Manhaj Salaf | al-uyeah.blogspot.com
Pertanyaan ini Berkaitan  dengan Wasiat dalam Menetapi Manhaj Salaf

Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhaly menjawab:

Ini adalah yang awal kali kami berbicara masalah ini. Untuk itu yang aku wasiatkan dengannya untuk diriku sendiri dan anak anakku adalah agar menetapi manhaj salaf dan bersahabat dengan orang bermanhaj ini. 

Menetapi manhaj salaf tidak bisa terjadi kecuali dengan bersahabat dengan ahlinya,karena sesungguhnya merekalah yang akan membimbingmu di atas perjalanan di dalam jalan salaf ini, dengan semata izin Allah Tabaroka wa Ta’ala. Mereka pula yang akan menolongmu di atas manhaj ini.

Dan juga wasiat selanjutnya untuk membaca kitab kitab yang menerangkan manhaj ini padamu. Inilah cara yang akan membantumu kokoh di manhaj ini dengan ijin Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Maka sebagai misal, yang pertama yang hendaknya dibaca seorang penuntut ilmu dalam manhaj ini adalah kitab As Sunnah yang ringkas karya Al Imam Ahmad rahimahullah. Kitab ini terkenal dengan judul Ushulus Sunnah. 

Kemudian membaca As Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, Asy Syariah karya Al Ajurry, As Sunnah karya Abdulloh putranya Imam Ahmad, Al Arsy karya Ibnu Abi Syaibah,Al Ibanah As Sughra dan juga Al Ibanah Al Kubro karya Ibnu Baththoh, dan Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah.

Maka sungguh kitab yang terakhir ini adalah kitab terluas pembahasannya yang ada di sisi kita, dan juga kitab Ibnu Baththoh yang dikenal berjudul Al Ibanah Al Kubro. Dua kitab ini tadi merupakan kitab terluas yang ada di tengah tengah kita dalam urusan menjelaskan keyakinan wal jama’ah.

Sesungguhnya setiap insan jika membaca kitab kitab yang telah kami sebutkan tadi dalam bab Aqidah maka ia akan dapat mengambil faedah yang besar. 

Dan itu dengan mengenal jalannya salafussholih rahimahullahu ta’ala di sisi ini, yakni sisi berpegang teguh di atas sunnah dan berloyalitas dengan ahlinya,serta menjauhi bidah dan menjauhi ahlinya,menjauhi ahlul ahwa dan bid’ah.

Maka ini tadi empat prinsip yang madzhabnya para salaf rahimahulloh Ta’ala berdiri tegak di atasnya dalam semua urusan. Maka terimalah! Pegang erat erat segala sunnah berkaitan dengan semua permasalahan aqidah. Dan bertemanlah kalian dengan ahlussunnah!

Sebagai contoh jika kamu mendatangi pembahasan masalah takfir, jauhilah bid’ah masalah takfir dan jauhi pula pengusung bidah ini. Mereka ini Khowarij dan Muktazilah. 

Tetaplah bersama ahlussunnah wal jama’ah dan bacalah pembahasan bab takfir ini! Jika masuk bab sifat sifat Allah, tetaplah dengan ahlussunnah wal jamaah dalam bab sifat Allah ini. 

Merekalah yang menetapkan untuk Allah Jalla wa Alla seperti apa  yang Allah tetapkan sendiri untuk-Nya atau yang ditetapkan rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam kebaikan sunnahnya. 

Kemudian mereka menjauhi siapapun yang menyelisihi masalah ini, yakni dari kelompok kelompok yang menyelisihi seperti para pengusung akidah Jahmiyyah, ahlu bid’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, dan madzhab Maturidiyyah. Maka sungguh akan kau dapati ahlu sunnah menyelisihi mereka semuanya,yakni sekte Al Kullabiyah dan semisalnya.

Mereka (yang ingin kokoh di manhaj ini) hendaknya :

*menyelisihi kelompok tadi semua lalu berpegang teguh terhadap apa yang dipegang oleh ahlu sunnah, berjalan bersama ahlu sunnah, berhati hati dari kelompok kelompok yang menyelisihi , dan berhati hati dari thariqah/jalan mereka dengan cara mengenal prinsip prinsip ahlu sunnah pada masalah masalah ini dan berloyalitas pada ahlu sunnah. Dan juga dengan cara mengenal prinsip prinsip ahli bid’ah pada masalah masalah ini serta menjauhi mereka.

Seperti ini jugalah cara yang harus ditempuh pada semua bab, baik dalam bab takdir, bab tentang perbuatan perbuatan para hamba Allah, bab iman. Selisihi Murjiah dan tetaplah bersama ahlu sunnah. Menjauh dari Murjiah dan ahlinya, serta bersama terus dengan ahlu sunnah dalam bab ini dan sampaipun pada bab yang lain.

Dan kunasehatkan pada kalian untuk perhatian menghafal Al Wasithiyyah dalam bab aqidah ini setelah anda semua menghafal Al Qawaidul Arba, Ushuluts Tsalatsah, dan Kitabut Tauhid. Beri perhatian pada Al Aqidah Al Wasithiyyah! Karena ini adalah kitab yang mengumpulkan (pokok pokok ilmu) dalam bab ini, dalam bab keimanan. 

Karena Syaikhul Islam rahimahullah tidak melewatkan suatu pun di dalamnya dan menerangkan di dalamnya rukun rukun iman yang terdapat dalam hadits Jibril. Maka dia termasuk yang paling bermanfaat dari kitab kitab yang ada bagi penuntut ilmu. Dan pada bagian awal seluruhnya adalah ayat ayat Al Quran, diawali dengan ayat ayat , mudah bagi penuntut ilmu untuk menghafalnya. 

Lalu pada paruh kedua diletakkan padanya hadits hadits yang datang dari Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam. Selanjutnya datang pembahasan tentang sikap pertengahan ahlu sunnah diantara ahli bidah dan pengikut hawa nafsu, pertengahan di antara seluruh firqah firqah yang ada. 

Kemudian Ibnu taimiyyah menutupnya dengan tema seputar perhatian ahlu sunnah terhadap keutamaan keutamaan akhlak dan adab adab terpuji, semoga Allah Taala merahmati beliau. Maka kitab ini termasuk dari kitab kitab yang bermanfaat. Bahkan sebagian ulama berkata: “Orang yang belum membaca kitab kitab Ibnu Taimiyyah yaitu Al Wasithiyyah dan Al Hamawiyyah, mayoritas mereka tidak akan selamat dari kebid’ahan.”

Dia akan memasuki kebid’ahan dalam keadaan dia tak mengetahuinya. Maka jika dia membaca kitab kitab karangan salaf yang terbaik maka sungguh dia akan dapat manfaat.

Maka kunasehatkan pada kalian untuk fokus dengan perhatian khusus pada kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah setelah mengawali belajar dari kitab kitab aqidah. Karena kitab ini akan membuka pintu pintu dan cakrawala dalam bidang ini. Sesungguhnya kitab ini adalah matan yang memuat seluruh untaian pokok pokok aqidah ahlu sunnah,semoga Allah merahmati mereka.

Inilah yang dengannya aku berwasiat pada kalian,bersamaan dengan sikap kalian terhadap apa yang disebut. Kalian menjauh dari pengikut hawa nafsu dan kebid’ahan, orang yang bicara dengan mereka,dan dari orang yang tertuduh dengan penyimpangan total atau sebagiannya. 

Karena bergaul dengan orang yang menyimpang itu perbuatan sesat dan menyimpang, kita berlindung pada Allah. Karena tidak ada manfaat kedekatanmu dengan orang menyimpang. Tidak ada manfaat orang yang terkena penyakit kudisan berdekatan dengan orang yang sehat. Akan tetapi si sehatlah yang akan tertular kudisnya.

Kamu berlemah lembut dan bersimpati padanya, terkadang kau diam dan terkadang kau berlemah lembut. Tetapi dia tidak diam, dia akan melempar syubhat padamu,syubhat demi syubhat. Maka syubhat terus dilempar sampai menetap di hatimu. Maka jadilah saat itu petaka mendatangimu. 

Maka seperti yang sering diucapkan, teman dekat itu penyeret (kepada sesuatu). Oleh sebab itu jangan sekali – kali ada dari kalian rasa simpati pada mereka, karena sungguh para salaf mengecam dari perbuatan simpati kepada orang yang dzalim. 

Maka dengan sebab penyimpangan kalian, neraka akan menyentuh kalian. Jika kalian menyimpang dari al haq , kalian akan jatuh pada kebatilan. Maka diri diri kalian masuk pada ancapan siksa neraka,kami memohon pada Allah penjagaan dan keselamatan.

Maka ini yang kunasehatkan. Senantiasa bersama ahlus sunnah setelah kau mengenal sunnah, itu kebaikan dan berkah. Sesungguhnya orang orang yang selamat dari zaman zaman fitnah dan hawa nafsu, tidaklah Allah Tabaraka wa Ta’ala jaga mereka setelah mengenal sunnah kecuali dengan sebab berjalannya mereka bersama rombongan ahlus sunnah, semoga Allah Taala merahmati mereka,na’am.

Alihbahasa : Abu Mas’ud Surabaya
Forumsalafy.net

Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf

Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf | al-uyeah.blogspot.com
Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.

Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.

Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).

Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)
"Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf"
Sumber: Permata Salaf “Majalah Asy Syariah“

Kalimat Syubhat

Kalimat Syubhat | al-uyeah.blogspot.com
Pertanyaan: Bagaimana tentang orang yang mengatakan: “Pendapat kami benar, namun mungkin saja mengandung kesalahan. Sedangkan pendapat selain kami salah, namun mungkin saja mengandung kebenaran.”

Jawaban:

Demi Allah, ucapan semacam ini sering dikatakan oleh orang. Bisa jadi itu adalah ucapan yang benar bagi sebagian orang yang mengatakannya karena didorong oleh sifat tawadhu’. Namun bisa juga di balik itu ada tujuan-tujuan tertentu.

Jadi misalnya engkau berdiskusi dengan seseorang dalam perkara yang jelas dan engkau tunjukkan dalil-dalilnya kepadanya, lalu engkau katakan: “Ini firman Allah dan sabda Rasul-Nya.” Namun setelah itu dia menjawab: “Engkau mengharuskan (mengilzam) orang lain untuk menerima pendapatmu, padahal Asy-Syafi’iy saja mengatakan: “Pendapatku benar, namun bisa saja mengandung kemungkinan salah. Sedangkan pendapat selainku salah, namun bisa saja mengandung kemungkinan benar.”

Jika hal itu diterapkan pada masalah yang memiliki ruang ijtihad yang mengandung kemungkinan benar atau salah, maka hal itu tidak mengapa mengucapkan demikian.

Adapun pada masalah aqidah yang padanya terdapat dalil-dalil yang jelas dan tegas (nash) atau nash tersebut dalam masalah hukum halal dan haram, maka tidak akan mendebat dengan mengucapkan ungkapan semacam ini selain orang yang tujuannya memang ingin menyesatkan manusia, atau orang yang menunggangi kepalanya dan mengikuti hawa nafsunya.

Sumber: Al-Lubaab min Majmu’ Nashaih wa Taujihaatisy Syaikh Rabi’ lisy Syabaab, hal. 266-267, terbitan Daar Al-Miraatsun Nabawy, Aljazair (email: dar.mirath@gmail.com) cetakan ke-2 tahun 1434 H.

"Kalinat Abtara Syubhat dan Ilmu"
Asy Syaikh Rabi’ bin Hady al Madkhali hafizhahullah
Forumsalafy.net