Let's Change The World By Holding Tauhid And Sunnah

Kami percaya dunia menjadi lebih baik ketika tegak tauhid dan sunnah di bumi ini

Artikel

Mamen bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan mamen lainnya di page facebook dan twitter untuk update artikel keren dan artwork awesome.

[AUDIO] Kelam Masa Laluku Terang Dengan Taubatku

Kelam Masa Laluku Terang Dengan Taubatku
Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar hafizhahullah
Masjid Syamsul U'lum IT Telkom



Download Sesi 1, Sesi 2,

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum
ilmusyari.com

[AUDIO] Penghalang-Penghalang Menerima Al-Haq

Penghalang-Penghalang Menerima Al-Haq
Al-Ustadz Muhammad As-Sewed hafizhahullah
Kajian bermula bulan Rajab 1436H
Masjid Al-Mujahidin, Slipi

Download ebook KITAB




Download Pertemuan 1 Sesi 1, Sesi 2, Sesi Tanya Jawab
Pertemuan 2 Sesi 1, Sesi 2, Sesi Tanya Jawab

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum
alfawaaid.net

Ragam Sholat Tarawih Dan Qunut Witir Nabi

Ragam Sholat Tarawih Dan Qunut Witir Nabi | al-uyeah.blogspot.com
Saya (Syaikh Al-Albani) telah menjelaskan perinciannya dalam kitab saya yang lain “Shalat Tarawih” (hal.101-105), kemudian saya disini hendak meringkasnya untuk mempermudah pembaca dan sebagai peringatan.

Cara Pertama
Shalat 13 rakaat yang dibuka dengan 2 rakaat yang ringan atau yang pendek, 2 rakaat itu menurut pendapat yang kuat adalah shalat sunnah ba’diyah Isya’. Atau 2 rakaat yang dikhususkan untuk membuka shalat malam, kemudian 2 rakaat panjang sekali, kemudian 2 rakaat kurang dari itu, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian witir 1 kali.

Cara Kedua
Shalat 13 rakaat diaantaranya 8 rakaat salam pada setiap 2 rakaat kemudian melakukan witir 5 rakaat tidak duduk dan salam kecuali pada rakaat kelima.

Cara Ketiga
Shalat 11 rakaat, salam pada setiap 2 rakaat dan witir 1 rakaat.

Cara Keempat
Shalat 11 rakaat, shalat 4 rakaat dengan 1 salam, kemudian 4 rakaat lagi seperti itu kemudian 3 rakaat. Lalu apakah duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat pada yang 4 dan 3 rakaat? Kami belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dalam masalah ini. Tapi duduk pada rakaat kedua dari yang tiga rakaat tidak disyariatkan !.

Cara Kelima
Shalat 11 rakaat diantaranya 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada yang kedelapan, (pada yang ke-8 ini –pent) bertsyahud dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdiri lagi dan tidak salam, kemudian witir 1 rakaat, lalu salam, ini berjumlah 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat lagi sambil duduk.

Cara Keenam
Shalat 9 rakaat, 6 rakaat pertama tidak diselingi duduk (tasyahud –pent) kecuali pada rakaat keenam dan bershalawat kepada Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam dan seterusnya sebagaimana tersebut dalam cara yang telah lau.

Inilah tata cara yang terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam secara jelas, dan dimungkinkan ditambah cara-cara yang lain yaitu dengan dikurangi pada setaip cara berapa rakaat yang dikehendaki walaupun tinggal 1 rakaat dalam rangka mengamalkan hadist Rasulullah Shallaalhu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu (“…Barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 5 rakaat, barangsiapa yang ingin, witirlah dengan 3 rakaat, barang siapa yang ingin,witirlah dengan 1 rakaat) 

[Faedah penting : Berkata Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih Ibni Khuzaimah” 2/194, setelah menyebutkan hadist Aisyah dan yang lainnya pada sebagian cara-cara tersebut, maka dibolehkan shalat dengan jumlah yang mana dari yang disukai dari yang telah diriwayatkan daari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya tida larangan bagi siapapun padanya, Saya katakan: Ini difahami sangat sesuai dengan apa yang kita pilih yang konsisten dengan jumlah yang shahih. Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menambahinya. Segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya dan aku meminta Nya untuk menambahi keutamaan-Nya.].

Shalat 5 dan 3 rakaat ini, jika seseorang menghendaki untuk melakukannya dengan 1 kali duduk (tasyahud –pent) dan satu kali salam sebagaimana pada cara kedua, boleh. Dan jika ingin, bisa dengan salam pada setiap 2 rakaat seperti pada cara ketiga dan yang lain dan itu lebih baik. 

Adapun shalat yang 5 dan 3 rakaat denagn duduk (tasyahud –pent) pada setiap 2 rakaat tanpa salam, kita tidak mendapatinya terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wasallam, pada asalnya boleh, akan tetapi nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam ketika melarang untuk 3 rakaat dan memberikan alasannya dengan sabda beliau “Jangan serupakan dengan shalat mahgrib…” (diriwayatkan At-Thahawi dan Daruquthni dan selain keduanya lihat “Shalatut Tarawih” hal 99-110) .

Maka bagi yang ingin shalat witir 3 rakaat hendaknya keluar dari cara penyerupaan terhadap mahgrib dan itu dengan 2 cara :

1. Salam antara rakaat genap dan ganjil itu lebih utama.
2. Tidak duduk (tasyahud –pent) antara genap dan ganjil, (yakni pada rakaat kedua –pent).

(Dinukil dari terjemahan kitab “Qiyamu Ramadhan”, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”, Penerjemah : Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat Tarawih”
Hal : 60 – 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press)

"Ringkasan ragam sholat Tarawih & qunut witir Rasulullah"
Salafy.or.id

Waktu Shalat Dhuha

Waktu Shalat Dhuha | al-uyeah.blogspot.com
Shalat dhuha dikerjakan pada siang hari. Waktunya yang utama/afdhal disebutkan dalam hadits di bawah ini:

Zaid bin Arqam radiyallahu'anhum melihat orang-orang sedang shalat dhuha, maka ia berkata: Ketahuilah, orang-orang itu sungguh mengetahui bahwa shalat (dhuha) di selain waktu ini lebih utama. Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

Shalatnya awwabin adalah tatkala anak unta merasakan kakinya kepanasan karena terbakar panasnya pasir.” (HR. Muslim no. 1743)

Waktu yang demikian itu, kata Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullah adalah ketika matahari telah tinggi dan panasnya terasa. (Subulus Salam, 3/50)

Al-Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Ar-Ramdha’ adalah pasir yang panasnya bertambah sangat karena terbakar matahari. Shalat awwabin adalah saat kaki-kaki anak unta yang masih kecil terbakar karena menapak/menginjak pasir yang sangat panas. 

Awwab adalah orang yang taat. Ada yang mengatakan awwab adalah orang yang kembali dengan melakukan ketaatan. 

Dalam hadits ini ada keutamaan shalat di waktu tersebut dan ia merupakan waktu yang paling utama untuk mengerjakan shalat dhuha, walaupun shalat dhuha boleh dikerjakan dari mulai terbitnya matahari sampai tergelincirnya.” (Al-Minhaj, 6/272)

Ucapan beliau rahimahullah bahwa waktu shalat dhuha yaitu mulai terbitnya matahari sampai zawal tentunya tidak persis saat terbitnya matahari, karena adanya larangan yang datang dalam hadits lain untuk mengerjakan shalat di waktu tersebut seperti hadits berikut ini:

Dari Ibnu Umar radiyallahu'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

وَلاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُم طُلُوْعَ الشَّمْسِ وَلاَ غُرُوْبَهَا، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بِقَرْنَيْ شَيْطَانٍ

Janganlah kalian memilih untuk mengerjakan shalat kalian ketika terbit matahari dan tidak pula ketika tenggelam matahari, karena matahari terbit di antara dua tanduk setan.” (HR. Al-Bukhari no. 582, 3272 dan Muslim no. 1922)

Uqbah bin Amir radiyallahu'anhum berkata:

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ n يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ…

Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu'alaihiwasalam melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi….” (HR. Muslim no. 1926)

Demikian pula hadits ‘Amr bin ‘Abasah radiyallahu'anhum yang menyebutkan sabda Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam kepadanya:

صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ….

Kerjakanlah shalat subuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat ketika matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari….” (HR. Muslim no. 1927)

Adapun hadits Abud Darda’ dan Abu Dzar radiyallahu'anhu yang mengabarkan dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam, dari Allah Ta'ala, bahwasanya Dia berfirman:

ابْنَ آدَم، اِرْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ، أَكْفِكَ آخِرَهُ

Wahai anak Adam, ruku’lah (shalatlah) untuk-Ku empat rakaat dari awal siang niscaya Aku akan mencukupimu pada akhir siangmu.” (HR. At-Tirmidzi no. 475, ia berkata, “Hadits ini hasan gharib.” Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Maka yang dimaksud awal siang dalam hadits di atas bukan persis setelah shalat subuh, karena adanya hadits Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ

Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan, “Ulama berbeda pendapat tentang waktu masuknya shalat dhuha. Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Ar-Raudhah meriwayatkan dari para pengikut mazhab Asy-Syafi’i bahwa waktu dhuha mulai masuk dengan terbitnya matahari, akan tetapi disenangi mengakhirkannya sampai matahari tinggi. Sebagian dari mereka berpendapat, waktunya mulai masuk saat matahari tinggi. Pendapat ini yang ditetapkan oleh Ar-Rafi’i dan Ibnu Ar-Rif’ah.” (Nailul Authar, 2/329)

Dalam Zadil Mustaqni’ disebutkan, “Waktu dhuha mulai dari selesainya waktu larangan shalat sampai sesaat sebelum zawal.”

Kata pensyarahnya, “Yakni dari naiknya matahari seukuran tombak sampai masuknya waktu larangan shalat dengan matahari berada di tengah langit. Waktunya yang paling utama adalah apabila panas matahari terasa menyengat.” (Ar-Raudhul Murbi’, 1/176)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa ukuran satu tombak itu menurut penglihatan mata orang yang melihat dan ukurannya sekitar satu meter[1]. Kemudian beliau menyimpulkan bahwa waktu dhuha dimulai dari berakhirnya waktu larangan shalat di awal siang sampai datangnya waktu larangan di tengah siang (tengah hari). Mengerjakannya di akhir waktu lebih utama karena adanya hadits Nabi n tentang shalat awwabin. (Asy-Syarhul Mumti’, 4/88)

Nabi Shallallahu'alaihiwaslaam Mengerjakan Shalat Dhuha setelah Siang Meninggi

Dalam peristiwa Fathu Makkah, Ummu Hani radiyallahu'anha mengabarkan:

(artinya) “Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam datang pada hari Fathu Makkah setelah siang meninggi, lalu didatangkan kain untuk menutupi beliau yang hendak mandi. (Seselesainya dari mandi) beliau bangkit untuk mengerjakan shalat sebanyak delapan rakaat….” (HR. Muslim no. 1665)

"Waktu-wakktu Shalat Sunnah" ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari
Asysyariah.com

Shalat Sunnah Rawatib

Shalat Sunnah Rawatib | al-uyeah.blogspot.com
Shalat sunnah rawatib adalah shalat-shalat sunnah yang berkaitan dengan shalat-shalat wajib, baik dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib. Perlu diketahui bahwa shalat sunnah itu ada 2 macam :

1. Sunnah Muthlaqah (sunnah mutlak)

Yaitu shalat sunnah yang dilakukan tanpa terkait dengan waktu, shalat wajib maupun sebab tertentu. Shalat ini dilakukan 2 rakaat tanpa ada batas maksimal jumlah rakaatnya. Shalat ini dapat dilakukan di siang maupun malam hari.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Shalat malam dan siang hari itu (dilakukan) 2 rakaat 2 rakaat.” [H.R Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Hanya saja shalat sunnah muthlaqah ini tidak boleh dilakukan di 3 waktu:

a. Setelah menunaikan shalat Subuh sampai matahari terlihat naik setinggi 1 atau 2 tombak (kira-kira 1 atau 2 meter) dari permukaan tanah. Matahari mulai berposisi demikian kira-kira 15 menit setelah terbitnya.

b. Ketika matahari tepat berada di tengah langit, sejenak sebelum masuk waktu Zhuhur. Posisi matahari yang demikian ini dapat diketahui dari tidak adanya bayangan dari sebuah benda yang berdiri tegak, bayangan lurus benda tersebut ke arah utara atau lurus ke arah selatan.

c. Setelah matahari berwarna kekuningan sampai terbenamnya.

2. Sunnah Muqayyadah (sunnah yang terkait)

Yaitu shalat sunnah yang terkait dengan waktu tertentu seperti shalat Dhuha (setelah matahari terlihat naik lebih dari 2 tombak sampai sebelum posisi matahari tepat di tengah langit) atau shalat witir (setelah menunaikan shalat ‘Isya’ sampai sebelum masuk waktu Subuh). 

Termasuk dari jenis sunnah muqayyadah ini adalah shalat sunnah yang terkait dengan sebab tertentu seperti shalat tahiyyatul masjid saat masuk masjid –menurut pendapat yang mengatakan sunnah-, shalat 2 rakaat setelah wudhu, shalat gerhana –menurut yang berpendapat sunnah-, dan shalat sunnah rawatib.

Faedah Menunaikan Shalat Sunnah

Shalat sunnah dan ibadah sunnah lainnya memiliki faedah besar yaitu menutupi kekurangan yang ada pada shalat atau ibadah wajib.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): 

Sesungguhnya (amalan) yang pertama kali dihitung dari seorang muslim pada hari kiamat adalah shalat wajib. Apabila nilai shalat wajibnya sempurna maka sempurna pula balasannya. Namun apabila tidak sempurna maka dikatakan: Lihatlah! Apakah orang ini memiliki perhitungan shalat sunnah? Apabila ia memiliki perhitungan shalat sunnah maka kekurangan pada shalat wajibnya akan disempurnakan oleh shalat sunnahnya. Selanjutnya berlaku demikian pada seluruh amalan wajib lainnya.” [H.R Ibnu Majah. Lihat Abu Dawud, an Nasa’i, dan at-Tirmidzi. Hadits ini dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Dengan demikian tidak sepantasnya kita meremehkan ibadah-ibadah sunnah setelah dapat menunaikan ibadah-ibadah wajib. Terlebih, sangat besar kemungkinan –kalau tidak dikatakan mesti- ibadah wajib kita masih jauh dari nilai sempurna baik secara lahir maupun batin.

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

Keutamaan shalat sunnah rawatib bisa diperoleh dengan menunaikan seluruh shalat tersebut atau sebagiannya.

Terkait dengan seluruh shalat sunnah rawatib, disebutkan dalam hadits Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan radhiyallahu ‘anha, berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): 

Tidaklah seorang muslim yang mengerjakan shalat sunnah bukan wajib di setiap hari sebanyak 12 rakaat semata-mata karena Allah melainkan akan dibuatkan baginya sebuah rumah di surga (Al Jannah).” [H.R Muslim]

Disebutkan dalam hadits lain bahwa 12 rakaat tersebut adalah 4 rakaat sebelum Zhuhur dan 2 rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah ‘Isya’ dan 2 rakaat sebelum Subuh. [Lihat an-Nasa’i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah yang dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Adapun terkait sebagian shalat sunnah rawatib, disebutkan dalam hadits Ummu Habibah juga, berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda (artinya): 

Barangsiapa menjaga 4 rakaat sebelum Zhuhur dan 4 rakaat setelahnya maka ia akan dijauhkan dari neraka (An-Naar).” [H.R Abu Dawud dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam, bersabda (artinya): 

2 rakaat (sebelum) Subuh itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [H.R Muslim].

Atas dasar riwayat-riwayat yang telah disebutkan, maka jumlah rakaat shalat sunnah rawatib maksimalnya sebanyak 14 rakaat. Wallahu a’lam.

Namun bila seseorang memang tidak mampu untuk menunaikan shalat sunnah rawatib sebanyak 14 rakaat di setiap harinya, maka ia hendaknya menunaikan sebatas kemampuannya. Terutama 2 rakaat sebelum Subuh, maka jangan sampai ia tinggalkan. Beberapa hadits yang shahih menunjukkan bahwa 2 rakaat sebelum shalat Subuh adalah shalat sunnah rawatib yang paling ditekankan dibandingkan shalat-shalat sunnah rawatib yang lainnya.

Hukum-hukum Tentang Shalat Sunnah Rawatib

Beberapa hukum tentang shalat sunnah rawatib yang perlu kita ketahui adalah :

1. Shalat sunnah rawatib lebih utama (afdhal) untuk dikerjakan di rumah bukan di masjid.

Hal ini berdasarkan hadits Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu (artinya): “….maka hendaklah kalian menunaikan shalat di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat di rumahnya, kecuali shalat wajib.” [H.R al-Bukhari dan Muslim].

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: “(Keutamaan) yang demikian itu disebabkan kemanfaatan-kemanfaatan yang ditimbulkan darinya seperti: jauh dari riya’ dan merasa kagum terhadap shalatnya, menyembunyikan amalan dari pandangan manusia, dapat menyebabkan kesempurnaan khusyu’ dan ikhlas. Diantaranya pula untuk memakmurkan rumah dengan zikrullah dan shalat, sehingga turun rahmat Allah terhadap penghuni rumah tersebut sekaligus syaithan menjauh dari rumah tersebut …” [al-Mulakhash al-Fiqhi].

2. Apabila telah usai menunaikan shalat wajib maka jangan langsung menunaikan shalat sunnah rawatib tanpa disela dengan zikir setelah shalat wajib, pembicaraan tertentu atau beranjak ke tempat lain.

Disebutkan oleh seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah menunaikan shalat ‘Ashr. Lalu seseorang berdiri untuk (langsung) menunaikan shalat. Ternyata Umar melihat orang tersebut dan berkata: “Duduklah! Sesungguhnya celakanya Ahlul Kitab itu karena tidak adanya sela di antara shalat mereka.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya): “Ibnul Khaththab telah berbuat baik.” [ash-Shahihah 2549).

3. Apabila seseorang sedang menunaikan shalat sunnah rawatib kemudian mendengar suara iqamah maka hendaknya dia putuskan shalat sunnahnya tersebut. 

Hal ini berlandaskan hadits Abu Hurairah secara marfu’ (artinya): “Bila telah dikumandangkan iqamah maka tidak ada shalat kecuali shalat yang dikumandangkan iqamah untuknya.” [Al Irwa’ dan dishahihkan asy-Syaikh al-Albani].

4. Bila seseorang dalam keadaan sebagai musafir maka dirinya dituntunkan untuk tidak melakukan shalat sunnah rawatib. 

Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah. Dikecualikan dari shalat sunnah rawatib tersebut adalah 2 rakaat sebelum shalat Subuh. Seorang musafir tetap ditekankan untuk menunaikan 2 rakaat sebelum Subuh. 

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang diriwayatkan al-Imam al-Bukhari rahimahullah. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Diantara bimbingan beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam ketika safar yaitu mencukupkan dengan menunaikan shalat wajib saja. Tidak teriwayatkan bahwa beliau menunaikan shalat sunnah baik sebelum maupun sesudah shalat wajib. Dikecualikan dari hal ini adalah shalat witir dan shalat sunnah sebelum Subuh.” [Zaadul Ma’ad yang dinukil dari al-Mulakhash al-Fiqhi].

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Tidak teriwayatkan sebuah dalil tentang ditinggalkannya shalat sunnah sepanjang yang kami ketahui kecuali shalat sunnah rawatib Zhuhur, Maghrib, dan ‘Isya’.” [Shifatul Hajj hal.13]

Wallahu a’lamu bish-Shawaab

assunnahmadiun.wordpress.com

Hukuman Yang Mendidik

Hukuman Yang Mendidik | al-uyeah.blogspot.com
Acapkali seorang pendidik -baik orang tua maupun guru- harus menghadapi anak didiknya dengan menjatuhkan hukuman. Tentu saja disertai harapan, tindakannya ini bisa menghentikan kesalahan sang anak. Alangkah baiknya bila setiap pendidik memerhatikan metode pengajaran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, kembali kita telaah nasihat asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah.

Ada bentuk-bentuk hukuman yang mendidik, yang bisa diharapkan keberhasilannya. Seyogianya setiap pendidik menerapkan hukuman seperti ini terhadap anak yang kurang beradab dalam mengikuti pelajaran atau memandang remeh gurunya. Ini merupakan metode pendidikan yang aman dari dampak negatif dan bisa diharap keberhasilannya—dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla tentunya.

Nasihat dan Arahan

Ini adalah metode yang amat mendasar dalam pendidikan dan pengajaran. Kalaupun tanpa disertai metode lain, metode ini pun sudah cukup. Metode inilah yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak-anak dan orang dewasa.

Nasihat kepada anak-anak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatseorang anak yang tangannya berkeliling mengambil makanan. Beliau pun mengajarinya cara makan yang benar,

“Nak, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Jangan ada seorang pun yang menyatakan bahwa metode seperti ini hanya sedikit memberikan pengaruh terhadap anak-anak. Saya sendiri (asy-Syaikh bin Jamil Zainu –pen.) pernah mengalaminya berkali-kali. Ternyata metode seperti ini memberikan pengaruh yang paling baik.

Pernah ada seorang anak yang mencela agama temannya. Saya pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Siapa namamu, nak? Kelas berapa dan dari sekolah mana?”

Setelah dia menjawab, saya pun bertanya, “Siapa yang menciptakanmu?”

“Allah,” jawabnya.

“Siapa yang memberimu pendengaran dan penglihatan? Siapa pula yang memberimu makanan berbagai buah-buahan dan sayur-sayuran?” tanya saya lagi.

“Allah,” jawabnya.

Saya tanya lagi, “Lalu apa kewajibanmu terhadap yang memberimu semua nikmat ini tadi?”

“Bersyukur kepada-Nya,” jawab anak itu lagi.

“Apa yang tadi baru saja kaukatakan kepada temanmu?” tanya saya.

Dia pun merasa malu. “Tadi temanku itu yang nakal kepadaku!”

Saya jelaskan kepadanya, “Memang, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerima perbuatan zalim, bahkan melarangnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

‘… dan janganlah kalian berbuat melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat melampaui batas.’ (al-Baqarah: 190).”

“Tetapi, sebenarnya siapa yang membisiki temanmu itu hingga memukulmu?”

Dia menjawab, “Setan.”

“Kalau begitu, seharusnya kau mencela setannya!” kata saya.

Dia pun mengatakan kepada temannya, “Semoga setanmu itu dilaknat!”

Kemudian saya menasihatinya, “Sekarang kau harus bertobat kepada Allah dan memohon ampun pada-Nya, karena mencela agama itu perbuatan kufur.”

Dia segera mengatakan, “Saya memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang layak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”

Saya pun mengucapkan terima kasih kepadanya dan memintanya tidak mengulangi perbuatannya itu serta menasihati teman-temannya apabila ada di antara mereka yang mencela agama.

Suatu kali, saya sedang berjalan bersama seorang guru. Tiba-tiba kami melihat seorang anak kecil buang air kecil di tengah jalan. Guru itu pun berteriak, “Celaka kamu! Celaka kamu! Jangan kaulakukan!”

Anak kecil itu ketakutan. Dia segera memutus kencingnya dan lari.

Melihat itu, kukatakan kepada guru tadi, “Engkau telah menyia-nyiakan kesempatan kita untuk memberikan nasihat kepada anak itu.”

“Apa boleh kubiarkan anak itu kencing di tengah jalan di depan orang banyak?” katanya.

“Apakah engkau mau melakukan sesuatu yang tidak seperti apa yang kaulakukan tadi?” kata saya, “Biarkan anak itu sampai selesai buang air, lalu panggil dia kemari. Aku akan memperkenalkan diri, lalu akan kukatakan padanya, ‘Nak, jalanan ini tempat orang lalu lalang. Jadi, tidak boleh buang air kecil di sini. Di dekat sini ada tempat buang air. Jangan pernah kau ulangi lagi perbuatan seperti ini, supaya kau jadi anak yang baik. Semoga engkau mendapatkan petunjuk dan taufik’.”

Mendengar penjelasan itu, guru tadi menyatakan, “Ini metode yang bijaksana dan amat berfaedah.”

Kujelaskan padanya, “Ini metode pendidik seluruh manusia, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu saya sebutkan kepadanya kisah seorang Arab gunung yang amat masyhur itu.

Nasihat kepada yang telah baligh

Contoh nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang teramat besar pengaruhnya bagi orang yang menerimanya adalah kisah A’rabi (Arab gunung) yang diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Suatu ketika, kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang seorang A’rabi, lalu buang air kecil sambil berdiri di masjid. Para sahabat pun berteriak menegur, “Jangan! Jangan!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian putuskan dia! Biarkan dia!”

Para sahabat membiarkan orang itu hingga selesai buang air kecil. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil A’rabi itu dan menasihatinya, “Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak sepantasnya untuk buang air kecil ataupun buang air besar. Masjid itu hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al- Qur’an.”

Beliau mengatakan kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pemberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan. Guyurlah bekas air kencing itu dengan seember air!”

Mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, A’rabi itu berdoa, “Ya Allah, kasihilah diriku dan Muhammad, dan jangan Engkau kasihi seorang pun selain kami berdua!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Engkau telah menyempitkan yang luas.” (Muttafaqun ‘alaih)

Menunjukkan Wajah Masam

Kadangkala, bisa pula seorang pendidik menunjukkan muka masam terhadap muridnya saat mereka gaduh, untuk menjaga jalannya pelajaran dan menjaga wibawanya. Ini lebih baik daripada menggampangkan perbuatan mereka yang seperti itu, namun akhirnya langsung menghukum mereka.

Memberi Peringatan Keras

Banyak guru yang mengambil jalan dengan memberi peringatan keras terhadap muridnya yang banyak tanya untuk mengulur waktu pelajaran, bermaksud meremehkan gurunya, atau melakukan kesalahan lainnya. Ketika guru telah memberi peringatan keras dan bersuara lantang, murid itu pun akan terdiam dan duduk dengan santun.

Metode ini dilakukan oleh Rasulullah ketika melihat seseorang menggiring badanah[1]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur, “Tunggangi unta itu!” [1]

“Sesungguhnya unta ini badanah,” jawab orang itu.

Rasulullah menegur lagi, “Tunggangi!”

Akhirnya orang itu menunggangi badanahnya, berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara sandalnya dia letakkan di leher untanya. (HR. al-Bukhari)

Menyuruh Murid Menghentikan Perbuatannya

Ketika melihat ada murid-muridnya yang bercakap-cakap saat pelajaran berlangsung, guru bisa menyuruh mereka untuk diam dengan suara yang lantang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh seseorang yang bersendawa di hadapan beliau,

Tahanlah sendawamu di hadapan kami!” (Hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ no. 4367)

Berpaling

Bisa pula seorang pendidik berpaling dari anaknya atau muridnya jika melihatnya berkata bohong, memaksa meminta sesuatu yang tidak semestinya diberikan, atau kesalahankesalahan yang lain. Si anak akan merasakan sikap tidak peduli dari sang guru atau sang ayah, sehingga akan tersadar dari kesalahannya.

Hajr (Mendiamkan)

Seorang pendidik bisa mendiamkan anak atau muridnya jika mereka meninggalkan shalat, menonton film, atau melakukan perbuatan yang menyelisihi adab belajar. Hajr ini paling lama tiga hari, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Sahih, lihat Shahihul Jami’ no. 753)

Tindakan hajr ini mengandung pendidikan adab, baik bagi anak maupun murid. Seorang penyair pernah mengatakan,

Wahai kalbu, bersabarlah dengan hajr dari orang yang kau cinta

jangan kau putus asa karenanya, karena pendidikan kesantunan ada padanya

Teguran Keras

Jika nasihat dan arahan tidak memberikan hasil, pendidik boleh menegur anak atau muridnya dengan keras ketika melakukan suatu kesalahan besar.

Duduk Qurfusha’

Apabila seorang guru kewalahan mengatasi murid yang malas, tebal muka, atau yang semisalnya, sang guru bisa memerintahnya untuk bangkit dari tempat duduknya dan menyuruhnya duduk qurfusha’ di depan kelas, di atas kedua telapak kakinya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Ini bisa membuat lelah si murid dan menjadi hukuman baginya. Di samping itu, lebih utama daripada menghukumnya dengan tangan atau tongkat.

Hukuman dari Ayah

Apabila seorang murid terus menerus mengulangi kesalahannya, hendaknya guru menulis surat kepada wali murid tersebut dan menyerahkan hukumannya kepada sang wali terhadap si murid setelah menasihatinya. Dengan demikian, lengkaplah kerjasama antara sekolah dan rumah tangga dalam mendidik anak.

Menggantungkan Tongkat

Disenangi apabila seorang pendidik—baik guru maupun ayah— menggantungkan cambuk yang bisa digunakan untuk memukul dinding agar anak-anak bisa menyaksikannya dan merasa takut terhadap hukuman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluarga kalian, karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka.” (Dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 4022)

Ucapan beliau, “bisa dilihat oleh anggota keluarga”, maksudnya agar menjadi rintangan bagi mereka melakukan berbagai kejelekan, karena takut tertimpa hukuman sebagai akibatnya.

Ucapan beliau, “karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka”, maksudnya bisa membuat mereka bersikap santun, berakhlak dengan akhlak yang mulia dan menyandang berbagai keutamaan yang sempurna. (Faidhul Qadir, al-Munawi, 4/325)

Pukulan Ringan

Seorang pendidik boleh memukul dengan ringan, jika segala cara di atas tidak memberi manfaat. Lebih-lebih lagi dalam hal penunaian shalat bagi seorang anak yang telah berusia sepuluh tahun, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Ajari anak-anak kalian shalat ketika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika telah berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sahih, HR. al-Bazzar dan yang lainnya)

Tentu amat indah pengajaran apabila disertai metode yang sesuai syariat. Karena itu, bekal berharga seperti ini sudah semestinya dimiliki oleh seorang pendidik sejati.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Nida’ ilal Murabbiyyin wal Murabbiyyat karya asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

[1] Badanah adalah unta yang hendak dijadikan sebagai hadyu dalam ibadah haji.

AsySyariah.com