Let's Change The World By Holding Tauhid And Sunnah

Kami percaya dunia menjadi lebih baik ketika tegak tauhid dan sunnah di bumi ini

Artikel

Mamen bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan mamen lainnya di page facebook dan twitter untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Membentengi Diri Dari Faham Asing

Membentengi Diri Dari Faham Asing | al-uyeah.blogspot.com
Al-Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed hafizhahullah



Download audio Sesi 1, Sesi 2 dan Tanya Jawab

alfawaaid.net

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum

[AUDIO] Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal jama'ah

Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal jama'ah | al-uyeah.blogspot.com
Selasa & Rabu, 22-23 Dzulhijjah 1436H ~ 06-07.10.2015M
Al-Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed hafizhahullah
Masjid Al-Falah, Pamekasan - Madura

Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah




Download audio Sesi 1, Sesi 2

alfawaaid.net

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum

[AUDIO] Cinta Benci Karena Allah

Cinta Benci Karena Allah | al-uyeah.blogspot.com
Sabtu ba'da Shubuh, 05 Rabi'ul Awwal 1436H - 27/12/2014M
Mushalla An-Nuur, Limo - Depok

Al Ustadz Muhammad bin Umar As Sewed hafizhahullah



Download audio Cinta Karena Allah, Benci Karena Allah

alfawaaid.net

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum

Hak–Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Hak–Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam | al-uyeah.blogspot.com
Hidup di dunia tentu bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Dalam konsep Islam, hidup di dunia tiada lain untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala semata. Itulah hakikat misi penciptaan manusia dan jin di muka bumi ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (adzDzariyat: 56)

Misi penciptaan yang merupakan amanat berat itu telah disanggupi oleh manusia, padahal makhluk-makhluk besar semisal langit, bumi, dan gunung-gunung tak menyanggupinya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat al-Ahzab: 72. 

Sesungguhnya Manusia Itu Amat Zalim dan Amat Bodoh

Amanat berat itu akhirnya berada di pundak setiap insan. Allah Subhanahu wata’ala Rabb alam semesta, menjadikannya sebagai ujian. Dengannya akan diketahui siapa di antara mereka yang terbaik amalannya. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

(Dialah Allah) yang telah menciptakan kematian dan kehidupan demi menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)

Ujian itu amat berat, sedangkan tabiat dasar manusia amat zalim dan amat bodoh. Dengan kasih sayang-Nya yang sangat luas, Allah Subhanahu wata’ala mengutus orang-orang pilihan (para nabi) sebagai pemberi peringatan bagi yang lalai dari amanat berat itu; sekaligus pemberi kabar gembira bagi yang menjalankannya dengan baik. Allah Subhanahu wata’ala sertakan pula kitab suci sebagai pedoman hidup bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi putusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (alBaqarah: 213)

Semua nabi utusan Allah Subhanahu wata’ala itu benar-benar telah menunaikan tugas yang mereka emban. Tidaklah ada satu kebaikan yang mereka ketahui kecuali telah mereka tunjukkan kepada umat kepada. Tidak ada pula satu kejelekan yang mereka ketahui kecuali telah mereka peringatkan umat darinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

Sesungguhnya, tidak ada seorang nabi pun kecuali melainkan bersungguh-sungguh menunjuki umatnya kepada kebaikan yang diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang diketahuinya.” (HR. Muslim no. 1844, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma)

Nabi Terbaik Yang Diutus Oleh Allah Subhanahuwata’ala di Muka Bumi

Di antara para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi terbaik yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini, sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keutamaan yang banyak. Berbagai keutamaan yang tak dimiliki oleh para nabi sebelumnya pun beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sandang. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِي المَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّحِألََدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِعَامَّةً

Aku diberi lima karunia yang belum pernah diberikan kepada seorang (nabi) pun sebelumku: (1) aku diberi kemenangan dengan ditimpakan rasa gentar pada hati musuhku sebulan sebelum bertemu denganku; (2) dijadikan untukku bumi sebagai tempat shalat dan sarana bersuci sehingga siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaknya mengerjakannya di mana saja; (3) dihalalkan bagiku harta rampasan perang yang tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelumku; (4) aku diizinkan memberi syafaat (untuk segenap manusia di hari kiamat); (5) dan sungguh tiap-tiap nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari no. 335,dan Muslim no. 521, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di akhir zaman, memberi kabar gembira dan memberi peringatan, dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru manusia ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menjadi pelita yang menerangi dengan seizin-Nya. Allah Subhanahu wata’ala menutup risalah kenabian dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyelamatkan manusia dari kesesatan dan mengentaskan mereka dari kebodohan. Dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa, Allah Subhanahu wata’ala membuka mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan jiwa-jiwa yang terkunci. 

Bumi yang dipenuhi kegelapan pun menjadi bersinar dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa itu. Jiwa-jiwa yang bercerai-berai menjadi bersatu dengannya, keyakinan yang bengkok menjadi lurus, dan jalan-jalan menjadi terang bercahaya. 

Allah Subhanahu wata’ala telah melapangkan dada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menurunkan beban yang memberati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, meninggikan sebutan (nama) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan menjadikan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Subhanahu wata’ala mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dunia lengang dari rasul, kitab-kitab suci (yang murni) telah lenyap, syariat yang lurus telah diselewengkan. Setiap kaum bersandar kepada pendapat mereka yang paling zalim, bahkan menghukumi antara Allah Subhanahu wata’ala dan para hamba-Nya dengan teori-teori yang rusak dan hawa nafsu.

Melalui beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala menunjuki seluruh makhluk, menjelaskan jalan kebenaran, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, menerangi kebodohan, dan meluruskan penyimpangan yang ada di tengah-tengah mereka. 

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembagi surga dan neraka (maksudnya, yang menaati beliau masuk ke dalam surga dan yang menyelisihi beliau masuk ke dalam neraka, -pen.). 

Allah Subhanahu wata’ala juga menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembeda antara orang yang baik dan orang yang jahat. Allah Subhanahu wata’ala menetapkan bahwa petunjuk dan keberuntungan akan diraih dengan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan kesesatan dan kebinasaan dituai dengan menentang dan menyelisihi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

(Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 19/102—103) 

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah datang kepada kalian cahaya dari Allah (Nabi Muhammad) dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15-16)

Demikianlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, amanat ilahi telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tunaikan dengan sebaik-baiknya. Segenap nasihat telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada umat. Perjuangan menegakkan kalimat Allah Ta'ala telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan dengan sebenar-benar perjuangan. 

Berbagai halangan dan rintangan, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam hadapi dengan penuh kesabaran. Betapa besarnya jasa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada manusia. Sebesar itu pula sesungguhnya hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang wajib mereka tunaikan. 

Semakin kuat dalam menunaikan hak-hak beliau, berarti semakin kuat pula dalam merealisasikan syahadat, “Asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”

Mengenal Hak-Hak Nabi Muhammad Shallallahu‘alaihiwasallam

Kata pepatah Arab, faqidusy syai’ la yu’thihi. Artinya, seseorang yang tak punya sesuatu, tak mungkin dapat memberikan sesuatu itu. Demikian pula dalam hal ini, seseorang yang tidak mengenal hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, tak mungkin dapat menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya. 

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita selaku umat Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam untuk mengenal hak-hak beliau Shallallahu `alaihi wa sallam agar dapat menunaikannya dengan baik dan tepat. Bila dicermati lebih jauh, sesungguhnya ada di antara manusia yang menunaikan hak-hak beliau Shallallahu `alaihi wa sallam namun masih belum baik dan tepat. Mereka adalah,

1. Orang yang bermudah-mudahan dalam menunaikan hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Orang yang berlebihan-lebihan dalam menunaikan hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga memposisikan beliau Shallallahu `alaihi wa sallam sejajar dengan Allah Subhanahu wata’ala. Diberikan kepada beliau sanjungan rububiyah (kekuasaan ilahi) yang sesungguhnya hanya milik Allah Subhanahu wata’ala semata.(1)

Adapun menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dinilai baik dan tepat adalah manakala tidak keluar dari koridor “abdullah wa rasuluhu”, yakni posisi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai hamba Allah Subhanahu wata’ala dan utusan-Nya. 

Sebagai hamba Allah Subhanahu wata’ala beliau tidak boleh disejajarkan dengan Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula, sebagai utusan-Nya, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam harus dimuliakan, ditaati, dan tidak boleh diselisihi. Di antara hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus ditunaikan adalah sebagai berikut.

1. Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terbesar. Ia adalah amalan mulia yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala pada banyak ayat. Bahkan, ketaatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan realisasi ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

Barang siapa menaati Rasul, sungguh dia telah menaati Allah.” (an- Nisa’: 80)

Menaati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengantarkan kepada kesuksesan yang besar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah meraih sukses yang besar.” (al-Ahzab: 71)

Hidayah dan rahmat Allah Subhanahu wata’ala pun akan diraih dengannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

Jika kalian menaati beliau, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk.” (an-Nur: 54)

وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Taatlah kepada Rasul, niscaya kalian dirahmati.” (an-Nur: 56)

Dengannya pula kenikmatan surga akan didapatkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang besar.” (an-Nisa’: 13)

2. Membenarkan segala yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Setiap muslim wajib membenarkan segala yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik terkait dengan masa lampau, yang sedang terjadi, maupun yang akan datang. 

Kabar yang datang dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti benar, walaupun berlawanan dengan logika atau hawa nafsu.(3) Sebab, tidaklah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertutur kata kecuali berdasarkan wahyu Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsu. Tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3—4)

Sebenarnya pula, logika yang sehat tidak akan bertentangan dengan berita dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti jelek dan mendatangkan murka Allah Subhanahu wata’ala. Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ

Segala yang dibawa oleh Rasul kepada kalian maka ambillah, dan segala yang kalian dilarang darinya maka tinggalkanlah!” (al-Hasyr: 7)

Maka dari itu, menjauhkan dari dari segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.

4. Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala kecuali dengan syariat yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak boleh dilakukan semaunya. Sebab, ibadah ialah munajat dan pendekatan diri (taqarrub) kepada Rabb alam semesta Subhanahu wata’ala. Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala harus dilakukan dengan ikhlas karena-Nya. 

Demikian pula, ia harus dilakukan sesuai dengan bimbingan dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak sesuai dengan bimbingan dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, amalannya ditolak oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

. مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَ دّ

Barang siapa melakukan sebuah amalan (dalam agama ini) yang tidak ada perintahnya dari kami, ia tertolak.” (HR. Muslim no. 1718, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha)(4)

Empat hak di atas disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab beliau, Tsalatsatul Ushul, ketika menjelaskan konsekuensi syahadat Muhammadar rasulullah.

5. Mengikuti jejak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan dalam segenap sendi kehidupan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (al-Ahzab: 21)

6. Menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemutus dalam segala hal yangdiperselisihkan

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)

7. Mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaan kepada siapa pun

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga aku menjadi yang lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia semuanya.” (HR. Muslim no. 70, dari sahabat Anas bin Malikradhiyallahu ‘anhu)

8. Membela dan tidak menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab yang pedih.” (at-Taubah: 61)

Akhir kata, demikianlah di antara hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam yang wajib kita tunaikan. 

Menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berarti merealisasikan syahadat “Asyhadu anna Muhammadar rasulullah”. Lebih dari itu, dengan menunaikan hakhak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan diraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. 

Semoga taufik, hidayah, dan inayah Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengiringi kita, sehingga dimudahkan dalam menunaikan hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin.

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi hafizhahullah
Sumber: Majalah Asy Syariah

Berlindung Kepada Allah Subhanahuwata’ala Dari Empat Hal

Berlindung Kepada Allah Subhanahuwata’ala Dari Empat Hal | al-uyeah.blogspot.com
Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. 

Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tanpa bimbingan dari Allah Subhanahu wata’ala niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya. 

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti.

Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.

1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya. Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.

Ada beberapa hal yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, di antaranya:

a. Ilmu yang dicari untuk mendebati para ulama dan untuk menyombongkan diri di hadapan orang-orang bodoh. Orang yang seperti ini tergolong orang yang bodoh karena dia tidak tahu tujuan menimba ilmu ialah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di atas petunjuk.

b. Menimba ilmu untuk mendapatkan kegemerlapan duniawi dan mencari popularitas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Allah Subhanahu wata’ala, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud dan dinyatakan sahih sanadnya oleh an-Nawawi)

c. Ilmu yang tidak ditebarkan kepada orang lain, apalagi sampai menyembunyikan ilmu dari orang yang sangat membutuhkan. Apabila ia menebarkannya lalu diamalkan oleh orang lain, niscaya akan menjadi amal jariyah baginya. Pahalanya terus mengalir kepadanya sekalipun ia telah mati.

d. Ilmu yang menjurus kepada kemaksiatan dan kekufuran seperti ilmu sihir. Ilmu seperti ini haram untuk dipelajari dan dipraktikkan.

2. Hati yang Tidak Khusyuk

Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya (Allah Subhanahu wata’ala) sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. 

Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Kekhusyukan hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. 

Oleh karena itu, ada yang khusyuk hatinya karena mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Allah Subhanahu wata’ala melihatnya dalamipenentangan terhadap aturan-Nya. 

Ada juga yang khusyuk karena memandang dahsyatnya hukuman Allah Subhanahu wata’ala kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. 

Ada pula yang khusyuk karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan besarnya anugerah dari- Nya yang tidak bisa dihitung. 

Allah Subhanahu wata’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dan mempersiapkan surga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyuk, Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Seorang yang khusyuk saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Khalik. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyuk dalam shalat menjadi ruh shalat tersebut, dan shalat seorang hamba dinilai dengannya. 

Ada beberapa hal yang bisa membantu hamba untuk mewujudkan kekhusyukan dalam shalat, di antaranya:

a. Mendatangi shalat dengan tenang dan tidak terburu-buru meskipun iqamat telah dikumandangkan dan shalat sebentar lagi akan ditegakkan.

b. Mendahulukan menyantap hidangan apabila hidangan makanan telah disuguhkan. Hal ini bukan berarti mendahulukan hak diri sendiri di atas hak Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kekhusyukan adalah hak Allah Subhanahu wata’ala yang akan terwujud dengan segera menyantap hidangan makanan yang telah disuguhkan. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Apabila makan malam telah dihidangkan, mulailah makan malam sebelum shalat maghrib.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

c. Berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalatnya. Dahulu apabila melewati ayat yang menyebutkan azab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada AllahSubhanahu wata’ala darinya; apabila melewati ayat yang menyebutkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, beliau memohon rahmat; dan apabila melewati ayat yang mengandung bentuk penyucian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau pun bertasbih.” (HR . Ahmad, Muslim dan Sunan yang empat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)

d. Tidak menahan buang air besar dan buang air kecil.

e. Menyingkirkan segala yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam shalat.

f. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak menoleh, apalagi mengangkat pandangan ke atas. Sebab, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke tanah ketika shalat.

Demikian di antara kiat-kiat untuk khusyuk di dalam shalat. Apabila seorang menjalankan shalat dengan khusyuk, niscaya shalat yang dilakukannya akan bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. 

Sesuai dengan tenteramnya hati hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala, setingkat itulah manusia sejuk memandangnya. Khusyuk dalam shalat menjadi sebab diampuninya dosa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا مِنِ امْرِئٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا إِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يُؤْتَ كَبِيْرَةٌ

Tiada seseorang yang telah sampai kepadanya (waktu) shalat wajib lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuk, dan rukuknya, kecuali shalat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelum shalat itu, selama dosa besar tidak dilakukan.” (HR. Muslim)

3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas

Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. 

Harta yang melimpah ruah dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih)

Andaikata seorang ingin menuruti nafsu serakahnya terhadap dunia, niscaya habis umurnya untuk sesuatu yang sia-sia. Kematian akan datang kepadanya padahal keinginan nafsunya belum tercapai seluruhnya. 

Ketidakpuasan terhadap pemberian Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan beberapa problem hidup yang berdampak serius bagi kelangsungan hidup di dunia ini. 

Seorang yang rakus terhadap harta akan berusaha mengumpulkan harta tanpa peduli dari jalan apa ia mendapatkannya. Dia akan berani menabrak norma-norma agama dan melepaskan adab-adab kesopanan di tengah-tengah masyarakat. Dia juga akan bakhil terhadap harta yang telah didapat sehingga tidak mau berderma dan menyantuni orang yang papa dan menderita. 

Orang yang seperti ini dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan tidak disukai oleh manusia. Di antara bentuk ketidakpuasan jiwa adalah tidak ada kepuasan dalam hal makan, minum, dan berpakaian. 

Untuk mengejar kepuasan semu tersebut, terkadang seorang melampaui batas menggunakannya. Ia berusaha memenuhi kepuasan jiwanya meski harus melanggar aturan agama dan menyelisihi akal sehat. 

Sikap menerima pemberian Allah Subhanahu wata’ala dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wata’ala.” (HR . Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Agar seorang bisa merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wata’ala, ada beberapa faktor yang melandasinya.

a. Melihat dari sisi takdir. 

Tatkala seorang telah berusaha menggapai cita-cita dengan sepenuh semangat, dibarengi tawakal, kemudian mendapatkan hasil tidak seperti yang dicita-citakan, hendaklah ia yakin bahwa itu adalah suratan takdir sehingga dia ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wata’ala. 

Dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala bahwa itulah yang terbaik baginya. Sebab, bisa jadi jika Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan rezeki kepadanya sesuai dengan cita-citanya, dia akan lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sombong, dan menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat.

b. Melihat besarnya tanggung jawab. 

Besarnya nikmat menuntut banyaknya rasa syukur. Jika diberi rezeki melimpah, belum tentu dia bisa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga nikmat itu justru menjadi beban baginya.

c. Melihat orang-orang yang di bawahnya dalam hal harta dan yang semisalnya.

Dengan demikian, dia akan mensyukuri pemberian Allah. Sebab, ternyata masih banyak orang-orang yang lebih mengenaskan kondisinya dibandingkan dengan dirinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kalian. Sebab, hal itu lebih pantas untuk kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maksud “melihat yang lebih rendah” adalah dari sisi harta dan kondisi keduniaan.

4. Doa yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala

Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Allah Subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak merugi, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Tidak dikabulkannya doa tidak berarti Allah Subhanahu wata’ala ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya doa. 

Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah ditanya tentang ayat di atas, bahwa seseorang telah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tetapi belum dikabulkan. 

Beliau menjawab, “Engkau kenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menaati-Nya. Engkau membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Engkau mengetahui setan, tetapi justru mencocokinya. Engkau mengaku cinta kepada Rasul, namun meninggalkan sunnahnya. Kau mengaku cinta kepada surga, tetapi tidak beramal untuknya. Kau mengaku takut neraka, tetapi tidak berhenti dari dosa. Kau mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi tidak bersiap-siap menghadapinya. Engkau sibuk dengan kesalahan orang dan tidak melihat kesalahan sendiri. Engkau memakan rezeki Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak bersyukur. Engkau pun mengubur orang yang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.” (al-Khusyu’ fi ash-Shalah hlm. 39 karya Ibnu Rajab rahimahullah)

Tiada yang lebih bermanfaat bagi kita dari bermuhasabah (introspeksi diri). Barangkali kita belum tulus ketika memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, kita memohon dengan hati yang lalai dan bermain-main, jauh dari keseriusan, atau tergesa-gesa ingin dikabulkan. Karena tidak kunjung dikabulkan, kemudian kita meninggalkan doa. 

Hal-hal di atas adalah faktor utama tertundanya jawaban atas permohonan kita. Jangan lupa pula, makanan, minuman, dan pakaian yang haram juga menjadi faktor utama ditolaknya doa. 

Oleh karena itu, koreksilah diri kita dan ajaklah untuk memenuhi persyaratan doa. Semoga jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala atas doa kita menjadi kenyataan. 

Jangan pernah kecewa ketika berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Sebab, doa itu sendiri adalah ibadah yang tentu ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, karena Allah Subhanahu wata’ala suka dengan rintihan hamba kepada-Nya. Seandainya segera dikabulkan doanya, bisa jadi dia tidak lagi merintih di hadapan Rabbnya. 

Akhirulkalam, semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita kepada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, dan selalu menjauhkan kita dari segala kejelekan.

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

[AUDIO] Kembali Kepada Sunnah

Kembali Kepada Sunnah | al-uyeah.blogspot.com
Al-Ustadz Muhammad bin Umar As-Sewed hafizhahullah



Download audio Kajian Tematik (Kembali Kepada Sunnah)

alfawaaid.net

Klik kanan link kemudian pilih "Save Link As". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum