Berdoa Kepada Selain Allah

by admin aluyeah
Berdoa Kepada Selain Allah | al-uyeah.blogspot.com
Satu kebohongan jika mereka mengklaim sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah adalah Imam Ahlus Sunnah yang teguh dan kokoh di dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Penulis Mukhalafatus Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Kebanyakan orang yang menisbatkan dirinya kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah tidaklah mengambil dari beliau kecuali dalam perkara fiqih dan ibadah yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Namun mereka tidak mengikuti jalan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam masalah akidah.” (Mukhalafatush Shufiyah hal. 19)

Kami akan sebutkan beberapa penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam masalah akidah.

Penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam masalah rububiyah

Banyak sekali keyakinan shufiyah dalam masalah rububiyah yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah serta menyimpang dari pemahaman Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Di antaranya:

1. Shufiyah mengaku wali mereka tahu ilmu ghaib

Ilmu ghaib adalah perkara yang Allah Ta'ala sajalah yang mengetahuinya. Allah Ta'ala berfirman:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

Allah Ta'ala juga berfirman:

Katakanlah: “Tidak ada satu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib,  kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bilamana mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

“Lima kunci perkara ghaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim kecuali Allah, tidak ada jiwa yang mengetahui apa yang akan diperbuatnya esok hari dan tidak pula tahu di mana jiwa itu akan mati kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kapan datangnya hujan kecuali Allah, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah.” (HR. Al-Bukhari hal. 4697)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Telah ditutup ilmu tentang kapan hari kiamat dari Nabi-Nya. Sedangkan selain malaikat yang didekatkan dan nabi-nabi yang terpilih, ilmunya lebih sedikit dari mereka ….” (Al-Umm) [Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 96-100]

2. Shufiyah meyakini wali-wali mereka bisa mencipta dan mengatur alam

Penciptaan adalah khusus bagi Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

Namun Jufri Al-Khadrami, seorang tokoh ekstrem shufi saat ini, menyatakan bahwa seorang wali punya kemampuan menciptakan anak di rahim seorang ibu tanpa ada bapak. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun.

Bahkan dia berani menyatakan bahwa wali-walinya punya kemampuan menghilangkan musibah orang yang ber-istighatsah (meminta tolong dihilangkan musibah) kepadanya. Dengan lancang ia bahkan berkata: “Pengaturan yang dilakukan wali bahkan sampai di surga dan neraka.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 32-33)

Penyelisihan shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i t dalam masalah asma’ dan sifat Allah Ta'ala

Di antara masalah asma’ dan sifat Allah l yang shufiyah menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah adalah:

1. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menetapkan semua sifat yang terdapat dalam nash/dalil

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, seperti para imam Ahlus Sunnah yang lainnya, menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Beliau rahimahullah berkata: “Allah Ta'ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam kitab-Nya dan telah dikabarkan oleh Nabi-Nya Shallallahu'alaihiwasalam kepada umatnya. Dia Maha mendengar dan Maha melihat, memiliki dua tangan seperti dalam firman-Nya:

“Bahkan kedua tangan Allah terbuka.” (Al-Maidah: 64)

Allah Ta'ala memiliki tangan kanan sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Az-Zumar: 67)

Allah Ta'ala juga memiliki wajah sebagaimana firman-Nya:

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah.” (Al-Qashash: 88)

“Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman: 27)

Allah Ta'ala tidak buta sebelah, sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu'alaihiwasalam ketika menjelaskan keadaan Dajjal:

إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ

“Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah, dan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.”

Allah Ta'ala tertawa terhadap hamba-Nya yang beriman. Nabi Shallallahu'alaihiwasalam menyebutkan tentang seseorang yang terbunuh di medan perang, dia berjumpa dengan Allah Ta'ala dalam keadaan Allah Ta'ala tertawa kepadanya.(1)

Bagaimana dengan shufiyah?

Shufiyah telah menyelisihi Al-Imam Asy-Syafi’i dan salafus shalih. Mereka melakukan tahrif (penyelewengan makna) dan takwil. Mereka tidaklah menetapkan sifat Allah Ta'ala kecuali tujuh saja. (Mukhalafatush Shufiyah hal. 37-38 secara ringkas)

Shufiyah mengingkari Allah Ta'ala ada di atas

Di antara keyakinan Ahlus Sunah wal Jamaah adalah meyakini Allah Ta'ala ada di atas arsy-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia naik di atas ‘Arsy.” (Al-A’raf: 54)

Dalam hadits Muawiyah bin Hakam As-Sulami radiyallahu'anhu, ketika dia hendak membebaskan budaknya, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam menguji hamba sahaya tersebut dengan menanyakan: “Di mana Allah?” Hamba sahaya tadi menjawab: “Allah di atas.” Beliau Shallallahu'alaihiwasalam berkata: “Siapa aku?” Budak tadi berkata: “Engkau utusan Allah.” Rasulullah n berkata: “Bebaskanlah, karena dia adalah seorang wanita mukminah.” (HR. Muslim)

Pemahaman Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah:

Ibnul Qayim rahimahullah meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i dengan sanadnya bahwa beliau rahimahullah berkata, “Pernyataan tentang akidah yang aku berada di atasnya dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya, yang aku telah mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan dan Malik serta keduanya adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta'ala dan Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam adalah utusan-Nya. Bahwasanya Allah Ta'ala ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya, dan Allah Ta'ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah)

Lebih jelas dari itu adalah ketika beliau meriwayatkan dalam bab membebaskan budak mukminah dalam zhihar(2). Beliau rahimahullah berkata: “Yang lebih aku senangi, tidaklah dibebaskan kecuali yang telah baligh dan beriman, jika dia wanita ‘ajam yang telah disifati dengan keislaman maka cukup. Malik telah mengabarkan kepadaku dari Hilal bin Usamah, dari Atha bin Yasar, dari Umar bin Al-Hakam, beliau berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam. Aku katakan: ‘Wahai Rasulullah, saya punya seorang budak perempuan yang menggembala kambing. Ketika saya mendatanginya, ternyata seekor kambing telah hilang. Ketika saya bertanya kepadanya, dia menjawab bahwa kambing itu dimakan serigala. Saya pun marah kepadanya. Saya adalah seorang bani Adam (yang bisa berbuat khilaf, red.) sehingga saya menempeleng wajahnya. Saya punya kewajiban membebaskan budak. Apakah saya boleh membebaskannya?” Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam berkata kepada budak tersebut: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di atas.” Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam berkata: “Siapa aku?” Budak tadi menjawab: “Engkau Rasulullah.” Maka Rasulullah berkata: “Bebaskanlah dia.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Nama sahabat tadi (sebenarnya) Mu’awiyah bin Al-Hakam (bukan Umar bin Al-Hakam sebagaimana dalam riwayat, red.), demikianlah diriwayatkan oleh Az-Zuhri dan Yahya bin Abi Katsir.”

Lihatlah! Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mensyaratkan dalam membebaskan budak harus yang mukmin. Beliau rahimahullah menganggap pengakuan hamba sahaya tadi bahwa Allah Ta'ala ada di atas sebagai tanda keimanan.

Bagaimana dengan shufiyah?

Mereka telah meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam masalah ini dan juga meninggalkan akidah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah.

Sebagian mereka menyatakan Allah Ta'ala di mana-mana. Sebagian mereka bahkan ada yang mengingkari pertanyaan: di mana Allah Ta'ala? Padahal Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam, makhluk yang terbaik, telah menguji keimanan seorang hamba sahaya dengan pertanyaan semacam ini. (Lihat pembahasan lebih detail pada Mukhalafatush Shufiyah hal. 41-53)

Penyelisihan Shufiyah terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam masalah Uluhiyah

1. Shufiyah menyeru kepada kesyirikan

Allah Ta'ala menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya, Allah Ta'ala berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Ibnul Qayyim rahimahullah meriwayatkan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan sanadnya, beliau berkata: “Pernyataan tentang akidah yang aku berada di atasnya, dan aku lihat para sahabatku dari ahlul hadits di atasnya, yang aku telah mengambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan dan Malik serta keduanya, adalah: Berikrar bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta'ala dan Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam adalah utusan-Nya.Bahwasanya Allah Ta'ala ada di atas Arsy-Nya, dekat dengan makhluk-Nya sebagaimana dikehendaki-Nya, dan Allah Ta'ala turun ke langit dunia sesuai dengan kehendak-Nya.” (Ijtima’ul Juyusy Al-Islamiyah)

Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu berkata: “Orang-orang shufiyah berdoa kepada selain Allah Ta'ala. Mereka berdoa kepada nabi. Juga kepada wali mereka yang masih hidup ataupun yang telah mati. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, hilangkanlah musibah yang menimpa kami. Tolonglah kami. Engkaulah tempat menyandarkan diri.’ Padahal Allah Ta'ala telah melarang berdoa kepada selain-Nya dan menganggapnya sebagai sebuah kesyirikan. Allah Ta'ala berfirman:

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu. Sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus:106)

Rasulullah n menyatakan:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Doa adalah ibadah seperti halnya shalat. Tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta'ala, walaupun kepada rasul atau wali. Berdoa kepada selain Allah Ta'ala adalah syirik besar yang menggugurkan amal dan mengekalkan pelakunya di neraka. (Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah)

2. Shufiyah mengajarkan sihir

Sihir adalah satu perbuatan yang diharamkan dalam agama Islam. Allah Ta'ala berfirman:

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), akan tetapi setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak bisa memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Al-Baqarah: 102)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Jika ada seseorang belajar sihir, kami katakan kepadanya: ‘Terangkan bagaimana cara sihirmu.’ Jika dia menceritakan cara yang menyebabkan kekufuran seperti yang diyakini penduduk Babil yang mendekatkan diri mereka kepada bintang yang tujuh, yakni meyakini bahwa bintang-bintang bisa berbuat apa yang dimintai darinya, maka dia kafir. Jika cara itu menyebabkan kafir dan dia meyakini kebolehan melakukannya, maka kafir juga.” (dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

Bagaimana dengan shufiyah?

Mereka bukan hanya pelaku, bahkan sumber dan penyebar sihir di umat ini. Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam menyebutkan di antara sebab-sebab tersebarnya sihir adalah:

1. Menyebarnya kebodohan
2. Permusuhan di antara kaum muslimin dan selain mereka
3. Berkuasanya orang-orang kafir atas kaum muslimin
4. Menyebarnya kelompok sesat dan  merusak.

Beliau juga menegaskan, shufiyah termasuk sumber sihir. Beliau terangkan bahwa sumber sihir di alam ini adalah:

1. Yahudi
2. Rafidhah dan Batiniyah
3. Shufiyah
4. Ahlul Kalam (Filsafat)
5. Buku-buku yang ditulis tentang masalah sihir

Di antara bukti yang menunjukkan shufiyah adalah orang-orang yang banyak andil dalam penyebaran sihir, adalah buku-buku sihir yang ditulis oleh tokoh-tokoh shufiyah. Di antaranya:

1. Buku Syamsul Ma’arif Al-Kubra
Penulisnya adalah Ahmad Al-Buni. Di akhir bukunya, dia menerangkan sanad-sanad ilmu sihirnya yang dinisbatkan kepada banyak tokoh shufi ekstrem.

2. Buku Rahmah fi Thibb wal Hikmah
Penulis buku ini, Mahdi bin Ibrahim Ash-Shabiri, adalah seorang tokoh shufi ekstrem.

Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata: “Di antara khurafat yang paling hina dalam buku ini adalah yang disebutkan penulisnya dalam judul masalah obat kebutaan: diambil darah haid wanita yang belum pernah didatangi pria (masih gadis, red.), lalu dicampur dengan mani, digunakan sebagai celak mata, ini akan menghilangkan gangguan pada mata.”

Asy-Syaikh Muhamad bin Al-Imam berkata: “Tidak ada yang melakukan hal ini kecuali orang yang dungu dan hilang akalnya.”

Asy-Syaikh juga berkata: “Buku-buku shufi ekstrem dipenuhi sihir dan tanjim (astrologi, red.).” (Lihat Irsyadun Nazhir ila Ma’rifati Alamatis Sihri hal. 54-67)

3. Shufiyah membangun kuburan

Membangun kuburan adalah perkara yang diharamkan dalam Islam. Dari Jabir bin Abdillah radiyallahu'anhu: “Nabi Shallallahu'alaihiwasalam melarang mengapur (mengecat) kuburan, duduk di atas kuburan, juga melarang membangun sesuatu di atas kuburan.” (HR. Muslim no. 970)

Membangun masjid di atas kuburan adalah perbuatan ahlul kitab. Rasulullah Shallallahu'alaihiwaslaam pernah berkata:

أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلٌ الصَّالِحٌ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا

“Mereka itu jika mati dari mereka seorang yang shalih, mereka bangun di atas kuburannya sebuah masjid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan: “Ketahuilah bahwa kaum muslimin yang dahulu dan akan datang, yang awal dan akhir, sejak zaman sahabat sampai waktu kita ini, telah bersepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya termasuk perkara bid’ah, yang telah ada larangan dan ancaman keras dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam atas para pelakunya.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku menginginkan kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur (dicat), karena perbuatan seperti itu menyerupai hiasan atau kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat salah satu di antara dua hal tersebut. Aku tidak pernah melihat kuburan Muhajirin dan Anshar dicat. Perawi berkata dari Thawus: ‘Nabi Shallallahu'alaihiwasalam melarang kuburan dibangun atau dicat’.”

Beliau rahimahullah juga berkata: “Aku membenci dibangunnya masjid di atas kuburan.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata pula: “Aku membenci ini berdasarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam dan atsar…”

Asy-Syaikh Sulaiman Alu Syaikh rahimahullah berkata: “Al-Imam Nawawi rahimahullah menegaskan dalam Syarh Al-Muhadzdzab akan haramnya membangun kuburan secara mutlak. Juga beliau sebutkan semisalnya dalam Syarh Shahih Muslim.”

Bagaimana dengan shufiyah?!

Tidak samar lagi, kaum shufiyah adalah orang-orang yang paling getol membangun dan menyeru untuk membangun kuburan. Membangun kubah-kubah di atas kuburan, terutama kuburan orang yang mereka anggap sebagai wali.

1 Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari (no. 2826) dan Muslim (no. 1890) dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu.
2 Zhihar yaitu menyerupakan istri dengan ibu kandung, seperti ucapan: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”

"Sufi Menyelisihi Akidah Al-Imam Assafi’i"
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
AsySyariah.com

Berharap Mendapatkan Syafa'at

by admin aluyeah
Syarat Mutlak Syafaat | al-uyeah.blogspot.com
Syarat untuk mendapatkan syafaat Allah. Syafaat merupakan sesuatu yang dibutuhkan setiap hamba ketika mengha-dapi kegentingan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Kebutuhan terhadap syafaat menyebabkan sebagian manusia jatuh dalam kesyirikan, yakni dengan memintanya kepada selain Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu justru akan menghalanginya mendapatkan syafaat.

Ada dua syarat bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat dan memberikan syafaat di sisi Allah.

Pertama: Orang yang akan memberikan syafaat mendapatkan izin dari Allah 

Tanpa izin-Nya, tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan syafaat di sisi Allah. Allah Ta'ala berfirman:

Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Syafaat di sisi Allah tidaklah seperti syafaat makhluk kepada yang lain yang bisa diberikan meskipun tidak diizinkan.

Kedua: Orang yang akan mendapatkan syafaat adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan Allah tidak meridhai kekufuran dan kesyirikan namun meridhai keimanan dan ketauhidan.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan mereka tidak akan memberikan syafaat melainkan kepada orang yang telah Allah ridhai.” (Al-Anbiya`: 28)

“Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)

Dan Allah Ta'ala telah menghimpun kedua syarat ini di dalam firman-Nya:

“Dan berapa banyak malaikat yang ada di langit, syafaat mereka tidak berguna sedikitpun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36)

[lihat Syarah Aqidah Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21, Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/437, Kasyfus Syubhat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 154, Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 130]

Dalam permasalahan syafaat manusia digolongkan menjadi tiga:

1. Kaum yang ghuluw (berlebihan) di dalam menetapkan adanya syafaat sehingga mereka memintanya dari orang-orang yang telah mati, kuburan, patung-patung, batu-batu, dan pepohonan. 

Allah Ta'ala berfirman:

Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak bisa memberikan kemudharatan dan manfaat kepada mereka, dan mereka mengatakan bahwa mereka (yang disembah itu) adalah pensyafaat kami di sisi Allah.” (Yunus: 18)

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Az-Zumar: 3)

2. Kaum yang berlebihan di dalam menafikan syafaat seperti halnya kaum Mu’tazilah dan Khawarij di mana mereka menafikan adanya syafaat bagi para pelaku dosa besar.

Mereka berani menyelisihi sesuatu yang dalilnya telah mutawatir dari Al-Qur`an dan As-Sunnah.

3. Kaum yang berada di tengah-tengah, yang menetapkan adanya syafaat sesuai dengan apa yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya, tanpa tafrith dan ifrath. 

Mereka adalah Ahlus Sunnah. (lihat Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan, hal 21)

Ibnu Abil ‘Izzi menjelaskan: “Manusia dalam permasalahan syafaat ada tiga (golongan) pendapat:

(Pertama): Musyrikin, Nasrani, dan Sufiyyah yang ghuluw terhadap guru-guru mereka dan selainnya. Mereka meyakini bahwa syafaat orang yang mereka agungkan di sisi Allah bagaikan syafaat di dunia.

(Kedua): Mu’tazilah dan Khawarij. Mereka mengingkari syafaat Nabi kita Shallallahu'alaihiwasalam dan selainnya, terhadap pelaku dosa besar.

(Ketiga): Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka menetapkan adanya syafaat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam dan selain beliau terhadap pelaku dosa besar, dan bahwa tidak ada yang bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin Allah. (Syarah Aqidah Thahawiyyah hal. 235)

Macam-Macam Syafaat

Telah dibahas oleh para ulama bahwa syafaat secara umum ada dua macam:

Pertama: Syafaat Manfiyyah yaitu syafaat yang ditiadakan oleh Al-Qur`an, yaitu syafaat yang mengandung kesyirikan. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: “Allah telah meniadakan segala hal yang dijadikan tempat bergantung kaum musyrikin selain-Nya. Allah meniadakan dari selain-Nya, segala bentuk kepemilikan, bagian atau bantuan untuk Allah. Sehingga tidak tersisa lagi melainkan syafaat.

Dan Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak bermanfaat kecuali yang mendapat izin dari Allah, sebagaimana firman Allah: “Mereka tidak bisa memberikan manfaat kecuali kepada siapa yang diridhai-Nya.” Syafaat jenis inilah yang disangka kaum musyrikin (bahwa mereka akan mendapatkannya). Padahal (mereka) tidak akan mendapatkannya pada hari kiamat sebagaimana telah ditiadakan oleh Al-Qur`an.

Dan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalm telah memberitakan bahwa beliau datang menghadap Allah kemudian bersujud dan bertahmid. Dan beliau tidak memulai dengan (meminta) syafaat, kemudian dikatakan kepada beliau: “Angkat kepalamu dan katakanlah, maka akan didengar. Dan mintalah, akan diberi. Dan mintalah syafaat, kamu akan diberikan.” Abu Hurairah radiyallahu'anhu berkata: “Siapakah yang paling berbahagia dengan syafaat engkau?” Beliau Shallallahu'alaihiwasalm bersabda: “Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Itulah syafaat bagi orang-orang yang ikhlas dengan izin Allah dan tidak akan diberikan bagi orang yang menyekutukan Allah. Hakikatnya adalah Allah-lah yang akan memberikan keutamaan kepada orang-orang yang ikhlas. Allah akan mengampuni mereka melalui doa orang yang telah diizinkan untuk memberikan syafaat yang bertujuan untuk memulia-kannya dan mendapatkan kedudukan yang terpuji.

Maka syafaat yang ditiadakan Al-Qur`an adalah syafaat mengandung kesyirikan. Oleh karena itu Allah menetapkan adanya syafaat dalam banyak tempat dan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam telah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan didapati melainkan bagi orang yang bertauhid dan ikhlas.” (Lihat Majmu’ Fatawa 1/116 dan Al-Kalam ‘ala Haqiqatil Islam hal. 116-121)

Kedua: Syafaat mutsbatah yaitu syafaat yang keberadaannya ditetapkan Al-Qur`an bagi orang-orang yang bertauhid.

Syafaat ini ada dua bentuk, yang sifatnya umum dan yang sifatnya khusus.

1. Syafaat yang sifatnya khusus

Khusus artinya hanya dimiliki Rasulul-lah Shallallahu'alaihiwasalam dan tidak dimiliki oleh selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul.

a. Syafaat Al-‘Uzhma atau Al-Kubra yaitu syafaat kepada seluruh manusia di hari mahsyar, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radiyallahu'anhu dan juga dari shahabat Anas bin Malik radiyallahu'anhu.

Dalam syafaat ini, para rasul (selain Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam) berlepas diri darinya dan tidak sanggup memberikannya kepada yang lain. Itulah maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) bagi imam para rasul sebagaimana telah dijanjikan Allah di dalam Al-Qur`an. Tidak ada penentangan sedikitpun dalam masalah ini baik dari Khawarij ataupun Mu’tazilah

b. Syafaat beliau terhadap penduduk surga untuk masuk ke dalamnya. Karena, setelah mereka melewati Shirath (titian) dan sampai ke surga, mereka menemukannya dalam keadaan tertutup dan mereka meminta siapa yang akan memberikan syafaat. Lalu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam meminta kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada mereka. (lihat Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid 1/426)

2.  Syafaat yang sifatnya umum

Umum artinya syafaat yang dimiliki oleh Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam dan selain beliau dari kalangan para nabi dan rasul berikut kaum mukminin.

a. Syafaat bagi para pelaku maksiat dari kalangan umat beliau yang berhak masuk neraka agar tidak memasukinya.

b. Syafaat beliau bagi ahli tauhid yang bermaksiat dan telah masuk ke dalam neraka agar bisa keluar darinya. Hadits yang menjelaskan demikian adalah mutawatir dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalm.

Dan sungguh para shahabat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam telah ijma’ (sepakat) terhadap hal itu, dan begitu pula seluruh Ahlus Sunnah. Dan setiap orang yang mengingkarinya akan dicap sebagai pelaku bid’ah dan mereka disikapi dengan keras dan tegas. Di sinilah letak penentangan kaum Khawarij dan Mu’tazilah, dan kalangan ahli bid’ah yang mengikuti langkah mereka.

c. Syafaat untuk mengangkat derajat kaum mukminin di dalam surga. Dalam syafaat ini tidak ada penentangan sedikitpun baik dari Mu’tazilah atau Khawarij.

Namun yang jelas, semua jenis syafaat ini akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid, yang mereka tidak menjadikan selain Allah sebagai wali (penolong) dan syafi’ (pembela). Allah Ta'ala berfirman:

“Dan berikanlah peringatan kepada orang yang takut untuk dibangkitkan ke hadapan Rabb mereka, yang mereka tidak memiliki penolong dan pembela selain Allah.” (Al-An’am: 51) [Lihat Fathul Majid hal. 244-252, Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Ibnu Abil ‘Izzi hal. 232, Al-Qaulul Mufid 1/426, ‘Aqa`id A`immatis Salaf hal.113]

Makna Hadits Abu Hurairah radiyallahu'anhu

Abu Hurairah radiyallahu'anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalm:

“Ya Rasulullah, siapakah yang paling beruntung dengan syafaat engkau kelak pada hari kiamat?”

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda: “Sungguh aku telah menyangka bahwa tidak ada seseorang yang lebih dahulu bertanya tentang ini kecuali engkau, karena semangatmu dalam mencari hadits.”

Beliau bersabda: “Orang yang paling beruntung dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Ucapan beliau: ‘Orang yang mengucapkan La ilaha illallah’ adalah untuk mengecualikan orang yang menyekutukan Allah; dan ucapan beliau ‘dengan penuh keikhlasan’ mengecualikan orang-orang yang munafiq dalam mengucapkannya. (Lihat Fathul Bari 1/236)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Kaum musyrikin tidak mendapatkan syafaat sedikitpun, karena mereka tidak mengucapkan La ilaha illallah… Dan (perkataan beliau: dengan penuh keikhlasan) mengecualikan orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah karena kemunafikan, mereka tidak mendapatkan syafaat sedikitpun… Dan ucapan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam ‘dengan penuh keikhlasan’ artinya selamat (aqidahnya) tanpa dikotori sedikitpun oleh sifat riya` (ingin pamer dalam beramal) dan sum’ah (memperdengarkan amalnya dengan harapan mendapatkan pujian dari orang lain). Ini merupakan gambaran sebuah persaksian (terhadap La ilaha illallah) dengan penuh keyakinan.” (Lihat Al-Qaulul Mufid 1/440)
Wallahu a‘lam.

"Benarkah Syafaat Diminta Kepada Selain Allah?"
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
AsySyariah.com

Doa Agar Dikaruniai Buah Hati

by admin aluyeah
Doa Nabi Zakaria | al-uyeah.blogspot.com
Pendidikan terhadap anak-anak memang bukan suatu hal yang pantas disepelekan. Dari sanalah anak-anak tumbuh menjadi manusia dewasa. Pendidikan yang baik—dengan pertolongan Allah Ta'ala—akan membentuk pribadi yang mapan. Tentunya banyak pula faktor pendukung yang perlu diperhatikan demi membantu keberhasilannya.

Ada beberapa faktor yang membantu keberhasilan pendidikan anak, di antaranya:

1. Memilih istri yang salehah

Sebelum menikah, seyogianya seseorang beristikharah, memohon pilihan terbaik kepada Allah Ta'ala, serta meminta pendapat orang-orang yang berpengalaman, karena istri kelak menjadi ibu bagi anak-anak. Mereka akan tumbuh di atas akhlak dan tabiat ibunya. 

Di samping itu, pada umumnya istri pun memiliki pengaruh terhadap sang suami sendiri. Oleh karena itu, dikatakan, “Seseorang itu di atas agama istrinya. Kesenangannya kepada sang istri akan membuatnya selalu menurutinya. Kecintaan kepadanya akan membuatnya selalu menyetujuinya. Tak pernah ada jalan untuk berbeda, berjauhan, apalagi berpisah.”

Aktsam bin Shifi pernah mengatakan kepada anaknya, “Wahai anakku, jangan sampai kecantikan seorang wanita membuatmu meremehkan kejelasan nasab, karena seorang istri yang mulia merupakan tempat lahirnya kemuliaan.”

Abul Aswad ad-Du’ali mengatakan kepada anak-anaknya, “Sesungguhnya aku telah berbuat baik kepada kalian semasa kalian kecil hingga dewasa, dan sebelum kalian lahir.” Anak-anaknya pun bertanya, “Wahai ayah, bagaimana engkau berbuat baik kepada kami sebelum kami lahir?” Sang ayah menjawab, “Aku memilih untuk kalian ibu-ibu yang kalian tak pernah mencelanya.”

Seorang penyair melantunkan:

Awal kebaikanku kepada kalian
adalah pilihanku pada wanita dari keturunan mulia

2. Memohon keturunan yang saleh kepada Allah Ta'ala

Ini adalah amalan yang dilakukan oleh para nabi dan rasul serta hamba-hamba Allah Ta'ala yang saleh. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman tentang Zakariya 'alaihisalam:

“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali Imran: 38)

Allah Ta'ala juga menghikayatkan sifat orang-orang saleh. Di antaranya, mereka selalu berdoa:

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah bagi kami pasangan-pasangan dan keturunan yang baik sebagai penyejuk mata bagi kami, serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

3. Gembira dengan datangnya anak, tidak boleh bersikap tidak ridha

Anak adalah anugerah dari Allah Ta'ala. Karena itu, mestinya seorang muslim merasa gembira dengan anugerah Allah Ta'ala itu, baik berupa anak laki-laki maupun perempuan. Tidak layak seorang muslim bersikap tidak ridha kepada Allah Ta'ala atas kelahiran anaknya, merasa tidak mampu, atau khawatir akan memberatkan dari sisi nafkah. Sesungguhnya Allah Ta'ala, Dialah yang akan menanggung rezeki mereka. Allah Ta'ala firmankan:

“Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-Isra: 31)

Selain itu, diharamkan pula seorang muslim bersikap tidak ridha dan berduka dengan kelahiran dan kehadiran anak perempuan. Alangkah pantasnya dia menjauhi semua itu, hingga dia selamat dari penyerupaan terhadap akhlak orang-orang jahiliah, juga dari penentangan terhadap takdir Allah Ta'ala, serta penolakan terhadap anugerah-Nya Ta'ala.

Sesungguhnya keutamaan anak perempuan amat nyata. Mereka adalah anak-anak perempuan dan saudara perempuan, yang kelak menjadi para istri atau para ibu. Mereka—sebagaimana kata ungkapan—adalah separuh dari masyarakat yang akan melahirkan separuh yang lainnya. Oleh karena itu, mereka adalah bagian dari masyarakat secara sempurna.

Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan mereka, Allah Ta'ala menamakan kehadiran mereka sebagai anugerah dan mendahulukan penyebutan mereka atas anak laki-laki. Allah Ta'ala berfirman:

“Milik Allah-lah seluruh langit dan bumi. Dia menciptakan apapun yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (asy-Syura: 49)

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa diuji dengan sesuatu hal dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka kelak akan menjadi dinding dari api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)

Betapa bagusnya ucapan seseorang yang mengatakan:

Di antara nikmat Allah Ta'ala yang terbaik adalah anak perempuan yang salehah.
Mereka penerus keturunan dan tumpuan kesenangan, juga penerus silsilah.
Dengan berbuat baik kepada mereka akan dituai berkah.

4. Memohon pertolongan Allah Ta'ala dalam mendidik mereka

Apabila Allah Ta'ala menolong seorang hamba dalam mendidik anak-anaknya, meluruskan dan memberikan taufik kepadanya, dia akan beruntung dan berhasil. Namun, jika Allah Ta'ala membiarkan dan menyerahkan urusan itu kepada dirinya sendiri, dia akan rugi. Amalannya hanya akan menjadi musibah baginya.

Sebagaimana dikatakan, “Jika datang pertolongan Sang Pencipta kepada seorang hamba, dia takkan mendapati angan-angannya yang sulit dicapai, melainkan pasti dimudahkan.”

Begitu pula seperti perkataan, “Jika Allah Ta'ala tidak menolong seseorang, itu adalah awal kegagalan usahanya.”

5. Mendoakan kebaikan bagi anak-anaknya dan menghindari doa kejelekan bagi mereka

Jika mereka anak-anak yang saleh, hendaknya didoakan agar kokoh di atas kesalehannya dan terus bertambah. Jika mereka bukan anak-anak yang baik maka didoakan agar mendapatkan petunjuk dan jalan yang lurus. Hendaknya seseorang benar-benar menjauhi doa kejelekan untuk mereka. Kalaupun mereka rusak dan menyimpang, seharusnya kedua orang tualah, orang pertama yang mengobatinya.

6. Menamai mereka dengan nama yang baik

Suatu hal yang semestinya dilakukan oleh orang tua adalah menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang bagus, Islami, dan menggunakan bahasa Arab. Hendaknya dihindari nama-nama yang terlarang, nama-nama yang tidak disenangi, atau mengandung konotasi jelek, karena nama akan terus melekat bersama si anak sepanjang umurnya dan akan memengaruhi diri serta akhlak mereka.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jarang engkau melihat nama yang jelek melainkan pasti dia diberikan kepada sesuatu yang jelek pula. Ini sebagaimana dikatakan, ‘Amat jarang kedua matamu melihat orang yang memiliki julukan, melainkan pasti dia bersifat seperti makna julukan itu, kalau kau memerhatikan julukannya.’

Allah Ta'ala dengan hikmah-Nya dalam ketetapan dan takdir-Nya memberikan ilham kepada jiwa manusia untuk memberi nama sesuai dengan yang dinamai, karena kesesuaian hikmah-Nya antara suatu lafadz dan makna lafadz itu, sebagaimana sesuainya akibat dengan penyebabnya.

Abul Fath Ibnu Jani juga mengatakan, ‘Suatu ketika, aku mendengar suatu nama sementara aku tak mengerti maknanya. Lalu kuambil maknanya dari lafadznya. Kemudian jelaslah bagiku, ternyata memang demikian maknanya atau mirip dengan itu.’

Lalu kukatakan hal itu pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau pun mengatakan, ‘Itu sering terjadi padaku’.”

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan pula, “Secara umum, akhlak, amalan, dan perbuatan jelek akan membawa kepada penamaan yang sesuai dengannya, sementara kebalikannya akan membawa pada penamaan yang sesuai pula. 

Sebagaimana ini benar adanya dalam nama-nama sifat, begitu pula dalam nama-nama diri. Tidaklah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam diberi nama Muhammad dan Ahmad, melainkan karena banyaknya perangai terpuji pada diri beliau. Karena itu, panji pujian ada di tangan beliau dan umat beliau adalah hammadun (orang-orang yang suka memuji Allah l). Beliau sendiri adalah makhluk yang paling agung pujiannya kepada Rabbnya. Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam memerintahkan untuk membaguskan nama. Beliau Shallallahu'alaihiwasalam pernah bersabda:

حَسِّنُوا أَسْمَاءَكُمْ

“Baguskanlah nama kalian!”

Terkadang, si pemilik nama yang baik merasa segan terhadap namanya, sehingga nama ini mendorongnya untuk berbuat sesuai dengan namanya dan meninggalkan perbuatan yang berlawanan dengan nama tersebut. Maka dari itu, kita melihat mayoritas orang yang rendah memiliki nama yang sesuai dengan diri mereka, sedangkan mayoritas orang yang mulia namanya sesuai pula dengan diri mereka. Wa billahit taufiq.”

Betapa bagusnya ucapan al-Baihani dalam Manzhumah-nya:

Namailah anakmu Muhammad
atau Thahir atau Mushthafa atau Ahmad
Sebaik-baik nama jika kau mau adalah Abdullah
agar dia hidup di bawah kelembutan Allah Ta'ala

7. Memberikan nama kuniah yang baik semasa kanak-kanak

Misalnya memberi kuniah kepada anak dengan Abu Abdillah, Abu Ahmad, dan sebagainya, sehingga mereka tidak didahului oleh julukan-julukan jelek yang akan terus melekat sepanjang umurnya. Dulu salafush shalih biasa memberi kuniah kepada anak-anak mereka semasa kecil. Kuniah ini tetap melekat hingga wafatnya. Dalam kitab-kitab biografi banyak ditemui yang seperti ini.

8. Menanamkan keimanan dan akidah yang benar dalam jiwa anak

Di antara kewajiban—bahkan ini hal yang paling wajib atas orang tua—adalah benar-benar bersemangat menjaga perkara keimanan serta akidah ini dengan penuh perhatian. Misalnya, mengajari anak-anak semenjak kecil untuk mengucapkan dan menyatakan dua kalimat syahadat, serta menumbuhkan dalam hati mereka rasa cinta kepada Allah Ta'ala. 

Juga mengajarkan bahwa segala nikmat yang ada pada kita hanyalah dari Allah Ta'ala semata. Diajari pula mereka bahwa Allah Ta'ala ada di atas langit, Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar, tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, serta masalah-masalah akidah lainnya. Ketika mereka telah beranjak dewasa, diarahkan pula untuk membaca kitab-kitab akidah yang sesuai bagi mereka.

9. Menanamkan nilai-nilai yang terpuji dan perangai yang mulia dalam jiwa anak

Hendaknya orang tua memiliki semangat untuk mendidik mereka di atas ketakwaan, kesantunan, kejujuran, amanah, penjagaan kehormatan diri, kesabaran, kebajikan, menyambung hubungan, berjihad, dan berilmu. Dengan demikian, mereka tumbuh dewasa dalam keadaan cinta dengan keberanian dan cinta terhadap akhlak yang mulia.

10. Menjauhkan dan menanamkan celaan dalam jiwa mereka terhadap akhlak yang rendah

Hendaknya orang tua menanamkan kebencian dalam diri mereka terhadap kedustaan, hasad, dendam, ghibah, namimah, mengambil hak orang lain, durhaka terhadap orang tua, memutuskan hubungan kekerabatan, pengecut, kesewenang-wenangan, dan akhlak rendah lainnya. Mereka pun tumbuh dalam keadaan benci dan menjauhi itu semua.

11. Mengajarkan dan melatih mereka dengan perkara-perkara yang baik

Misalnya mendoakan orang yang bersin, menutup mulut ketika menguap, makan dengan tangan kanan, adab-adab menunaikan hajat, adab-adab mengucapkan dan membalas salam, adab menjawab telepon, menyambut tamu, bercakap dalam bahasa Arab, dan sebagainya.

Jika sejak kecil anak terlatih dengan adab dan akhlak serta hal-hal terpuji lainnya, dia pun akan mengakrabinya hingga akhirnya menjadi sifatnya. Selama dia menerima pengajaran dan bimbingan semasa kanak-kanaknya, dia pun tumbuh dewasa dengan apa yang dibiasakan kepadanya.

Sebagaimana dikatakan, “Tumbuhnya pemuda itu di atas apa yang dibiasakan ayahnya.”

Juga sebagaimana perkataan, “Dahan pohon akan lurus jika engkau luruskan, namun sebatang kayu takkan bisa lunak bila kau luruskan.”

Saleh bin Abdil Quddus mengatakan pula:

Orang yang kau didik di masa kecilnya
bak batang pohon yang terus disirami saat ditanam,
hingga kaulihat tumbuh dedaunannya
setelah dulu dia hanya sesuatu yang kerontang.

12. Selalu berusaha menggunakan ungkapan yang baik ketika berbicara dengan anak dan menghindari ungkapan yang jelek dan tercela

Di antara perkara yang harus dijaga oleh orang tua adalah selalu berusaha menggunakan ungkapan yang baik dan dapat diterima. Juga tidak memandang dengan tajam ketika berbicara kepada anak, serta menjaga diri dari mencela, mencaci, menggerutu, ataupun mengatakan ucapan-ucapan jelek dan kotor lainnya.

Misalnya, apabila orang tua merasa kagum dengan perbuatan si anak, hendaknya ia mengatakan, “Masya Allah.” Apabila melihat anak yang tampak bersemangat maka ucapkanlah, “Subhanallah, Allahu akbar.” Apabila si anak berbuat baik, dikatakan kepadanya, “Barakallahu fiik, ahsantum (semoga Allah memberkahimu, engkau telah berbuat baik).” Jika anak berbuat kesalahan, dikatakan kepadanya, “Jangan, wahai anakku!” atau “Tidak demikian!” Masih banyak lagi ungkapan baik yang lain. Anak pun akan akrab dengan ungkapan seperti ini, sehingga terjaga lisannya dari cercaan dan ucapan keji.

13. Selalu berusaha mengajak anak untuk menghafal Kitabullah

Amalan ini termasuk amalan paling agung yang bisa dilakukan oleh orang tua. Kesibukan menghafal dan mengamalkan Kitabullah adalah kesibukan dengan cita-cita yang tertinggi dan anugerah termulia. Di samping itu, hal ini akan menyibukkan waktu serta menjaga mereka dari penyia-nyiaan waktu dan penyimpangan. Apabila menghafal Al-Qur’an akan berpengaruh terhadap perilaku dan akhlak mereka, hingga muncul mata air hikmah dalam hati mereka.

14. Membentengi mereka dengan zikir-zikir yang syar’i

Ini bisa dilakukan dengan memperdengarkan bacaan zikir itu pada mereka jika mereka masih kecil, menyuruh mereka menghafalnya jika mereka telah berusia mumayyiz, serta menerangkan keutamaan dan membiasakan mereka agar terus-menerus melakukannya.

(Diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dari Arba’atu Akhtha’ fi Tarbiyatil Abna’ karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, dengan sedikit perubahan)

"Faktor Pendukung Pendidikan Anak (Bagian ke-1)"
AsySyariah.com

Doa Agar Dikarunia Keturunan Yang Sholeh

by admin aluyeah
Doa Nabi Ibrahim | al-uyeah.blogspot.com
Tak ada sepasang suami istri pun melainkan merindukan hadirnya anak di tengah mereka sebagai qurratu ‘ain, penyejuk mata dan hati mereka. Dapat dibayangkan betapa sepinya sebuah rumah tangga berikut hati penghuninya tatkala anak yang didamba tak jua diperoleh.

Tak heran ketika lama tak dikaruniai anak, Nabiyullah Zakariyya 'alaihisalam menyenandungkan doa kepada Al-Wahhab mengadukan keadaan dirinya:

Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut/perlahan. Ia berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan sungguh aku khawatir terhadap orang-orang yang ada di belakangku sepeninggalku nanti, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.” (Maryam: 3-6)

Dalam ayat lain:

“Wahai Rabbku, anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 38)

Ketika lama tak beroleh keturunan, Abul Anbiya (Bapak para nabi), Al-Khalil Ibrahim 'alaihisalam juga berdoa:

“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffat: 100)

Para nabi merindukan anak

Setiap pasangan suami istri juga mendambakan anak, karena memang anak merupakan nikmat Allah Ta'ala yang besar.

Ketika si anak telah hadir di tengah sebuah keluarga, kasih sayang, cinta dan perhatian yang besar pun tertumpu padanya. Ayah dan bunda rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan si buah hati.

Ini pula yang dirasakan oleh Nabiyullah Ibrahim 'alaihisalam ketika Allah Ta'ala menganugerahkan kepadanya Ismail, seorang anak yang amat penyabar. Betapa dalam cinta dan kasih Ibrahim kepada putranya ini.

Namun di saat-saat yang demikian, Allah Ta'ala hendak menguji Ibrahim, apakah ia lebih mencintai sang putra ataukah ia lebih cinta kepada Rabbnya yang telah memilihnya sebagai khalil/kekasih? Allah Ta'ala memerintahkan Ibrahim agar membawa putranya yang masih bayi berikut ibunya, Hajar, ke sebuah lembah yang tiada berpenghuni, menempatkan anak dan ibu tersebut di tempat itu serta meninggalkan mereka berdua.

Nabi Ibrahim 'alaihisalam ternyata lulus dari ujian tersebut. Dengan penuh keyakinan kepada Allah Ta'ala bahwa Allah Ta'ala tidak akan menelantarkan anak keturunannya, ditinggalkannya Ismail dan Hajar sang ibu, di lembah yang sepi. Memang Allah Ta'ala menjaga Ismail dan ibunya, serta memuliakan keduanya. Akhirnya Allah Ta'ala mempertemukan kembali Ibrahim dengan sang putra yang sangat dikasihi.

Allah Ta'ala kembali hendak menguji cinta Ibrahim kepada-Nya dengan memerintahkan Ibrahim lewat mimpinya agar menyembelih putra terkasih yang kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah. Kembali Ibrahim tunduk kepada titah Rabbnya ditambah kepasrahan sang putra. Allah Ta'ala berfirman:

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan putranya di atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami berseru kepadanya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi tersebut. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar sebuah ujian yang nyata.” Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat: 103-111)

Demikianlah, memang Allah Ta'ala tidak menghendaki nikmat anak yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya melalaikan mereka dari mengingat Allah Ta'ala. 

Allah Ta'ala tidak menginginkan mereka mengedepankan cinta mereka kepada anak lebih daripada cinta mereka kepada-Nya. Karena itu, Dia Yang Mahasuci mengingatkan dalam Tanzil-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Dalam ayat di atas, Allah Ta'ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar banyak mengingat-Nya (berzikir kepada-Nya). Karena berzikir kepada-Nya akan memberikan keuntungan dan kesuksesan serta kebaikan yang banyak. Dia melarang mereka tersibukkan dengan harta-harta dan anak-anak dari mengingat-Nya, karena memang kecintaan kepada harta dan anak-anak merupakan tabiat yang mendominasi kebanyakan jiwa. Akibatnya, seseorang bisa mengedepankan cinta kepada harta dan anak daripada cinta kepada Allah Ta'ala.

Dia mengabarkan kepada mereka bahwa tersibukkan dengan harta dan anak termasuk kelalaian. Artinya, terlalaikan oleh perhiasan kehidupan dunia dan gemerlapnya dari tujuan seseorang diciptakan, yaitu untuk taat kepada Rabbnya dan mengingat-Nya. Barangsiapa berbuat demikian, maka dia termasuk orang-orang yang merugi, yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.

Karenanya, Allah Ta'ala berfirman: “Barangsiapa yang berbuat demikian,” yaitu harta dan anak melalaikannya dari berzikir kepada Allah Ta'ala, “maka mereka itulah orang-orang yang merugi,” tidak beroleh kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal, disebabkan mereka lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/106, Taisir Al-­Karimir Rahman, hlm. 865)

Allah Ta'ala juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah(1) bagi kalian, dan di sisi Allahlah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 14-15)

Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, di antara istri dan anak ada yang menjadi musuh suami dan ayah. 

Artinya, anak atau istri tersebut akan melalaikan seseorang dari beramal shalih. Harta dan anak-anak hanyalah fitnah, yaitu ujian dan cobaan dari Allah Ta'ala kepada makhluk-Nya, agar Dia mengetahui siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/111)

Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menyatakan, “Ini merupakan peringatan Allah Ta'ala kepada orang-orang yang beriman agar tidak tertipu dengan para istri dan anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian. Yang namanya musuh, tentu menginginkan kejelekan untukmu.

Jadi, tugasmu adalah berhati-hati dari orang yang demikian sifatnya. Tambahan pula, jiwa tercipta untuk mencintai para istri dan anak-anak(2). Oleh sebab itu, Allah Ta'ala menasihatkan hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membawa mereka terikat dengan permintaan/tuntutan para istri dan anak-anak yang mengandung hal-hal yang dilarang syariat.

Allah Ta'ala memberikan hasungan kepada mereka untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mengedepankan keridhaan-Nya, berupa pahala yang besar di sisi-Nya, yang mencakup tuntutan yang tinggi dan kecintaan yang mahlm. Sebagaimana Dia memerintahkan mereka agar mementingkan dan mendahulukan akhirat daripada dunia fana yang akan berakhir.

Tatkala Dia melarang menaati istri-istri dan anak-anak dalam hal yang dapat memberikan mudarat kepada seorang hamba dan memperingatkan masalah ini, mungkin bisa timbul anggapan yang keliru, yaitu harus selalu bersikap keras lagi kaku kepada istri-istri dan anak-anak serta memberikan hukuman kepada mereka. Tidaklah demikian. Justru kita dihasung untuk memaafkan mereka, karena pemaafan mengandung kebaikan yang tidak mungkin dibatasi banyaknya.” (Taisir Al­-Karimir Rahman, hlm. 868)

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam sendiri merasakan betapa besarnya ujian anak. Ketika tengah berkhutbah, beliau Shallallahu'alaihiwasalam sampai memutus khutbah beliau karena melihat kedua cucu beliau. Hal ini kita ketahui dari hadits Buraidah radiyallahu'anhu berikut ini:

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam sedang menyampaikan khutbah kepada kami, lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain, semoga Allah Ta'ala meridhai keduanya, dengan mengenakan qamis berwarna merah. Keduanya jatuh tergelincir dan bangun/bangkit kembali. Sebab itu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam turun dari mimbar, mengambil keduanya lalu naik mimbar sambil membawa keduanya. Kemudian beliau bersabda, “Mahabenar Allah, Dia telah berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah bagi kalian.’ Aku melihat kedua anak ini maka aku tidak sabar/tidak bisa menahan diri untuk menghampiri keduanya.” Setelah itu beliau mulai lagi berkhutbah. (HR. Abu Dawud no. 1109 dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Cinta kepada anak jangan melalaikan dari mengingat Allah Ta'ala

Anak memang harus mendapatkan cinta, kasih sayang, dan perhatian. Namun kecintaan, kasih sayang dan perhatian kepadanya tidak boleh melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah Ta'ala dan berzikir kepada-Nya.

Ingatlah kisah Ibrahim 'alaihisalam berkaitan dengan putranya Ismail 'alaihisalam. Pengorbanan Ibrahim 'alaihisalam menunjukkan kepada kita betapa Ibrahim 'alaihisalam sangat mencintai Rabbnya Ta'ala dan tidak pernah lalai dari mengingat-Nya, walaupun ia memiliki anak yang sangat dikasihinya. Namun cinta-Nya kepada Allah lmengalahkan segalanya, karena memang itulah yang dituntut dari seorang hamba. Bukankah Allah Ta'ala telah memperingatkan:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah: 24)

Ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam pun harus dikedepankan daripada kecintaan kepada seluruh makhluk. Barangsiapa yang tidak melakukan yang demikian, maka ia tidaklah beriman dengan iman yang sempurna. Karena Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)

Menumbuhkan suasana zikir di dalam rumah

Betapa indahnya gambaran sebuah keluarga yang anggotanya tidak lalai dari berzikir kepada Allah Ta'ala, senantiasa menghidupkan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Betapa tenteramnya hati mereka dan betapa damainya rumah mereka karena Allah Ta'ala telah menyatakan:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)

Karena itu, seorang ayah sebagai kepada rumah tangga harus menghidupkan suasana zikir kepada Allah Ta'ala di rumahnya. Ia harus mengajak anak-anak dan istrinya berikut penghuni rumah yang lain untuk selalu berzikir kepada Allah Ta'ala.

Zikir sendiri jangan dipahami seperti zikirnya orang-orang Sufi, berkumpul di satu tempat lalu menyuarakan zikir secara bersama-sama, berteriak dengan suara keras, mengucapkan lafadz-lafadz yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah n, ke mana-mana membawa dan mengalungkan biji-biji tasbih, serta berbagai perbuatan lain yang tidak ada tuntutan syar’inya.

Menghidupkan zikir di rumah bisa dilakukan dengan mengajak dan memerintahkan anak-anak agar rutin membaca Kitabullah, memperbanyak shalat nafilah di dalam rumah, mengucapkan doa dan zikir-zikir yang dituntunkan untuk perlindungan setiap pagi dan petang. Tidak lupa membaca doa sebelum makan dan minum, ketika mau tidur dan saat terbangun, ketika masuk WC, dan zikir-zikir lain yang diajarkan Nabi kita yang mulia Shallallahu'alaihiwasalam.

Saat si anak bersin, kita ingatkan dia agar mengucapkan hamdalah. Ketika ia menguap, kita ingatkan dia agar menutup mulutnya dan menahan suaranya serta mengucapkan kalimat isti’adzah.

Kecintaan kepada ilmu agama pun harus ditumbuhkan di tengah keluarga, karena belajar ilmu agama termasuk zikir kepada Allah Ta'ala. Dengan belajar agama seseorang bisa mengetahui mana perkara yang bisa mendatangkan kecintaan Allah Ta'ala dan mana yang bisa mendatangkan murka-Nya, sehingga apa yang mendatangkan cinta-Nya dikerjakan dan yang mengundang murka-Nya ditinggalkan.

Sang ayah harus cinta kepada ilmu syar’i, ibu juga demikian. Anak-anak tinggal mencontoh kedua orang tuanya setelah tentunya mereka dihasung dengan lisan.

Demikianlah di antara upaya yang bisa dilakukan untuk senantiasa mengingat Allah Ta'ala dan tidak lalai dari-Nya.

Sebagai penutup, kita ingatkan kembali bahwa anak merupakan nikmat Allah Ta'ala yang patut disyukuri. Salah satu bentuk kesyukuran kepada Dzat yang telah memberikan kenikmatan adalah dengan senantiasa mengingat-Nya dan mendidik anak untuk mengingat-Nya pula.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dai jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14)

"Jangan Lalai dari Dzikrullah"
ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
AsySyariah.com

Berdoa Kepada Rosulullah

by admin aluyeah
Berdoa Kepada Rosulullah | al-uyeah.blogspot.com
Kelompok Shufiyah (Sufi) telah menyebar di dunia Islam, sehingga kaum muslimin pun terbagi dua dalam menyikapi mereka. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Agar seseorang bisa menentukan berada di pihak yang mana dan bisa menyikapi mereka dengan benar, hendaknya ia mengetahui hakikat shufiyah yang sebenarnya. Benarkah pengakuan mereka sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah? Apakah mereka sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Untuk mengetahui hakikat mereka tentunya kita harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih disertai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Siapakah Shufiyah?

Perlu diketahui, Shufiyah adalah satu lafadz yang tidak dikenal pada masa sahabat, juga tidak masyhur di masa generasi utama (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Mereka muncul setelah masa tiga generasi utama. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Lihat Fatawa, 11/5, Haqiqatu Ash-Shufiyah hal. 13)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi Shallallahu'alaihiwasalam, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)

Nukilan di atas menunjukkan bahwa shufiyah adalah kelompok baru dalam Islam ini.

Pemikiran Shufiyah

Bila seseorang mau adil menelaah pemikiran dan akidah amalan shufiyah, dia akan dapati banyak sekali pemikiran, akidah, dan amalan shufiyah yang menyimpang dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam.

Sebagai bentuk keadilan, marilah kita perhatikan apa yang akan kami paparkan mengenai beberapa penyimpangan prinsip, amalan, dan akidah shufiyah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau thariqat-thariqat (tarekat-tarekat). 

Ada tarekat Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, dan lainnya. Demikianlah mereka berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja. Allah Ta'ala berfirman:

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)

2. Sebagian shufiyah juga berdoa kepada selain Allah Ta'ala. 

Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Padahal Allah Ta'ala berfirman:

“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam menyatakan:

“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah Ta'ala maka dia adalah musyrik kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mu’minun: 117) [Lihat kitab Tsalatsatul Ushul]

3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam(1). 

Padahal Allah Ta'ala berfirman:

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)

4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti). 

Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.

5. Shufiyah membolehkan berjoget sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras. 

Padahal Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menerangkan: “Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar(2)….” (Musharaah hal. 387)

Di antara mereka juga adalah Muhammad Kabbani(3), yang berkunjung ke Jakarta dan berdzikir serta mengajak yang hadir berjoget.

Kemudian mereka juga berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz hu. Padahal Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam menyatakan:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah…” (HR. At-Tirmidzi)

6. Sebagian Shufiyah mengklaim tahu ilmu ghaib, padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah Ta'ala. 

Allah Ta'ala berfirman:

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah Ta'ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam dari cahaya-Nya, kemudian Allah Ta'ala menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam

Namun Al-Qur’an mendustakan mereka. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah Ilah yang Esa’.” (Al-Kahfi: 110)

Firman-Nya tentang penciptaan Nabi Adam 'alaihisalam:

(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)

Adapun hadits: “Yang pertama diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir.” adalah hadits maudhu’ (palsu).

9. Shufiyah mengklaim bahwa ibadah kepada Allah Ta'ala tidaklah dilakukan karena takut kepada neraka atau mengharapkan surga. 

Mereka berpendapat bahwa ibadah karena mengharapkan surga adalah kesyirikan, sebagaimana diucapkan oleh tokoh mereka Sya’rawi. (Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hal. 20-21)

Padahal Allah Ta'ala berfirman:

Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Al-Anbiya: 90)

Ibadah haruslah memenuhi tiga rukunnya: khauf (rasa takut), raja’ (rasa harap), dan mahabbah (rasa cinta).

10. Sebagian Shufiyah mengklaim bahwa Allah Ta'ala menciptakan dunia karena Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam. 

Allah Ta'ala mendustakan mereka. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Allah Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam:

“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yakin (ajal).” (Al-Hijr: 99)

11. Mereka membaca shalawat-shalawat yang tidak diajarkan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam. 

Bahkan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, yang tak akan diridhai oleh Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam.(4)

12. Shufiyah mengklaim bisa melihat Allah Ta'ala di dunia. 

Al-Qur’an menunjukkan kedustaan mereka, karena Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi Musa 'alaihisalam:

Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Al-A’raf: 143) [Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitabi was Sunnah hal. 8-21]

1 Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik. Lain halnya bila yang dimaksud dengan istilah ini tidak sampai pada tingkatan rububiyah (ikut mengatur alam). -red

2 Tarian ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan whirling dervish. Dervish (darwis) adalah sebutan untuk penarinya. -red

3 Muhammad Hisham Kabbani, tokoh tarekat Naqsyabandiyah Haqqani. Oleh media, ia disebut-sebut sebagai “syaikh” sufi paling berpengaruh di dunia saat ini. -red

4 Di antaranya shalawat yang mereka namakan shalawat Nariyah. Ini adalah shalawat yang berisi kesyirikan karena disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan kesusahan, dan menunaikan kebutuhan. (Lihat Al- Firqatun Najiyah)

"Siapakah Sufi? Paham Sufi dalam Timbangan Al-Qur’an dan Assunnah"
ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
AsySyariah.com

Teguh Dalam Dien

by admin aluyeah
Doa Teguh Dalam Dien | al-uyeah.blogspot.com
Hidayah yang keempat adalah hidayah ahlul jannah (penduduk surga) untuk masuk ke dalam surga dan hidayah ahlun nar (penduduk neraka) untuk masuk ke dalam jahannam.

Inilah garis finis perjalanan panjang pencapaian hidayah. Orang-orang yang menerima hidayah dan istiqamah di atasnya hingga akhir hayat, akan diberi petunjuk masuk ke dalam surga sebagai buah perjuangan mereka. Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Yunus: 9)

Allah Ta'ala juga menyebutkan pernyataan ahlul jannah saat mereka sudah berada di dalamnya.

Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk ….” (al-A’raf: 43)

Adapun orang-orang yang menolak hidayah dan tidak diberi hidayah at-taufiq oleh Allah Ta'ala, sehingga dia mati di atas kekufurannya, tempat tinggal mereka adalah neraka. Allah Ta'ala berfirman:

(Kepada malaikat diperintahkan), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (ash-Shaffat: 22—23)

Walhasil, ada dua ketentuan agar seseorang mencapai garis finis yang baik dengan mendapatkan surga.

1. Menempuh ash-shirathal mustaqim selama hidup di dunia, sehingga di akhirat akan diberi petunjuk melewati shirath (jembatan) yang terbentang di atas neraka jahannam dan masuk ke dalam surga—dengan izin Allah Ta'ala.

2. Istiqamah di atasnya hingga embusan nafas yang terakhir, sehingga meraih khusnul khatimah yang akhirnya dimasukkan oleh Allah Ta'ala ke dalam surga-Nya.

Tentang dua hal ini, umat menusia terbagi menjadi beberapa golongan.

1. Orang yang hidup di bawah naungan hidayah hingga akhir hayatnya. Inilah hamba yang terbaik.

2. Orang yang hidup di bawah naungan kesesatan dan penyimpangan sampai nyawa lepas dari jasad. Ini adalah hamba yang terburuk.

3. Orang yang hidup di bawah naungan kesesatan dan penyimpangan, namun di akhir hidupnya meraih hidayah at-taufiq sampai ujung kehidupannya. Ini adalah hamba yang beruntung.

4. Orang yang hidup di bawah naungan hidayah, namun pada saat-saat terakhir kehidupannya dia justru terjatuh dalam kesesatan dan penyimpangan. Ini adalah hamba yang malang.

Semua itu tidak lepas dari ketentuan takdir Allah Ta'ala. Hamba disyariatkan untuk menjalani sebab hidayah, sedangkan hasil akhirnya Allah Ta'ala yang menentukan. Kaidahnya:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Amalan itu tergantung pungkasannya.”

Oleh karena itu, di samping menjalani sebab hidayah, kita semua tidak boleh lupa untuk selalu memanjatkan doa:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu.”

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu khusnul khatimah, dan kami berlindung kepada-Mu dari su’ul khatimah.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

"Akhir Sebuah Hidayah"
ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin
AsySyariah.com