Let's Change The World By Holding Tauhid And Sunnah

Kami percaya dunia menjadi lebih baik ketika tegak tauhid dan sunnah di bumi ini

Artikel

Mamen bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan mamen lainnya di page facebook dan twitter untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Peradaban Muslim

Peradaban Muslim | al-uyeah.blogspot.com
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam bersabda:

Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb(1), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ahaditsul Anbiya, bab Ma Dzukira ‘an Bani Israil (no. 3456) dan Kitab Al-I‘tisham bil Kitab was Sunnah, bab Qaulin Nabi Shallallahu'alaihiwasalam “Latattabi‘unna sanana man kana qablakum” (no. 7320) dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-‘Ilmi (no. 2669) dan diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi dalam kitab syarahnya terhadap Shahih Muslim, bab Ittiba‘u Sananil Yahudi wan Nashara.

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam juga bersabda yang senada dengan hadits di atas dalam hadits yang dibawakan oleh  Abu Hurairah radiyallahu'anhu:

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku mengambil jalan hidup umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Maka ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?”(2) Beliau menjawab: “Siapa lagi dari manusia kalau bukan  mereka?” (HR. Al-Bukhari no. 7319)

Pengabaran Nabi Shallallahu'alaihiwasalam dalam dua hadits yang mulia di atas merupakan tanda dan bukti tentang kebenaran nubuwwah beliau Shallallahu'alaihiwasalam, serta  merupakan mukjizat beliau yang dzahir karena telah tampak dan telah terjadi apa yang beliau beritakan tersebut. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Kitabut Tauhid, hal. 26, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

Terlebih khusus lagi bila kita menyaksikan keadaan kaum muslimin di zaman kita ini, kebiasaan menyerupai dan meniru orang Barat yang notabene mereka itu adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani, merupakan fenomena yang biasa namun menyakitkan dan menyedihkan.

Sehingga dengan budaya penjajah ini, kalangan muda maupun orang-orang tua dari kaum muslimin seakan merasa minder dan rendah derajatnya bila tidak sama dengan gaya hidup, model dan budaya orang-orang kafir (peradaban kuffar). Sebaliknya, mereka merasa bangga dan sangat percaya diri bila mana mereka dapat “tampil sama” atau paling tidak sekedar mirip dengan orang-orang kafir.

Budaya “yang penting dari Barat” dan “asal sama dengan Barat” ini telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin dari kalangan orang-orang metropolitan, merambah sampai ke pedesaan dan pedusunan yang terpencil bagaikan sebuah revolusi peradaban yang telah disiapkan oleh orang-orang kafir sehingga semua yang datang dari Barat mereka anggap baik dan diterima dengan penuh ketundukan. Ibaratnya mereka berkata sami’na wa atha’na  (kami mendengar dan kami taat), baik itu cara berpakaian, cara bergaul, cara makan, cara berbicara, gaya hidup dan sebagainya.

Budaya-budaya impor yang diobral orang-orang Barat lewat media massa baik di televisi yang merupakan da’i yang paling berhasil di sisi mereka ataupun lewat ekspos kehidupan artis-artis mereka yang laku keras diterima oleh kaum muslimin yang maghrur (tertipu) dan buta mata hatinya dari semua lapisan. Jangankan mereka yang dikatakan bodoh terhadap agamanya, orang yang dianggap tahu agama pun ikut jadi korban.

Berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah dan yang lainnya dari kalangan salaf: “Sungguh orang yang rusak dari kalangan ulama kita, karena penyerupaannya dengan Yahudi. Dan orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, karena penyerupaannya dengan Nashrani.” (Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim, hal. 23-23)

Gelombang badai yang besar ini menghantam segala apa yang ada di hadapannya dan membawa korban yang besar. Wallahu Al-Musta‘an wa ilallahi Al-Musytaka (Hanya kepada Allah kita meminta tolong dan mengadu).

Sungguh benar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam ketika menyatakan umat beliau akan meniru dan menyerupai umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Karena saking ingin sama dan serupanya dengan peradaban kafirin, bila diibaratkan umat terdahulu masuk ke lubang dhabb yang sedemikian sempit maka umat ini pun akan masuk pula ke dalamnya. Nas’alullah As-Salamah wal ‘Afiyah (hanya kepada Allah kita memohon keselamatan).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu'alaihiwasalam mengkhususkan penyebutan lubang dhabb karena lubangnya sangat sempit. Namun bersamaan dengan itu umat beliau akan mengambil jejak umat terdahulu dan mengikuti jalan mereka, walaupun seandainya mereka masuk ke lubang yang sesempit itu niscaya umat ini akan tetap mengikutinya.” (Fathul Bari, 6/602)

Yang dimaksud dengan sejengkal, sehasta dan penyebutan lubang dhabb dalam hadits ini adalah untuk menggambarkan betapa semangatnya umat ini mencocoki umat terdahulu dalam penyelisihan dan maksiat, mencontoh mereka dalam segala sesuatu yang dilarang dan dicela oleh syariat. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Fathul Bari, 13/313)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu'alaihiwasalam memberitahukan bahwa umat beliau akan mengikuti perkara-perkara baru (yang diada-adakan), bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelum mereka. Beliau Shallallahu'alaihiwasalam telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang banyak bahwasanya di akhir zaman akan ada kejelekan. Dan hari kiamat tidak akan datang kecuali pada sejelek-sejelek manusia dan agama ini hanya tetap tegak di sisi orang-orang yang khusus.”(3) (Fathul Bari, 13/314)

Dalam hadits Abu Said Al-Khudri radiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam menyebut Yahudi dan Nashrani, sedangkan dalam hadits Abu Hurairah radiyallahu'anhu, beliau Shallallahu'alaihiwasalam menyebut Persia dan Romawi. 

Karena memang Romawi identik dengan Nashrani, sementara di kalangan bangsa Persia ada orang Yahudi. Namun dimungkinkan pula Rasulullah memberikan jawaban sesuai dengan tempatnya, yakni dalam perkara yang berkaitan dengan hukum di antara manusia dan politik kemasyarakatan, umat ini akan mengikuti Persia dan Romawi. Sedangkan dalam perkara yang berkaitan dengan agama yang pokok maupun yang cabangnya, umat ini akan mencontoh Yahudi dan Nasrani. (Lihat Fathul Bari, 13/314)

1 Dhabb adalah hewan melata yang hidup di padang pasir, serupa dengan biawak.
2 Persia dengan raja mereka Kisra, dan Romawi dengan raja mereka Qaishar, merupakan dua bangsa yang terkenal (adi daya) di waktu itu. Dua negeri ini merupakan kerajaan terbesar di muka bumi, paling banyak penduduknya dan paling luas wilayahnya. (Fathul Bari, 13/313)
3 Mereka inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam dalam sabda beliau:

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al-haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang  menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta‘ala, sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhari no.7459 dan Muslim no.1920)-pen.

"Islam Diantara Hantaman Badai Peradaban Kuffar"
ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
AsySyariah.com

Jika artikel ini bermanfaat, bantu share artikel ini. Lets change the world together mamen!