Kisah Nabi Ibrahim

Kisah Nabi Ibrahim | al-uyeah.blogspot.com
Sebagai umat muslim sudah seharusnya kita memperhatikan kisah-kisah manusia teladan di muka bumi ini. Salah satunya adalah beliau Nabi Ibrahim 'alaihisalam. Yang dalam kisah beliau, mengajarkan kepada kita pentingnya pengorbanan untuk sebuah cinta. Dan merupakan perkara aneh, ketika mengaku cinta tetapi tidak mau melakukan pengorbanan. Bukti cinta adalah pengorbanan.

Luangkan waktu untuk membaca kisah yang agung ini, Read men!

Bertahun-tahun sudah, suara tangis bayi belum juga memenuhi rumah tangga Khalil Allah, Ibrahim. Sarah, istri beliau juga sudah semakin renta. Menurut kita, keadaan seperti ini mustahil akan beroleh anak. Tapi apakah demikian keyakinan seorang yang menyandang kedudukan tertinggi dalam berhubungan dengan Sang Khaliq Yang Maha Kuasa?

Tentu tidak.

Seorang yang bertauhid, senantiasa bersegera dalam kebaikan, selalu waspada, tidak berputus asa dan tetap membersihkan hatinya dari berbagai kotoran, terlebih lagi Nabiyullah Khalilur Rahman Ibrahim  yang selalu berdoa, meminta kepada Allah  agar diberi karunia seorang anak.

Allah  berfirman tentang Ibrahim:

Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ 

Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). 

Dan Kami panggillah dia: ‘Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (Ash-Shaffat: 100-108)

Dalam ayat yang mulia ini, Allah  menceritakan tentang Khalil-Nya Ibrahim  setelah meninggalkan kaumnya. Ibrahim meminta kepada Rabbnya agar diberi anugerah berupa seorang anak yang shalih. Kemudian Allah  memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang penyabar, yaitu Isma’il .

Inilah putra pertama beliau, yang lahir di saat Nabi Ibrahim  berusia 86 tahun, sebagaimana disepakati oleh seluruh agama. Usia yang cukup renta dan mustahil menurut kita masih akan beroleh anak.

Tapi, siapa yang ragu dengan kekuasaan Allah , kalau bukan orang-orang yang tidak beriman? Atau sangat tipis imannya?

Kemudian, perhatikan pula doa yang dipanjatkan Ibrahim, bukan semata-mata naluri kerinduan seorang ayah, tapi lebih dari itu. Harapan utama, agar anak itu adalah anak yang shalih, berguna bagi sesama.

Seorang anak, jika dia tidak bermanfaat, tentu akan merugikan orang lain, bahkan dapat menjadi azab bagi siapa saja terlebih kedua orangtuanya. Nas’alullaha as-salamah.

Allah  berfirman:

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (At-Taubah: 55)

Oleh karena itu pula, ketika seorang mukmin berdoa, mengharapkan kehadiran anak, tetapi belum terkabul, janganlah terburu-buru dan ingin disegerakan terwujud harapannya. Lihatlah bagaimana Nabi dan Khalil Allah, Ibrahim . Selama berpuluh tahun, beliau tetap meminta dan berdoa kepada Allah  agar diberi anugerah berupa seorang anak yang shalih.

Simaklah apa yang difirmankan Allah:

Dan kabarkanlah kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke tempatnya, lalu mereka mengucapkan: ‘Salam.’ Berkata Ibrahim: ‘Sesungguhnya kami merasa takut kepadamu.’ Mereka berkata: ‘Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang alim.’ 

Berkata Ibrahim: ‘Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu kabarkan ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa.’ Ibrahim berkata: ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (Al-Hijr: 51-56)

Orang-orang sesat, yaitu orang-orang yang mendustakan dan jauh dari kebenaran.

Maksudnya, beliau merasa tidak mungkin beroleh anak karena sudah rentanya, bukan karena putus asa dari rahmat Allah

Ingatlah pula bahwa Rasulullah  bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Akan dikabulkan untuk kalian (doa kalian) selama tidak terburu-buru, (dengan mengatakan): ‘Aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan untukku’.” (HR. Al-Bukhari, Kitab Ad-Da’awat dan Muslim Kitab Adz-Dzikri wa Ad-Da’awat)

Karena itu janganlah berputus asa. Teladanilah Al-Khalil . Terlebih lagi pertolongan dan kelapangan itu selalu datang di saat kesulitan dan kesempitan memuncak. Rasulullah  mengingatkan kita dalam sabdanya:

وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Dan ketahuilah bahwa dalam kesabaran terhadap apa yang tidak engkau senangi terdapat kebaikan yang sangat banyak. Ketahuilah pula, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar, kelapangan ada bersama kesempitan/kesulitan, dan bahwasanya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan.” (HR. Ahmad)

Kelahiran Isma’il

Dengan hadirnya Isma’il, serasa lengkap kehidupan rumah tangga Ibrahim Al-Khalil. Hari-hari begitu manis. Setiap ada kesempatan, Ibrahim bermain-main mesra dengan Isma’il hingga suatu ketika terlihat oleh Sarah.

Allah  Maha Tahu.

Ketika melihat rasa cinta kepada sang putra mulai mengambil tempat dalam relung hati Ibrahim, Sang Kekasih cemburu kepada Khalil-Nya bila ada di dalam hatinya tempat untuk ‘kekasih’ lain selain Dia. Maka Allah perintahkan Ibrahim menyembelih putranya, tempat curahan cinta dan kasih sayangnya saat itu. Namun maksud sebenarnya bukanlah menyembelih anak itu, bukan pula sebagai siksaan. Perintah itu tidak lain adalah agar membersihkan relung-relung hati Ibrahim hanya untuk-Nya, tidak untuk ditempati yang lain dan agar (cinta itu) semakin murni hanya untuk Allah.

Di saat seperti itu, Ibrahim  melihat dalam mimpi bahwa dia diperintah untuk menyembelih putranya ini. Perintah melalui mimpi ini pun memiliki suatu hikmah tertentu, yakni agar pelaksanaan perintah itu lebih besar terasa sebagai ujian dan cobaan.

Kita maklumi, ketika itu beliau begitu mengharap kehadiran seorang anak yang akan mewarisinya. Setelah Allah menyenangkannya dengan mengabulkan doanya, anak itupun lahir, tumbuh pesat, Allah  perintahkan dia menyembelih putranya. Dengan perintah ini, kalau dia jalankan, lenyaplah keturunannya, buyarlah harapannya. 

Sungguh, ini ujian yang sangat berat dan sangat manusiawi. Seorang manusia, seusia Nabi Ibrahim , baru dikaruniai Allah  seorang putra setelah bertahun-tahun mendambakannya, kemudian harus menerima kenyataan anak itu lenyap dari pandangannya. Entah meninggal dunia atau hilang dan sebagainya.

Kita ingat, betapa sedihnya Rasulullah , ketika putra beliau Ibrahim dari Maria Al-Qibthiyah meninggal dunia dalam pelukan beliau. Air mata beliau menitik, hatipun berduka.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik , dia menceritakan:

دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ n عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا ِلإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ n تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ z: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ؛ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى. فَقَالَ: إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Kami masuk kepada Abu Saif Al-Qain -suami ibu susu Ibrahim-, lalu Rasulullah  mengambil Ibrahim kemudian menciumnya. Setelah itu kami masuk pula beberapa waktu kemudian, sementara Ibrahim sedang tersengal-sengal nafasnya. Mulailah air mata Rasulullah  menitik. Berkatalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf : “Dan engkau, Wahai Rasulullah (menangis)?” Beliaupun berkata: “Wahai Ibnu Auf, ini adalah rahmat.” Kemudian menyusul yang berikutnya. Lalu Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya mata ini menangis, hati ini berduka, dan kami tidak mengucapkan apa-apa kecuali yang diridhai Rabb kami. Sungguh, kami sangat berduka berpisah denganmu, wahai Ibrahim.

Tapi mimpi tersebut adalah wahyu. Sang Khalil pun menyambut perintah itu dan siap menjalankannya. Akhirnya tampaklah hikmah Allah dengan menguji beliau.

Inilah tafsir firman Allah :

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Ash-Shaffat: 106)2

Allah  berfirman:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.” (Ash-Shaffat: 102)

Demikianlah keimanan seorang ayah yang mulia, yang mengerti betul dia telah bertindak benar dalam mendidik putranya, dan tahu sejauh mana keikhlasan putranya yang berbakti. Maka diapun ingin mengajak putranya bergabung dalam pahala, lalu dia pun bertanya dalam keadaan percaya penuh jawaban sang putra.

Di sini, keduanya menyodorkan kepada kita ujian agung ini dalam beribadah kepada Allah , tunduk kepada perintah-Nya hingga Allah mengabadikan nama mereka berdua serta memuji keduanya dengan ayat-ayat yang terus dibaca selama-lamanya.

Tidak ada ujian yang lebih besar daripada ujian yang dipersaksikan oleh Allah  bahwa itu adalah ujian yang nyata. Yaitu membebani seorang manusia dengan perintah menyembelih putranya sendiri dan membebani yang akan disembelih, agar keduanya beriman dan bersabar, tunduk serta mengharap pahala.

Ketika keduanya siap menjalankan perintah tersebut, dan Allah  mengetahui kejujuran iman keduanya, kesabaran serta ketundukan mereka, Allah ganti sang putra dengan sembelihan agung. Tak sampai di situ, Allah  juga memberi ganjaran kepada sang ayah dengan menganugerahkan kepadanya seorang putra yang lain karena kesabaran dan keridhaannya menyembelih putra satu-satunya, Isma’il .

Allah  berfirman:

Dan Kami sampaikan berita gembira kepadanya dengan (akan lahirnya) Ishaq sebagai Nabi di antara orang-orang shalih.”

Allah  lepaskan mereka berdua karena kesabaran dan ketundukan mereka menghadapi cobaan berat itu.

Huruf fa’ pada ayat:

Maka pikirkanlah apa pendapatmu!

Adalah fa’ al-fashihah, artinya, jika engkau mengetahui hal ini, maka perhatikanlah bagaimana pandanganmu. Adapun pandangan di sini adalah pandangan dengan akal (pendapat), bukan dengan penglihatan (mata).

Maknanya di sini, perhatikanlah sesuatu yang dengannya engkau hadapi perintah ini. Sebab perintah ini, ketika berkaitan dengan pribadi sang anak, maka dia punya bagian dalam pelaksanaan. Sehingga tawaran Ibrahim kepada putranya ini adalah ujian, seberapa jauh ketaatannya menyambut perintah Allah  pada dirinya, sehingga terwujudlah keridhaan dan kesiapan untuk menjalankan perintah. Ibrahim sendiri juga dalam keadaan tidak mengharapkan dari putranya selain menerima. Karena beliau tahu keshalihan putranya.

Artinya di sini, perintah tersebut tergantung kepada dua hal: wahyu dan penyampaian Rasul. Sehingga andaikata Isma’il mendurhakai, tentulah keadaannya seperti putra Nuh yang enggan naik ke dalam kapal ketika diajak oleh ayahandanya Nuh . Jadi, dianggap kafir.

Mimpi sendiri adalah awal permulaan wahyu. Kebenarannya sesuai dengan kebenaran/kejujuran si pemimpi. Orang yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya. Sejalan dengan semakin dekatnya waktu, hampir-hampir mimpi itu tidak pernah meleset. Sebagaimana sabda Nabi . Hal itu karena jauhnya masa dari kenabian dan bekas-bekasnya. Sehingga untuk orang-orang beriman diganti dengan mimpi. Seperti ini juga adalah apa yang muncul sesudah masa sahabat. Sedangkan tidak muncul pada sahabat karena mereka tidak membutuhkan hal itu, disebabkan kekuatan iman mereka.

Mimpi para Nabi adalah wahyu, karena terjaga dari setan. Hal ini berdasarkan kesepakatan umat. Sebab itulah Al-Khalil (Ibrahim ) menyembelih putranya Isma’il , berdasarkan mimpi.

Siapa yang ingin mimpinya benar, hendaklah dia senantiasa berusaha jujur dan bersikap benar, memakan yang halal, dan memerhatikan perintah dan larangan, tidur dengan kesucian sempurna, sambil menghadap kiblat, dan menyebut nama Allah  sampai dikalahkan oleh kantuknya. Kalau sudah demikian, Insya Allah mimpinya tidak akan berdusta.

Dengan ayat dan kisah ini, sebagian ulama ushul fiqih menjadikannya dalil sahnya nasikh (hukum yang menghapus) sebelum terlaksananya perbuatan (yakni hukum yang terhapus). Berbeda dengan sekelompok kaum Mu’tazilah.

Adapun tujuan disyariatkannya mula-mula, adalah meneguhkan Al-Khalil  di atas kesabaran untuk menyembelih anaknya dan tekadnya melakukan hal tersebut. Sebab itulah Allah  berfirman:

Sesungguhnya ini betul-betul ujian yang nyata.

Yakni ujian yang jelas gamblang, di mana Allah  memerintahkannya menyembelih putranya, lalu dia bersegera dalam keadaan tunduk menerima perintah Allah  tersebut dan menaatinya. Sebab itu pula Allah  menyatakan:

Dan Ibrahim yang menepati janji.” (An-Najm: 37)

Tatkala Allah mengetahui tekad dan keyakinan serta kesungguhan Ibrahim menjalankan perintah melalui mimpinya, Allah Yang Maha Pengasih menebus Isma’il  dengan sembelihan yang agung. Nabi Ibrahim  pun sukses dengan gemilang melewati ujian berat ini. Beliau betul-betul mampu mengejawantahkan derajat khullah, rasa cinta yang tidak lagi menerima saingan sekecil apapun. Maka Allah pun menginginkan khullah itu murni hanya untuk Allah , tidak disaingi oleh rasa cinta kasih kepada sang putra ataupun sesuatu yang lainnya.

Maka, jelaslah bahwa di antara sebab paling utama untuk meraih derajat khullah ini adalah senantiasa datang menghadap kepada Allah , menjaga kesucian hati, niat yang lurus, kekuatan kesabaran dan keyakinan.

Lihatlah betapa Allah  mengabulkan doa Ibrahim , dengan menganugerahkan seorang putra untuk beliau. Demikianlah doa yang muncul dari jiwa yang penuh dengan keimanan, ketakwaan, dan hati yang bersih dari hawa nafsu, sangat pantas dikabulkan. Wallahu a’lam.

Oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits
Tulisan ini ditujukan untuk ana dan keluarga. Dibuat dengan cinta. Saran dan nasihat silakan tulis di kolom komentar.

Ada Pertanyaan?




Silakan antum tanyakan ke asatidzah dengan datang saja ke majelis ilmu terdekat, cek lokasinya kajian Info Kajian. Baarakallahu fiikum.
Previous
Next Post »
0 Komentar

Silakan tuliskan komentar, saran dan nasihat antum. Namun tidak semua akan tampilkan.