Let's Change The World By Holding Tauhid And Sunnah

Kami percaya dunia menjadi lebih baik ketika tegak tauhid dan sunnah di bumi ini

Artikel

Mamen bisa dapatkan artikel seputar Islam yang bisa menambah pemahaman kita mengenai Islam.

Audio

Download audio kajian dari asatidz terpercaya agar kita lebih mantap dalam memahami agama ini.

Join Us

Bergabung dengan mamen lainnya di page facebook dan twitter untuk update artikel keren dan artwork awesome.

Puasa 'Asyura

Puasa 'Asyura | al-uyeah.blogspot.com
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala dan senantiasa mengambil pelajaran dari kemenangan-kemenangan yang diraih oleh wali-wali Allah Ta'ala.

Di antaranya adalah kemenangan yang Allah Ta'ala karuniakan kepada Nabi-Nya yaitu Musa 'alaihisalam. Perlu diketahui, bahwa kisah diselamatkannya Musa 'alaihisalam bersama pengikutnya serta ditenggelamkannya Fir’aun dan bala tentaranya, terjadi pada hari yang kesepuluh dari bulan Muharram.

Itulah hari yang kemudian dikenal dengan nama hari ‘Asyura. Hari tersebut merupakan hari yang diberi keutamaan dan dimuliakan sejak dahulu kala. Sehingga Nabi Musa 'alaihisalam berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Ta'ala. Hal ini sebagaimana hadits yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa sahabat ‘Abdullah ibn Abbas radiyallahu'anhum berkata:

"Bahwasanya ketika masuk kota Madinah, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam berkata kepada mereka:

“Ada apa dengan hari ini sehingga kalian berpuasa padanya?”

Mereka mengatakan: “Ini adalah hari yang agung, hari yang Allah selamatkan Musa dan kaumnya padanya serta Allah tenggelamkan Fir’aun dan pasukannya. Maka berpuasalah Musa sebagai bentuk rasa syukur dan kamipun ikut berpuasa padanya.”

Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam berkata: “Kalau demikian, kami lebih berhak dan lebih pantas untuk bersama Musa daripada kalian.” Maka berpuasalah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam pada hari tersebut serta memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan puasa pada hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut, kita dapatkan pelajaran bahwa para nabi adalah orang-orang yang menjadikan kemenangan sebagai sesuatu yang patut disyukuri, yaitu dengan menampakkan bahwa kemenangan datangnya adalah dari Allah Ta'ala.

Dan manusia adalah makhluk yang lemah serta membutuhkan pertolongan Allah Ta'ala sehingga mendorong dirinya untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya. Maka Nabi Musa 'alaihisalam berpuasa pada hari tersebut. Begitu pula nabi kita Muhammad Shallallahu'alaihiwasalam.

Sehingga tidak semestinya hari kemenangan itu justru dijadikan sebagai hari yang dirayakan untuk menampakkan kebanggaan atas kemampuan dan kekuatan bangsanya. Sehingga dirayakan dengan pesta-pesta dan foya-foya. Atau dengan mengadakan acara-acara hiburan serta petunjukan-pertunjukan yang sarat kemaksiatan. Namun semestinya hari tersebut mengingatkan akan kenikmatan Allah Ta'ala sehingga mendorong untuk menjalankan dan menegakkan syariat-Nya.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasalam ditanya tentang puasa ‘Asyura, beliau Shallallahu'alaihiwasalam menjawab:

“Puasa tersebut menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR. Muslim) Namun untuk menghindari keserupaan dengan ibadah orang-orang Yahudi dan Nashara, Nabi kita Shallallahu'alaihiwasalam memerintahkan pada umatnya untuk berpuasa pula pada hari kesembilannya.

Shahih-nya dari sahabat Ibnu ‘Abbas radiyallahu'anhum bahwasanya beliau berkata:

Ketika Rasulullah Shallallahu'alaihiwasalam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa pada hari tersebut, mereka (para sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, hari ini (‘Asyura) adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashara.”

Maka Nabi Shallallahu'alaihiwasalam berkata: “Jika aku menjumpai tahun yang akan datang, insya Allah aku akan berpuasa pula pada hari yang kesembilannya.” Abdullah ibnu ‘Abbas radiyallahu'anhum berkata: “Namun sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah sudah wafat.” (HR. Muslim)

Hadirin rahimakumullah, Dari hadits-hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa kaum muslimin disunnahkan untuk berpuasa pada hari yang  kesembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram, hari yang dikenal dengan Tasu’a dan ‘Asyura. Bahkan sebagian ulama  menyebutkan disyariatkannya pula untuk berpuasa pada hari setelahnya yaitu hari yang kesebelas, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashara. Wallahu a’lam bishshawab.

Mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk melakukan puasa pada hari tersebut, dan mudah-mudahan kita mendapatkan keutamaan yang telah Allah Ta'ala janjikan.

dikutip dari "Keutamaan Hari 'Asyura"
AsySyariah.com

Jika artikel ini bermanfaat, bantu share artikel ini. Lets change the world together mamen!


0 comments:


Silakan tuliskan komentar mamen. Atau kamu bisa inbox mimin di page al uyeah, atau mention di twitter al uyeah